CNBC Insight

Sosok Ini Jadi Guru Spiritual Presiden RI, Ramalannya Tokcer

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Kamis, 23/07/2026 08:30 WIB
Foto: ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Di balik kekuasaan seorang presiden, terkadang ada sosok yang jarang diketahui publik. Bagi Presiden ke-2 RI Soeharto, sosok itu adalah guru spiritual bernama Rama Diyat atau Raden Panji Soediyat Prawirokoesoemo. Kedekatannya dengan orang nomor satu di Indonesia membuat rumah Rama Diyat disebut selalu dijaga kendaraan militer.

Hal tersebut diungkapkan Hakim Agung Adi Andojo Soetjipto yang pernah bertetangga dengan Rama Diyat di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, pada 1970-an. Dalam memoarnya Menyongsong dan Tunaikan Tugas Negara Sampai Akhir, Sebuah Memoar (2007), Adi mengaku kerap melihat kendaraan militer berada di rumah tetangganya itu.

"Di Jalan Sriwijaya itu kami bertetangga dengan penasehat spiritual Presiden Soeharto, yakni Romo Diyat. Nyatanya di rumah Romo Diyat itu selalu ada kendaraan militer yang berada di situ, mungkin kendaraan pengawal," tulis Adi.


Siapa Rama Diyat?

Menurut Ahmad Moestahal dalam Dari Gontor ke Pulau Buru: Memoar H. Achmadi Moestahal (2002), Rama Diyat diangkat Soeharto sebagai asisten pribadi dengan pangkat Brigadir Jenderal Kehormatan.

"Romo P. Sudiat atau lebih sering disebut Romo Lengkung ini diangkat sebagai Spri dengan pangkat Brigjen Kehormatan," tulis Moestahal.

Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa (2013) juga menyebut Rama Diyat merupakan guru spiritual Soeharto. Dia kerap memimpin ritual di Jambe Pitu, Gunung Selok, kawasan Pantai Selatan Jawa. Ricklefs tidak dapat memastikan apakah Soeharto hadir langsung dalam ritual tersebut atau hanya mengirim utusan.

Namun, hubungan Rama Diyat dengan Soeharto ternyata telah terjalin jauh sebelum sang jenderal menjadi presiden.

Menurut Moestahal, Rama Diyat awalnya merupakan seorang kapten tentara yang ikut bertempur dalam Perang Kemerdekaan. Pada 1950, dia memutuskan berhenti dari militer dan mulai mengajarkan ilmu kebatinan. Muridnya berasal dari berbagai kalangan, termasuk Soeharto.

Hubungan keduanya disebut semakin erat ketika Soeharto mengalami masa-masa sulit dalam karier militernya. Salah satunya terjadi pada pertengahan 1965.

Waktu itu, Soeharto merasa kariernya stagnan. Dia kalah pamor dari rekan-rekan seangkatannya dan tak memperoleh jabatan strategis. Saat Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada 1963, dia bahkan berada di bawah komando Omar Dhani yang merupakan juniornya.

"Selain itu, dia juga merasa dikucilkan dari lingkaran dalam Ahmad Yani karena keterbatasan bahasa dan lebih tertutup," ungkap Jusuf Wanandi dalam Shades of Grey: A Political Memoir of Modern Indonesia (2012).

Dalam kondisi tersebut, Soeharto berniat mengundurkan diri dari dinas militer. Surat pengunduran dirinya sudah ditulis. Namun, rencana itu diketahui oleh orang kepercayaannya, Soedjono Hoemardani.

Soedjono kemudian meminta Soeharto membatalkan niat tersebut. Dia mengingat pesan Rama Diyat yang pernah meramalkan Soeharto akan menjadi orang besar.

"Rama Diyat pernah berpesan kepada Soedjono untuk menjaga Soeharto karena telah diramalkan bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi orang besar," tulis Sofjan.

Soeharto pun mengurungkan niatnya. Tak lama kemudian meletus peristiwa G30S 1965. Setelah sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat gugur, Soeharto mengambil alih kendali operasi dan kariernya melesat hingga akhirnya menjadi Presiden ke-2 RI.

Meski memiliki kedudukan istimewa di lingkungan Presiden, tidak banyak catatan resmi mengenai nasihat-nasihat yang diberikan Rama Diyat selama Soeharto memimpin Indonesia. 


(mfa/wur) Add as a preferred
source on Google