Belajar dari Gobel, Pegang Filosofi Hidup Ini Bisa Kaya dan Sukses
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepergian pengusaha nasional Rachmat Gobel menjadi duka bagi dunia usaha Indonesia. Di balik kesuksesan keluarga Gobel membangun kerajaan bisnis elektronik yang kini identik dengan Panasonic, terdapat warisan pemikiran sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel, yang hingga kini masih menjadi pegangan perusahaan.
Warisan itu dikenal sebagai Falsafah Pohon Pisang, sebuah filosofi yang menempatkan perusahaan bukan semata sebagai mesin pencetak keuntungan, melainkan sebagai pihak yang harus memberi manfaat bagi masyarakat. Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan Gobel membangun industri elektronik nasional.
Perjalanan Thayeb Gobel menuju kesuksesan tidak dimulai dari perusahaan besar. Pria asal Gorontalo itu menghabiskan masa mudanya dengan merantau ke Makassar, lalu ke Pulau Jawa. Dia pernah bekerja di Dasaad Musin Concern, Fasco, hingga NV Behring yang bergerak di bidang perakitan radio. Setelah sempat gagal menjalankan bisnis mebel, Gobel memutuskan membangun usahanya sendiri.
Pada pertengahan 1950-an, Gobel bersama sejumlah rekannya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co. Berbekal pinjaman Rp5 juta dari Bank Industri Nasional (BINA), mereka membangun pabrik di Cawang dan memproduksi radio bermerek Tjawang. Kesempatan mengikuti program Colombo Plan kemudian membawanya ke Jepang.
Seperti dicatat Ramadhan KH dalam Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang (1994), di sanalah Gobel bertemu Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co. Pertemuan tersebut menjadi titik balik perjalanan bisnis Gobel. Keduanya kemudian menjalin kerja sama yang berujung pada berdirinya PT National Gobel pada 1970.
Menurut situs Panasonic, perusahaan patungan tersebut dibangun di atas perpaduan Falsafah Pohon Pisang milik Gobel dan Falsafah Air milik Matsushita.
"Gobel menganggap Pohon Pisang sebagai simbol yang tepat untuk peranan perusahaannya di masyarakat. Tak ada bagian dari Pohon Pisang yang terbuang, buahnya dapat dimakan untuk memberikan gizi, sedangkan daun dan bagian lainnya dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan,"ungkap situs perusahaan.
Filosofi tersebut lahir dari keyakinan Gobel bahwa perusahaan harus memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat. Layaknya pohon pisang yang seluruh bagiannya berguna, perusahaan tidak hanya bertugas menghasilkan keuntungan, tetapi juga menciptakan nilai bagi banyak orang.
Pandangan tersebut juga tercermin ketika Gobel bertemu Presiden Sukarno. Saat ditanya mengapa memilih usaha radio transistor, Gobel menjawab, "Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak,"
Jawaban itu menunjukkan sejak awal Gobel memandang industri bukan sekadar alat untuk meraih keuntungan, melainkan sarana menjawab kebutuhan masyarakat. Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu pedoman dalam membangun bisnis yang dirintisnya hingga menjadi sukses dan kaya.
Filosofi itu pula yang diwariskan kepada generasi penerus keluarga Gobel, termasuk Rachmat Gobel. Hingga kini, prinsip membangun perusahaan yang memberi manfaat bagi masyarakat tetap menjadi bagian dari perjalanan Panasonic sebagai salah satu perusahaan elektronik terbesar di Indonesia.
Bagi Thayeb Gobel, keberhasilan sebuah bisnis bukan hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
(mfa) Add
source on Google