CNBC Insight

Orang Belanda Lihat Fenomena Tak Masuk Akal di Gunung Kawi

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 11:45 WIB
Foto: Gunung Kawi. (Detikcom)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Kawi tak hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga seorang warga Belanda yang melakukan pengamatan pada tengah malam 3-4 Januari 1884. Saat itu, dia mengaku menyaksikan fenomena tak masuk akal di Gunung Kawi yang belum pernah dilihatnya sepanjang hidup.

Gunung di hadapannya tampak seolah berdiri dalam "kolom api" dengan puluhan berkas cahaya yang memancar ke langit. Pengalaman tersebut kemudian dia tuliskan dalam sebuah laporan di koran De Oostpost (13 Januari 1884). Waktu itu, warga Belanda yang tak disebutkan namanya tersebut melakukan pengamatan dari jauh terhadap Gunung Kawi.

Namun, sekitar pukul 00.00 hingga 01.00 dini hari, dia tiba-tiba mendengar suara gemuruh samar dari arah Gunung Kawi. Suaranya seperti aliran air sungai, tetapi perlahan terasa berbeda. 


"Segera saya menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang berbeda, karena saya belum pernah mendengar gemuruh seperti itu sebelumnya," tulisnya.

Merasa penasaran, dia terus mengamati Gunung Kawi. Dalam gelap malam, dia melihat lapisan kabut keabu-abuan membentang di atas gunung. Awalnya dia mengira yang terlihat hanyalah kilatan petir. Namun, beberapa saat kemudian muncul pemandangan yang menurutnya jauh lebih mengagetkan.

"Saya tiba-tiba melihat gunung di hadapan saya seolah-olah dalam kolom api, sementara suara dan gemuruhnya sangat keras dan gunung itu diterangi dengan sangat terang," ungkapnya.

Keanehan tidak berhenti sampai di situ. Dia mengaku melihat sekitar 50 berkas cahaya menyebar dari satu titik ke berbagai arah. Menurutnya, fenomena itu berbeda dengan sambaran petir.

"Menurut saya, itu bukanlah sambaran petir, karena sekitar 50 berkas cahaya berputar menyebar secara bersamaan dari titik pusat ke puncak gunung itu, ke segala arah hingga jarak yang luar biasa jauh," ucapnya.

Yang membuatnya semakin heran, cahaya tersebut bertahan lebih dari 30 detik tanpa memudar. Dari sini dia yakin cahaya itu bukan petir. Sebab kalau cahaya petir akan cepat memudar dan tidak terpusat di satu titik. 

Selain berkas cahaya, dia juga melihat percikan-percikan api besar yang berkedip di langit sekitar Gunung Kawi. Baginya, pemandangan malam itu paling mirip dengan pertunjukan kembang api raksasa.

"Saya tidak dapat membandingkan pemandangan ini dengan lebih baik daripada apa yang terjadi pada kembang api, yaitu suara gemuruh yang tiba-tiba muncul dan melontarkan semburan api yang tak terhitung jumlahnya ke atas dan ke samping," ucapnya.

Meski menjadi saksi langsung, dia mengaku tidak mengetahui penyebab fenomena tersebut. Alih-alih mengaitkan dengan cerita mistis, dia menduga peristiwa itu terkait dengan pembakaran gas, fosforesensi, atau gejala kelistrikan.

Lebih dari seabad kemudian, kesaksian tersebut masih menjadi salah satu dokumentasi langka mengenai fenomena alam yang pernah diamati di Gunung Kawi. Terlepas dari apa pun penyebabnya, catatan itu menunjukkan bagaimana gunung yang kini identik dengan wisata spiritual dan kisah-kisah mistis pernah menghadirkan pemandangan yang membuat seorang pengamat Belanda tak mampu menemukan penjelasan.


(mfa/wur) Add as a preferred
source on Google

Related Articles