CNBC INSIGHT

Mal Terbesar Runtuh Gegara Bos Ogah Perbaiki Gedung, 502 Orang Tewas

, CNBC Indonesia
Senin, 29/06/2026 12:00 WIB
Foto: Sampoong Department Store runtuh. (Tangkapan Layar Youtube/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mal terbesar di Korea Selatan, Sampoong Department Store, runtuh hanya karena bosnya tidak mau memperbaiki gedung meski retakan besar sudah muncul di berbagai sudut bangunan. Akibatnya, 1.500 pengunjung terkubur dan 502 orang tewas.

Peristiwa itu terjadi pada 29 Juni 1995 atau tepat hari ini 31 tahun lalu. Mengutip The Guardian, pengelola Sampoong Department Store sebenarnya sudah mengetahui kondisi gedung berada dalam bahaya sejak 3 bulan sebelumnya. Pada April 1995, tanda-tanda kerusakan sudah muncul.

Terlihat jelas retakan panjang di atap dan dinding lantai lima. Namun, alih-alih melakukan pemeriksaan menyeluruh, pihak manajemen hanya memindahkan toko-toko di lantai tersebut ke lantai bawah. Operasional di empat lantai lainnya tetap berjalan seperti biasa.


Puncaknya terjadi pada 29 Juni 1995. Hari itu, retakan semakin melebar dan merembet ke lantai empat. Lagi-lagi, dibanding menutup operasional mal yang sedang ramai, manajemen hanya menutup lantai empat dan mematikan pendingin ruangan di seluruh gedung. Alasannya, mereka tidak mau kehilangan keuntungan dari besarnya transaksi yang berlangsung hari itu.

Ironisnya, setelah tahu ada masalah, sejumlah petinggi manajemen justru memilih meninggalkan gedung. Sedangkan, ribuan pegawai tetap bekerja melayani pengunjung yang terus berdatangan. Mereka tidak mengetahui tingkat kerusakan bangunan dan hanya merasakan suasana semakin panas akibat AC yang dimatikan.

Sampai akhirnya, sekitar pukul 17.50 waktu setempat, suara retakan dan gemuruh mulai terdengar dari dalam gedung. Pengunjung panik dan berlarian menuju pintu keluar. Alarm bahaya dibunyikan, tetapi semuanya sudah terlambat.

"Dari seberang toko terdengar suara seperti kereta bawah tanah memasuki stasiun, dan ketika kami mendengar suara itu, orang-orang mulai berlarian ke sana ke mari. Tiba-tiba sepotong beton jatuh di kepala saya dan saya pingsan," ujar penyintas Park Seung-Hyun, dikutip dari BBC International. 

Tujuh menit kemudian, bangunan tersebut runtuh hanya dalam waktu sekitar 20 detik dan menimbun lebih dari 1.500 orang di bawah reruntuhan. Mengutip situs Britannica, tim penyelamat akhirnya berhasil mengevakuasi 937 korban luka dan menemukan 502 korban meninggal dunia. Enam orang lainnya tidak pernah ditemukan.

Dalam laporan investigasi The Guardian, akar masalah tragedi ini ternyata sudah muncul sejak pembangunan gedung pada 1987. Lahan tempat berdirinya Sampoong merupakan bekas tempat pembuangan sampah yang dinilai tidak cukup stabil untuk menopang pusat perbelanjaan besar.

Kontraktor awal sebenarnya telah memperingatkan risiko pembangunan di atas lahan tersebut dan mengusulkan proyek apartemen dengan struktur beton yang lebih kuat. Namun, pemilik Sampoong, Lee Joon, menolak usulan itu dan tetap memaksa pembangunan pusat perbelanjaan.

Saat kontraktor menolak mengikuti rancangannya karena alasan keselamatan, Lee Joon memilih memecatnya dan menggantinya dengan kontraktor lain yang bersedia menjalankan keinginannya.

Investigasi kemudian menyimpulkan keruntuhan Sampoong disebabkan kombinasi buruknya perencanaan konstruksi dan kelalaian pengelola dalam menjaga keselamatan bangunan. Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Lee Joon dan tujuh tahun penjara kepada putranya, Lee Han-Sang.


(luc) Add as a preferred
source on Google