Presiden RI Tiba-Tiba Panggil Menteri Ekonomi ke Istana Jam 4 Pagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertemuan antara presiden dan menteri di luar jam kerja bukanlah hal yang aneh. Namun, hal berbeda terjadi pada masa pemerintahan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dia diketahui pernah memanggil dadakan menterinya ke Istana pada pukul 04.30 pagi.
Pengalaman itu dialami langsung oleh Rizal Ramli yang pernah membantu Gus Dur di bidang ekonomi dengan menjadi Kepala Bulog, Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Keuangan. Rizal mengaku sempat kesulitan menyesuaikan diri dengan pola kerja Gus Dur yang kerap memulai aktivitas sejak dini hari.
"Terus terang kadang-kadang saya masih sangat ngantuk karena saya tipe orang malam. Tipe yang tidur jam 2 pagi begitu," kata Rizal Ramli kepada Tjipta Lesmana penulis buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa (2012).
Namun, menurut Rizal, ada alasan di balik kebiasaan tersebut. Pagi hari justru merupakan waktu terbaik bagi Gus Dur untuk bekerja dan mengambil keputusan. Atas dasar itu, pertemuan antara presiden dan para menteri di Istana kerap digelar pada pagi-pagi sekali. Pada jam-jam tersebut, Gus Dur disebut berada dalam kondisi paling prima sehingga bisa memberikan arahan dengan cepat.
Sebaliknya, setelah pukul 10 pagi, stamina Gus Dur biasanya mulai menurun sehingga lebih mudah mengantuk. Kondisinya baru kembali segar pada siang hingga malam hari, bahkan bisa bertahan bekerja hingga sekitar pukul 01.00 dini hari.
Menurut pengamat politik Tjipta Lesmana, pola kerja inilah yang kemudian menjelaskan mengapa Presiden ke-4 itu beberapa kali terlihat tertidur saat menghadiri rapat atau kegiatan resmi pada siang hari. Apalagi ketika pembahasannya memasuki persoalan teknis.
"Gus Dur terutama akan cepat tidur ketika rapat menyinggung hal-hal teknis, apalagi yang disertai angka-angka," tulis Tjipta.
Berangkat dari pola kerja dan kebiasaan tidur tersebut, para menteri di era Kabinet Persatuan Nasional akhirnya memahami ritme kerja sang presiden. Mereka tak lagi heran jika sewaktu-waktu dipanggil ke Istana pada dini hari, bahkan sebelum matahari terbit.
Mereka juga memahami ketika Gus Dur sesekali menyerahkan jalannya rapat kabinet kepada Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri saat kondisinya mulai mengantuk.
"Setelah membukanya, Gus Dur sering melontarkan guyon-guyon, memberikan semacam pengantar, kadang disertai marah-marah. Setelah itu ia menyerahkan pimpinan sidang kepada Megawati dan tertidur," ungkap Tjipta Lesmana.
(mfa) Add
source on Google