Lawan Presiden, Orang Terkaya Ini Ditangkap Pasukan Bersenjata
Jakarta, CNBC Indonesia - Memiliki uang miliaran dolar AS ternyata tak membuat seseorang kebal dari kekuasaan negara. Buktinya terjadi di Rusia pada 2003, saat Presiden Rusia, Vladimir Putin, membuat geger dunia dengan menangkap orang terkaya di negaranya sendiri, Mikhail Khodorkovsky, dengan mengirim pasukan elite.
Khodorkovsky merupakan pemilik perusahaan minyak raksasa Yukos dan salah satu simbol lahirnya kelompok oligarki Rusia pasca-runtuhnya Uni Soviet. Pada puncak kejayaannya, dia masuk jajaran orang terkaya dunia. Forbes mencatat kekayaannya mencapai US$ 15 miliar, menempatkannya di antara orang-orang terkaya di planet ini.
Kisah kekayaannya bermula pada 1990-an ketika Rusia melakukan privatisasi besar-besaran setelah Uni Soviet bubar. Dalam proses tersebut, banyak aset negara berpindah ke tangan swasta dengan harga relatif murah. Khodorkovsky termasuk yang paling sukses memanfaatkan peluang itu.
Melalui berbagai akuisisi, dia berhasil menguasai aset-aset minyak strategis dan membangun Yukos menjadi salah satu perusahaan energi terbesar di Rusia. Kesuksesan itu membuatnya menjelma menjadi salah satu oligarki paling berpengaruh di negara tersebut.
Pada masa itu, para oligarki tidak hanya memiliki kekuatan ekonomi, tetapi juga pengaruh politik yang besar. Mereka kerap terlibat dalam pendanaan partai politik dan memiliki akses langsung ke lingkaran kekuasaan.
Situasi mulai berubah ketika Putin naik menjadi Presiden Rusia pada 2000. Menurut The Guardian, dia berupaya memperkuat kembali kendali negara dan membatasi pengaruh para oligarki terhadap kebijakan nasional.
Di tengah perubahan itu, Khodorkovsky justru semakin aktif dalam dunia politik. Dia diketahui mendukung sejumlah partai politik, termasuk kelompok oposisi. Dalam berbagai kesempatan, dia juga secara terbuka mengkritik korupsi dan tata kelola pemerintahan Rusia.
Langkah tersebut membuat hubungannya dengan Kremlin semakin memburuk. Banyak pengamat menilai Khodorkovsky telah melampaui batas tak tertulis yang diterapkan Putin kepada para oligarki. Mereka boleh menjalankan bisnis, tetapi tidak ikut menentukan arah politik negara.
Konflik itu mencapai puncaknya pada 25 Oktober 2003. Saat pesawat pribadi Khodorkovsky singgah untuk mengisi bahan bakar di Novosibirsk, Siberia, aparat keamanan Rusia melakukan operasi penangkapan. Miliarder tersebut langsung dibawa ke Moskow untuk menjalani proses hukum.
Mengutip Al Jazeera, Kremlin menyatakan penangkapan itu dilakukan atas tuduhan penipuan dan penggelapan pajak. Pengadilan kemudian menguatkan tuduhan tersebut dan menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara.
Akibatnya, Yukos dinyatakan bangkrut karena tak mampu membayar kewajiban pajak dalam jumlah besar kepada negara. Aset-aset utamanya kemudian berpindah ke perusahaan energi yang dikendalikan negara.
Meski demikian, banyak pihak memandang peristiwa itu lebih dari sekadar kasus bisnis atau pajak. Khodorkovsky saat itu merupakan salah satu oligarki yang paling vokal mengkritik pemerintah Rusia.
Apa pun tafsirnya, penangkapan Khodorkovsky menjadi titik balik penting dalam sejarah Rusia modern. Mengutip BBC International, sejak saat itu sebagian besar pengusaha besar Rusia memilih menjaga jarak dari aktivitas politik dan menghindari konfrontasi terbuka dengan Kremlin. Bahkan dalam berbagai isu sensitif, termasuk setelah pecahnya Perang Rusia-Ukraina, para oligarki cenderung memilih diam dan tidak terlibat dalam pusaran politik.
(mfa/mfa) Add
source on Google