CNBC Insight

Wapres RI Ini Bilang Hidup Rakyat Lebih Berat dari Era Penjajahan

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
14 June 2026 19:15
Suasana tempat tinggal yang berada di bantaran rel, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Suasana tempat tinggal yang berada di bantaran rel, kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi ekonomi yang memburuk pernah membuat Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta, melontarkan kritik tajam kepada Presiden Soekarno. Bahkan, Hatta menilai penderitaan ekonomi rakyat saat itu lebih berat dibandingkan masa kolonial Belanda maupun pendudukan Jepang.

Penilaian tersebut disampaikan Hatta melalui surat kepada Soekarno pada 17 Juni 1963. Meski sudah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden sejak 1956, Hatta tetap mengikuti perkembangan ekonomi nasional dan mengaku cemas melihat arah perjalanan negara.

"Sebagai seorang yang telah berpuluh-puluh tahun berjuang dan banyak berkorban untuk mencapai Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, saya merasa wajib menulis surat ini. Hati saya cemas melihat kemunduran dalam berbagai bidang," tulis Hatta dalam suratnya, dikutip dari Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta Kepada Presiden Sukarno 1957-1965 (1988).

Kecemasan Hatta bukan tanpa alasan. Menurut catatan Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999), pada masa itu Indonesia menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Inflasi terus meningkat, harga kebutuhan pokok melonjak, dan daya beli masyarakat menurun. Di saat bersamaan, pemerintah tetap menjalankan berbagai proyek mercusuar yang menyedot anggaran besar.

Sebagai ekonom yang sejak awal kemerdekaan terlibat dalam perumusan kebijakan negara, Hatta memandang situasi tersebut sebagai kemerosotan yang sangat serius. Bahkan, dia menyebut kondisi kehidupan rakyat saat itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia.

"Kemerosotan penghidupan rakyat, yang belum ada taranya dalam sejarah Indonesia, lebih dahsyat daripada masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang," tegas Hatta.

Menurut Hatta, akar persoalan terletak pada kebijakan ekonomi yang keliru. Alih-alih mewujudkan cita-cita sosialisme yang kerap dikampanyekan pemerintah, kebijakan yang diterapkan justru membuat beban rakyat semakin berat.

"Pendapatan rakyat makin ditekan, apalagi dengan politik inflasi yang dipercepat, tetapi beban rakyat makin diperbesar," ungkap proklamator itu.

Tak hanya itu, Hatta juga menyoroti munculnya kelompok elite yang hidup mewah di tengah kesulitan ekonomi masyarakat. Kondisi tersebut, menurutnya, memperlebar jurang antara golongan kaya dan miskin.

"Pertentangan kaya dan miskin sangat menyolok mata, belum pernah setajam sekarang ini," tulisnya.

Hatta mengaku ikut merasakan dampak memburuknya kondisi ekonomi. Dari uang pensiunnya yang hanya sebesar Rp5.762, sekitar 70% harus digunakan untuk membayar tagihan listrik. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa arah kebijakan ekonomi saat itu telah melenceng dari tujuan yang dicanangkan pemerintah.

Karena itu, dia melontarkan pertanyaan tajam kepada Soekarno dan para pembantunya.

"Menjadi pertanyaan sekarang bagi banyak orang, mungkin juga bagi segala orang yang menderita dan berpikir: Inikah jalan ke sosialisme? Apakah sosialisme bukan menjadi lip service saja seperti juga dengan Pancasila?"

Surat tersebut kemudian dikenal sebagai salah satu kritik paling keras yang pernah dilontarkan Hatta kepada Soekarno. Beberapa tahun kemudian, krisis ekonomi yang semakin parah turut menjadi salah satu faktor yang melemahkan posisi politik Soekarno hingga akhirnya kehilangan kekuasaan.

(mfa/mfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Eks Wapres Cemas Ekonomi Memburuk, Kritik Keras Presiden RI


Most Popular
Features