CNBC Insight

Geger AS Bom Kedubes China Tengah Malam, 3 Warga Tewas

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Jumat, 08/05/2026 16:30 WIB
Foto: bendera as china

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) ternyata pernah membuat kesalahan militer besar yang berujung petaka diplomatik dengan China. Di tengah perang dan situasi geopolitik yang memanas, pesawat tempur AS menjatuhkan bom ke wilayah ekstrateritorial China, yakni Kedutaan Besar (Kedubes) China di Beograd, Serbia, tepat pada tengah malam. Tiga warga negara China tewas dalam insiden tersebut.

Peristiwa itu terjadi pada 7 Mei 1999, tepat 27 tahun lalu, saat AS dan NATO sedang menggempur Yugoslavia dalam perang Kosovo. Kala itu, Serbia menjadi target serangan udara besar-besaran yang dilakukan hampir setiap malam menggunakan berbagai pesawat tempur modern, termasuk pengebom siluman B-2 Spirit milik Angkatan Udara AS.

Di tengah operasi militer tersebut, bom tiba-tiba menghantam Kedubes China di Beograd. Bangunan kedutaan hancur parah dan terbakar hebat. Ledakan juga merusak sejumlah bangunan di sekitarnya.


Awalnya, serangan itu dikira bagian dari operasi NATO yang menargetkan markas badan persenjataan eks-Yugoslavia di dekat kawasan kedutaan. Fasilitas tersebut dituding menjual teknologi senjata ke negara-negara yang dianggap "nakal" oleh AS. Namun setelah diverifikasi, fakta mengejutkan terungkap. Ternyata target pengeboman salah dan justru menghantam Kedubes China.

Kesalahan itu langsung memicu kemarahan besar dari Beijing. Menurut laporan The Guardian (9 Mei 1999), sekitar 10 ribu warga turun ke jalan dan melakukan aksi protes di depan Kedubes AS dan Inggris di Beijing. Massa menuding NATO sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.

Presiden China saat itu, Jiang Zemin (1993-2003), disebut sangat murka dan mengecam serangan tersebut sebagai tindakan biadab. Gelombang protes juga meluas ke berbagai negara lain yang memiliki komunitas warga China.

Di sisi lain, negara-negara NATO berusaha menjaga jarak dan menyebut serangan tersebut dilakukan langsung oleh militer AS. Tekanan internasional yang terus membesar akhirnya memaksa Washington mengakui kesalahan tersebut.

Dalam laporan CNN International (10 Mei 1999), Presiden Bill Clinton (1993-2001) menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah dan rakyat China. Dia menyebut tragedi itu sebagai kejadian yang seharusnya tidak pernah terjadi dan memerintahkan investigasi menyeluruh.

"Saya meminta maaf dan merasa sedih atas kejadian ini," ujar Clinton.

Hasil investigasi kemudian mengungkap penyebab utama insiden tersebut. Direktur CIA George Tenet menjelaskan pengeboman terjadi akibat kesalahan intelijen. Militer AS disebut menggunakan peta lama tahun 1989 dan 1996 yang belum diverifikasi ulang di lapangan.

"Kesalahan identifikasi awal ini dianggap sebagai fakta," ungkap Tenet, dikutip dari The Guardian.

Akibat kekeliruan itu, tiga warga negara China tewas di tempat. Seluruh korban diketahui merupakan jurnalis. Selain itu, puluhan orang mengalami luka-luka, termasuk sekitar 20 orang yang terluka parah.

Sebagai bentuk tanggung jawab, AS membayar kompensasi sebesar US$4,5 juta kepada keluarga korban dan US$28 juta kepada pemerintah China untuk mengganti kerusakan gedung kedutaan.

Meski demikian, banyak warga China menilai hukuman tersebut tidak sebanding dengan luka yang ditinggalkan. Sebab, pejabat-pejabat yang terlibat hanya dicopot dari jabatan dan tidak dijatuhi hukuman pidana. Bahkan, muncul dugaan di kalangan publik China bahwa serangan itu sebenarnya disengaja sebab terjadi di tengah memanasnya hubungan Beijing dengan AS dan NATO saat perang Kosovo berlangsung.

Atas dasar inilah, kejadian di Beograd menjadi pengganjal hubungan harmonis AS-China. Bahkan beberapa kali diungkit, seperti tahun 2024, oleh Presiden Xi Jinping.

"Warga China menghargai perdamaian, tetapi tidak akan lupa dan membiarkan tragedi itu kembali terulang," kata Jinping, dikutip dari Newsweek.


(mfa/luc) Add as a preferred
source on Google

Related Articles