CNBC Insight

Ini Kakak RA Kartini, Orang Pertama Kuliah di Eropa & Ditolak Negara

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Selasa, 21/04/2026 13:35 WIB
Foto: Wikimedia Commons

Jakarta, CNBC Indonesia - Jauh sebelum tren kuliah ke luar negeri jadi hal biasa seperti sekarang, sudah ada satu tokoh pribumi yang lebih dulu menembus batas itu. Dia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak kandung Raden Ajeng Kartini.

Sosrokartono dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana di luar negeri, tepatnya di Belanda. Namun ironisnya, kecemerlangan intelektualnya justru tak mendapat tempat di tanah kelahirannya sendiri.

Lahir pada 10 April 1877 dari keluarga priyayi, Sosrokartono memanfaatkan status sosialnya untuk mengenyam pendidikan tinggi hingga ke Eropa. Dalam buku Sosrokartono: Sebuah Biografi (1987), dia tercatat pernah menempuh pendidikan di Polytechnische School te Delft dan Universitas Leiden.


Puncaknya, pada 1908 dia lulus dari Leiden dengan gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Timur. Kecerdasannya luar biasa. Dia menguasai puluhan bahasa dari berbagai penjuru dunia. Kemampuan ini membawanya aktif menulis di berbagai surat kabar. Namanya bahkan tercatat dalam dewan redaksi Bintang Timoer, surat kabar yang terbit di Belanda pada 1903 di bawah pimpinan Abdul Rivai.

Kariernya terus menanjak, Sosrokartono kemudian bekerja sebagai wartawan perang, meliput berbagai peristiwa internasional dan menulis untuk media di Belanda hingga Amerika Serikat. Saat Perang Dunia I pecah 1914-1918, dia bahkan dipercaya menjadi juru bicara bagi negara-negara Sekutu.

Keahliannya dalam bahasa membuatnya dijuluki "Si Jenius dari Timur". Tercatat dia menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, hingga puluhan bahasa lainnya.

Dikutip dari Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia (2007), kecemerlangan itu tak berjalan mulus ketika dia kembali ke tanah air. Alih-alih disambut, Sosrokartono justru dijauhi oleh pemerintah Hindia Belanda. Dia dianggap tidak kooperatif karena menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial dan lebih memilih mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Akibatnya, ruang geraknya dipersempit. Dia kesulitan mendapatkan pekerjaan dan kerap menjadi sasaran fitnah. Tekanan yang datang bertubi-tubi perlahan menggerus kondisi fisiknya.

Sejak 1942, kesehatannya terus menurun hingga mengalami kelumpuhan. Kondisinya tak pernah benar-benar pulih.

Pada 8 Februari 1952, setelah bertahun-tahun hidup dalam kepayahan, Raden Mas Panji Sosrokartono wafat dalam usia 74 tahun. Sosok yang pernah dielu-elukan dunia itu pun namanya dilupakan di negara sendiri. 


(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google