CNBC Insight

Sumur Minyak Baru Ditemukan di Depok, Warga Bak Dapat Durian Runtuh

MFakhriansyah & Wiji Nur Hayat, CNBC Indonesia
Minggu, 15/03/2026 16:15 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah hiruk-pikuk perkembangan Kota Depok, Jawa Barat, tak banyak orang mengetahui bahwa kawasan ini pernah dihebohkan oleh penemuan sumber minyak baru. Lokasinya berada di daerah Gandul, yang saat itu masih didominasi permukiman warga dan lahan kosong, serta berada di wilayah administrasi Kabupaten Bogor. 

Peristiwa ini terjadi pada 1973. Berdasarkan laporan harian Abadi (29 Agustus 1973), penemuan tersebut bermula dari survei dan penelitian yang dilakukan oleh Pertamina. Hasil eksplorasi awal menunjukkan di bawah kawasan Gandul terdapat kandungan minyak dan gas bumi.

Temuan itu membuat Pertamina bersiap melakukan langkah lanjutan. Perusahaan pelat merah tersebut berencana membeli lahan warga untuk kepentingan pengembangan proyek energi. Setidaknya sekitar 20 hektare tanah direncanakan akan dibebaskan untuk berbagai kebutuhan pendukung kegiatan eksplorasi.


"Dalam hubungan ini, pemerintah daerah kini tengah mengadakan penyelesaian tanah seluas 20 ha yang diperlukan peruntukkan perumahan, instansi, dan lainnya," ungkap koran Abadi.

Rencana awalnya, penggarapan akan dimulai pada Desember 1973. Namun sebelum proyek benar-benar berjalan, kabar mengenai adanya cadangan minyak di bawah tanah warga lebih dulu menyebar luas. Informasi tersebut membuat harga tanah di kawasan itu melonjak tajam dalam waktu singkat.

Foto: Rifkianto Nugroho
Buih-buih keluar dari air yang berada dari sumur di Kawasan Sawangan, Depok, Kamis (26/12/2024).

Menurut koran Abadi (31 Juli 1973), harga tanah yang semula berada di kisaran Rp450 hingga Rp550 per meter persegi mendadak melambung hingga sekitar Rp2.000 per meter persegi. Lonjakan harga ini tidak lepas dari peran para calo tanah yang memanfaatkan situasi.

"Mereka telah berhasil membujuk rakyat pemilik tanah sebanyak 45 orang," ungkap koran tersebut.

Meski sempat muncul praktik percaloan, Pertamina tetap melanjutkan proses pembelian lahan warga dengan harga yang dianggap wajar. Langkah itu diambil karena perusahaan memiliki target waktu untuk memulai pengeboran pada akhir tahun tersebut. Pada sisi lain, para warga yang lahannya diberi sudah pasti kaya raya mendadak bak dapat durian runtuh.

Namun, ketika tahap eksplorasi lebih lanjut dilakukan pada Desember 1973, hasilnya tidak sesuai harapan. Volume minyak dan gas bumi yang ditemukan ternyata sangat kecil. Jika pengeboran tetap dilanjutkan, biaya operasional diperkirakan jauh lebih besar dibanding potensi keuntungan yang diperoleh.

Atas alasan tersebut, proyek eksploitasi minyak akhirnya tidak diteruskan. Lahan yang telanjur dibeli kemudian dialihkan fungsinya menjadi kompleks perumahan bagi pegawai Pertamina.

Meski demikian, jejak cerita sumur minyak di Gandul dan Sawangan masih dapat ditemukan hingga kini. Dalam laporan Detik.com disebutkan, sumur tersebut masih mengeluarkan buih dan minyak hingga sekarang. Di sekitarnya juga tercium bau belerang yang berasal dari gas yang keluar dari dalam tanah.

Warga setempat menyebut lokasi itu sebagai banyu mudal. Dalam bahasa Jawa, banyu berarti air, sedangkan mudal berarti melimpah. Selain menjadi objek yang menarik perhatian, sebagian orang juga menjadikannya tempat pengobatan alternatif maupun lokasi petilasan untuk memohon rezeki dan jodoh.


(mfa) Add as a preferred
source on Google