CNBC Insight

Kuasai Selat Hormuz, Penguasa Arab Jadi Orang Terkaya di Iran

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 07/03/2026 09:45 WIB
Foto: REUTERS/Nicolas Economou

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kembali dibayangi ancaman "kiamat minyak" setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (1/3/2026) waktu setempat. Situasi ini berisiko mengganggu pasokan energi global karena Iran memiliki "senjata ekonomi" berupa minyak, termasuk kendali strategis atas jalur distribusi vital dunia di Selat Hormuz.

Selat Hormuz memang bukan jalur biasa. Lebarnya hanya sekitar 33 kilometer, tetapi perannya sangat vital. Jalurnya menjadi penghubung utama antara Teluk Persia yang kaya minyak dengan pasar global. Setiap hari, jutaan barel minyak melintasi perairan ini. Atas dasar itu, sedikit saja gangguan bisa memicu gejolak harga energi dunia.


Saat ini, wilayah Selat Hormuz berada dalam pengaruh tiga negara. Bagian utara dikuasai Iran, sedangkan sisi selatan berbatasan dengan Oman dan Uni Emirat Arab. Jika jalur tersebut benar-benar ditutup, dampaknya akan terasa luas, bukan hanya bagi negara produsen, tetapi juga konsumen energi di seluruh dunia.

Namun jauh sebelum menjadi titik panas geopolitik modern, Selat Hormuz pernah berada dalam kendali seorang raja legendaris, yakni Shapur II dari Kekaisaran Sasaniyah. Kini, Kekaisaran Sasaniyah menjadi bagian Iran modern. 

Shapur II naik takhta pada tahun 309 M. Dia dikenal sebagai salah satu raja termuda dalam sejarah dunia. Bahkan, dalam sejumlah catatan disebutkan bahwa dia dinobatkan sebagai raja tak lama setelah lahir.

Di bawah kepemimpinannya, Kekaisaran Sasaniyah berkembang menjadi kekuatan besar di kawasan Arab dan Asia Barat. Mengutip paparan buku Irānshahr and the Downfall of the Sassanid Dynasty (2023), Shapur II berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga Mesopotamia, Armenia, dan seluruh pesisir Teluk Persia melalui strategi militer dan diplomasi yang matang.

Salah satu warisan pentingnya adalah penamaan Selat Hormuz. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu dinamai dari ibunya, Ifra Hormizd, sebagai bentuk penghormatan.

Ekspansi wilayah yang dilakukan Shapur II juga berdampak langsung pada kekuatan ekonomi kekaisaran. Setiap kali menaklukkan daerah baru, dia memindahkan penduduknya untuk dijadikan tenaga kerja di sektor pertambangan dan proyek infrastruktur. Kebijakan ini menjadi salah satu sumber kekayaan negara.

Selain itu, penguasaan atas Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman membuatnya memegang kendali atas pelabuhan-pelabuhan strategis. Dari sana, dia menerapkan sistem perpajakan atas komoditas ekspor-impor seperti sutra, karpet, logam mulia, dan rempah-rempah. Kekaisaran juga menguasai bagian dari Jalur Sutra, rute perdagangan penting yang menghubungkan Asia Barat hingga China.

Dengan kekuatan ekonomi yang luas dan sistem feodal yang berpusat pada raja, Shapur II dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh sekaligus terkaya di dunia Arab kuno. Dia wafat pada tahun 379 M setelah memerintah selama sekitar 70 tahun, menjadikannya salah satu raja dengan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Timur Tengah.

Kekaisaran Sasaniyah kemudian runtuh pada 651 M dan digantikan oleh kekuatan Islam yang kelak membentuk fondasi sejarah Iran modern.


(mfa/mfa) Add as a preferred
source on Google