CNBC Insight

Berkat Punya Tanaman yang Disebut di Al-Qur'an, 12 Keturunan Kaya Raya

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 21/02/2026 12:45 WIB
Foto: Sisingamangaraja XII. (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia — Bukan tambang, minyak, apalagi properti. Kekayaan setara triliunan rupiah ini justru lahir dari kepemilikan tanaman yang namanya disebut langsung dalam Al-Qur'an. Dari komoditas inilah, seorang tokoh asal Tanah Batak membangun kejayaan ekonomi luar biasa di masa lampau.

Sosok tersebut adalah Sisingamangaraja, penguasa Negeri Toba dari Tanah Batak. Namun, Sisingamangaraja bukan satu orang, melainkan gelar turun-temurun dalam satu trah penguasa, dimulai dari Sisingamangaraja I (1530) hingga Sisingamangaraja XII (1876-1907).

Sumber kekayaan keluarga ini berasal dari kapur barus, tanaman yang disebut dalam Al-Qur'an. Dalam Surat Al-Insan ayat 5, air kafur disebut sebagai minuman bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. Kapur barus yang dimaksud bukanlah kapur barus modern berbentuk pewangi sintetis, melainkan tanaman alami bernama Dryobalanops aromatica.


Tanaman ini terkenal sangat wangi, bernilai tinggi, dan pada masa lalu bisa dikonsumsi dan dipercaya memiliki manfaat kesehatan. Keistimewaan lainnya, kapur barus alami sangat langka. Di dunia, tanaman ini hanya ditemukan di tiga wilayah, yakni Sumatra, Malaya, dan Kalimantan.

Kelangkaan inilah yang membuat harganya melambung di pasar global. Permintaan tinggi dari pedagang Arab, Asia, hingga Eropa menjadikan kapur barus sebagai komoditas elit bernilai emas. Siapa yang menguasai sumbernya, otomatis menguasai kekayaan besar.

Di Sumatra, kekuasaan itu berada di tangan keluarga Sisingamangaraja.

Sejak abad ke-16, trah Sisingamangaraja sudah aktif memperdagangkan kapur barus ke jaringan dagang internasional. Dalam buku Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII (1988), Augustin Sibarani mencatat sejak Sisingamangaraja I berkuasa pada 1530, kapur barus dari Tanah Batak sudah diperdagangkan kepada pedagang Arab dan Eropa untuk dipasarkan ke berbagai belahan dunia.

Awalnya hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi perlahan berkembang menjadi monopoli perdagangan kapur barus di Sumatra Utara. Dari sinilah kekayaan besar keluarga Sisingamangaraja mulai terakumulasi.

Kekayaan tersebut tidak disimpan dalam bentuk tanah atau bangunan, melainkan dalam emas, berlian, dan batu mulia. Tradisi menimbun logam mulia menjadi ciri khas trah ini selama berabad-abad.

"Raja-raja Sisingamangaraja dari mulai yang ke-1 hingga ke-10, semuanya suka mengumpulkan Blue Diamonds dari Ceylon. Lalu juga intan-intan Ceylon yang dibawa dari India melalui Barus. Intan-intan Ceylon ini besarnya seperti telur burung," tulis Augustin Sibarani.

Skala kekayaan itu baru benar-benar terlihat saat terjadi serangan besar ke Tanah Batak pada 1818 dalam konflik dengan kelompok Padri. Dalam buku Tuanku Rao (1964) karya Mangaraja Onggang Parlindungan, disebutkan harta rampasan Sisingamangaraja diangkut menggunakan 17 ekor kuda, masing-masing membawa sekitar 60 kilogram emas.

Jika ditotal, jumlahnya mencapai sekitar 1 ton emas. Dengan harga emas saat ini, nilai tersebut setara sekitar Rp2,3 triliun. Itu pun belum termasuk simpanan emas dan perhiasan lain yang sempat disembunyikan saat serangan terjadi.

Namun, kejayaan ekonomi ini mulai runtuh ketika kolonialisme Belanda masuk ke Tanah Batak. Jalur dagang kapur barus perlahan dikuasai penjajah, monopoli runtuh, dan kekuatan ekonomi keluarga Sisingamangaraja melemah. Pada masa Sisingamangaraja XII, kekayaan trah ini tak lagi sebesar para pendahulunya.

Semua berakhir ketika Sisingamangaraja XII gugur dalam perlawanan terhadap Belanda. Bersamaan dengan itu, jejak kekayaan legendaris yang dibangun dari perdagangan tanaman kapur barus pun ikut menghilang dalam sejarah.

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini dengan relevansinnya pada masa lalu.

(mfa/mfa)

Related Articles