Epstein Tiru Hitler Bangun "Pabrik Bayi" Hasilkan Manusia Unggul
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah fakta baru mencuat dari dokumen-dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) terkait kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Salah satu temuan adalah obsesinya membangun apa yang disebut sebagai "pabrik bayi" atau gagasan ekstrem untuk menciptakan manusia dengan kualitas tertentu melalui rekayasa genetika, teknologi reproduksi, bahkan kecerdasan buatan.
Mengutip The Guardian, Epstein disebut ingin menghasilkan generasi manusia baru yang memiliki DNA miliknya sendiri. Rencana itu diduga akan dijalankan dengan cara menghamili sejumlah perempuan di sebuah peternakan miliknya di New Mexico. Gagasan tersebut menempatkan tubuh perempuan semata sebagai alat reproduksi, sekaligus menghapus sepenuhnya unsur persetujuan yang setara.
Ide Epstein sebenarnya bukan sesuatu hal baru. Hal serupa pernah dijalankan secara sistematis oleh Jerman pada era Nazi di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Dalam kasus ini, obsesi terhadap "manusia unggul" bukan sekadar wacana, melainkan kebijakan negara yang berdampak nyata dan brutal.
Menurut
Dalam riset ""Hitler and 'Lebensraum' in The East", tujuan Lebensborn sejalan dengan pandangan Hitler bahwa ras Arya, yang dilekatkan pada orang-orang Jerman, dianggap lebih tinggi dan superior dibanding ras lain, khususnya penduduk Eropa Timur seperti Polandia. Ideologi ini menganggap manusia tidak setara sejak lahir.
Sifat-sifat seperti kesetiaan, keberanian, dan kecerdasan diyakini bisa "diproduksi" lewat perkembangbiakan selektif. Artinya dalam pandangan Hitler, manusia hanya sebatas komoditas biologis.
Mengutip paparan Master race: the Lebensborn experiment in Nazi Germany (1995) pada tahap awal, program Lebensborn diarahkan untuk memperbanyak keturunan anggota SS. Heinrich Himmler meyakini anggota SS merupakan elite biologis bangsa Jerman yang harus menjadi sumber lahirnya generasi masa depan. Atas dasar itu, mereka didorong untuk memiliki sebanyak mungkin anak, tetapi bukan sebagai pilihan pribadi, melainkan sebagai bagian dari tugas ideologis.
Dalam logika Nazi, semakin banyak anak yang lahir dari darah "terpilih", semakin besar peluang terciptanya generasi yang dianggap unggul secara rasial. Dari alasan ini, pelaksanaannya pun sangat ketat. Perempuan dan laki-laki yang terlibat diwajibkan membuktikan garis keturunan "Arya" hingga beberapa generasi. Riwayat kesehatan pribadi dan keluarga disaring secara menyeluruh. Siapa pun yang dianggap memiliki cacat fisik, mental, atau riwayat gangguan kejiwaan otomatis tersingkir.
Selain itu, Lebensborn juga menyasar perempuan "Arya" yang hamil di luar nikah dengan janji bantuan finansial dan layanan adopsi. Namun seiring berjalannya waktu, para perempuan tersebut perlahan kehilangan kendali atas anak-anak mereka sendiri. Dalam banyak kasus, negara mengambil alih perwalian dan menentukan masa depan anak tersebut. Bahkan terdapat praktik pemaksaan kehamilan dari laki-laki yang telah diseleksi dan dianggap memiliki "kualitas rasial" sesuai standar Nazi.
Memasuki fase Perang Dunia II, Lebensborn berkembang menjadi jauh lebih brutal. Anak-anak dari wilayah pendudukan Nazi diculik dan dipisahkan secara paksa dari orang tuanya. Mereka kemudian diuji berdasarkan kriteria rasial. Anak-anak yang dianggap memenuhi standar "Arya" akan "dijermanisasi". Mereka akan berganti nama, bahasa dan identitas asli, serta dipaksa tumbuh sebagai warga Jerman. Sementara itu, mereka yang tidak lolos seleksi kerap dikirim ke kamp atau dibiarkan mati.
Sampai akhirnya, program ini berakhir seiring keruntuhan Hitler dan berakhir Perang Dunia II. Meski begitu, program ini membuat satu generasi anak-anak terputus dari keluarganya sendiri. Tercatat ada 10.000 anak hasil Lebensborn yang bernasib malang.
(mfa/sef)