CNBC Insight

Cerita WNI Gabung Tentara AS, Ungkap Latihan Disiksa Bak Masuk Neraka

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
31 January 2026 18:03
Tentara AS dan Korea Selatan mengambil bagian dalam latihan penyeberangan sungai gabungan AS-Korea Selatan, yang merupakan bagian dari latihan militer gabungan tahunan Freedom Shield, di Yeoju, Korea Selatan, 27 Agustus 2025. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Foto: Tentara AS dan Korea Selatan mengambil bagian dalam latihan penyeberangan sungai gabungan AS-Korea Selatan, yang merupakan bagian dari latihan militer gabungan tahunan Freedom Shield, di Yeoju, Korea Selatan, 27 Agustus 2025. (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi tentara negara lain bukan hal baru dalam sejarah. Soal ini, ada satu kisah dari Sudirman Boender yang tercatat tak hanya sukses menjadi tentara Amerika Serikat (AS), tetapi juga tergabung dalam pasukan khususnya yang kelak menjadi cikal bakal NAVY SEAL.

Orang kerap membayangkan menjadi tentara AS sebagai pekerjaan yang prestisius dan nyaman. Namun, dari kisah Boender terungkap realitas sebaliknya. Selama menjalani dinas militer, dia menghadapi latihan yang menyiksa, bahkan berulang kali berada di ambang kematian.

Bagaimana kisahnya?

Boender lahir di Yogyakarta pada 12 Februari 1920. Jalan hidupnya berubah drastis sejak usia belasan tahun ketika dia diusir dari rumah. Dia kemudian kabur ke Jakarta dan di sanalah takdir mempertemukannya dengan seorang warga negara AS bernama Bowen. Orang inilah yang kelak membiayai pendidikannya hingga ke jenjang kedokteran di California pada awal 1940-an.

Saat itu, Boender hanya ingin belajar dan memperbaiki nasib. Namun, dunia keburu berubah. Pada September 1942, Jepang menyerang pangkalan laut AS di Pearl Harbor. AS pun menyatakan perang dan membuka perang besar di Pasifik.

Pemerintah AS lalu memberlakukan wajib militer secara luas. Tak hanya warga negaranya, semua pria dewasa yang sehat, tanpa memandang kewarganegaraan, wajib masuk militer. Di sinilah, kehidupannya mulai berubah. 

"Kejatuhan Asia Tenggara menggawatkan kami. Wajib dinas militer menjadi perintah serius. Semua pria dewasa yang sehat jasmani dan rohani harus masuk militer, tanpa memandang kewarganegaraan atau asal-usulnya. Barang siapa yang menolak, akan dipenjarakan tanpa diadili untuk jangka waktu yang tak diketahui," ungkap Boender dalam memoarnya berjudul Terhempas Prahara ke Pasifik: Kenangan Seorang Prajurit Bekas Anggota The Rainbow Division (1982).

Boender mengaku ketakutan. Namun, dia tak punya pilihan. Dia dipanggil, dikumpulkan, lalu dibawa dari tempat tinggalnya ke sebuah lokasi terpencil. Di sanalah, kehidupannya jungkir balik. Dari mahasiswa kedokteran yang santai, dia berubah menjadi rekrutan militer yang hidup di bawah teror disiplin.

Tempat itu, dalam ingatan Boender, tak lain adalah "tempat jahanam".

Hari-harinya diisi latihan tanpa ampun. Bangun pagi buta, latihan menembak, berlari, dan mempelajari berbagai taktik tempur. Hukuman fisik menjadi makanan sehari-hari. Cacian, tamparan, hingga dijemur di bawah terik matahari dilakukan nyaris tanpa henti. Dari pagi hingga malam, selama dua sampai tiga bulan.

"Bentar, caci dan nista menjadi bunga-bunga bahasa dalam pergaulan di tempat jahanam (red, neraka) ini," kenang Boender.

Setelah fase awal pelatihan, pimpinan menyeleksi 200 orang terbaik seleksi untuk tahap lanjutan. Boender lolos. Namun, penderitaan justru meningkat. Pelatih semakin galak, jadwal semakin padat, dan hampir tak ada waktu istirahat. Berbagai senjata dan alat tempur dicoba, termasuk tank.

Hukuman pun tak lagi sekadar fisik ringan.

"Jenis hukuman bukan lagi tempeleng dan tentang, tapi sudah meningkat ke melemparkan orang ke laut," ungkap Boender.

Dari latihan ini, pelatih menyeleksi 20 orang untuk bergabung dengan Underwater Demolition Team (UDT). Pasukan ini disiapkan untuk operasi khusus bawah air. Alias jadi tugas paling berbahaya dalam perang laut. Menurut situs NAVY SEAL Museum, UDT menjadi cikal bakal pasukan elit AS, NAVY SEAL.

Boender sebenarnya tak ingin bergabung. Namun, lagi-lagi dia lolos. Tanpa banyak pilihan, dia langsung dikirim ke Samudera Pasifik untuk menjalani latihan ekstrem.

"Latihannya? Tobaaaat! Tempat berlatihnya di samudera pasifik yang amat dalam. Kalau latihan gabungan sudah hampir tak tertahankan, maka latihan UDT ini sepuluh kali lebih berat dari itu. Bahwa di antara kali tak ada yang tewas atau cedera karena lupa atau salah melakukan instruksi, atau gugup saat terakhir, berkat Tuhan jualah yang menyertai kami," kenang Boender.

Latihan bawah air itu mempertaruhkan nyawa. Sedikit saja salah gerak, terlambat bernapas, atau panik, kematian sudah menunggu. Namun, Boender berhasil bertahan. Dia lulus dan dinyatakan siap tempur.

Tak hanya itu, dia bahkan dipercaya menjadi komandan peleton. Boender dikirim ke medan perang Asia-Pasifik untuk menghadapi Jepang. Di sanalah, dia berkali-kali berhadapan langsung dengan maut. 

Namun, nasib masih berpihak. Boender selamat dari perang. Dia akhirnya kembali ke Indonesia. Beragam sumber menyebut dia turut andil dalam membangun Komando Pasukan Sandi Yudha alias cikal bakal Kopassus.

(mfa/wur)

Most Popular
Features