CNBC Insight

Di Tengah Isu Kudeta, Pesawat Jenderal China Jatuh Misterius

mfa,  CNBC Indonesia
26 January 2026 15:30
Jet tempur India jatuh di Dubai. (Reuters TV)
Foto: Ilustrasi (Reuters TV)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping kembali mengguncang tubuh militer negaranya. Sejumlah elite Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) disingkirkan dengan tuduhan pelanggaran berat disiplin dan hukum.

Paling mengejutkan, tentara kepercayaan Xi, Jenderal Zhang Youxia, ikut terseret dalam pusaran pembersihan tersebut. Dengan tersingkirnya sejumlah petinggi, struktur pucuk militer China kini menyisakan sangat sedikit jenderal aktif. 

Situasi ini pun memicu spekulasi luas. Termasuk dugaan adanya kudeta sunyi di tubuh militer China.

Namun jika menengok sejarah Republik Rakyat China, dugaan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan pola masa lalu. China nyaris tak pernah mengalami kudeta militer terbuka.

Dalam sejarahnya, hanya satu sosok yang kerap disebut-sebut- setidaknya menurut versi resmi pemerintah- pernah berniat menggulingkan pemimpin tertinggi. Sosok itu adalah Lin Biao.

Menurut riset "The Lin Biao Incident: More Than Twenty Years Later" (1993), Lin Biao bukan jenderal biasa. Sebagai Menteri Pertahanan, dia menjadi tokoh sentral dalam menyusun pengkultusan Mao Zedong melalui pendistribusian "Buku Merah Kecil" ke seluruh prajurit militer dan masyarakat luas.

Dampaknya sangat besar. Jutaan warga China mengagungkan Mao sebagai simbol revolusi yang secara tidak langsung memperpanjang dan mengokohkan kekuasaannya.

Sebagai imbalan atas peran tersebut, Lin diangkat menjadi Wakil Ketua Pertama Partai Komunis China. Posisi ini menjadikannya orang nomor dua setelah Mao sekaligus penerus resmi kekuasaan.

Selama bertahun-tahun, Lin hampir tak pernah jauh dari Mao dan memimpin berbagai inisiatif utama Revolusi Kebudayaan. Puncaknya terjadi pada 1969, ketika Mao secara resmi memperkenalkan Lin sebagai penerus suksesi kepemimpinan.

Jika Mao mangkat, Lin-lah yang akan menjadi orang nomor satu di China. Namun dua tahun berselang, hubungan keduanya justru memburuk.

Menurut situs The China Project, Lin semakin khawatir Revolusi Kebudayaan merusak stabilitas dan profesionalisme militer. Kritik ini ditanggapi dingin oleh Mao yang mulai mencurigai Lin menyimpan ambisi politik.

Mao bahkan secara terbuka menuding Lin telah melakukan "kesalahan politik" lewat rancangan kudeta dengan sandi "Project 571". Rencana tersebut mencakup berbagai skenario ekstrem.

Mulai dari meledakkan kereta pribadi Mao, melakukan penyergapan, hingga pembunuhan tunggal. Jika Mao tewas, Lin disebut berencana mengambil alih kepemimpinan China dan memindahkan pusat kekuasaan ke Guangzhou untuk menyelesaikan konsolidasi politik.

Pemerintah China mengklaim telah menggagalkan rencana tersebut dan baru mengungkap ke publik kejadian ini pada 1980-an. Ketika tuduhan ini mencuat, Lin sendiri membantah tuduhan kudeta. Namun di tengah tekanan politik yang kian menutup ruang gerak, dia memilih melarikan diri.

Pada 13 September 1971, Lin Biao, istrinya Ye Qun, dan putranya kabur menggunakan pesawat menuju Uni Soviet. Sayang, pesawat itu tak pernah tiba di tujuan.

Beberapa menit setelah lepas landas, pesawat jatuh di wilayah Mongolia dan menewaskan seluruh penumpang. Otoritas terkait menyebut jatuhnya pesawat disebabkan oleh kehabisan bahan bakar.

Meski begitu, banyak orang percaya kejadian tidak terjadi secara kebetulan. Apalagi, tak diketahui lebih lanjut teknis jatuhnya pesawat, sehingga memunculkan berbagai spekulasi hingga kini.

Namun, berkat kejadian ini, pemerintah China memegang satu prinsip yang meminimalisir kejadian kudeta. Yakni menjaga militer tidak boleh lebih kuat dari partai. 

(mfa/sef)


Most Popular
Features