Sosok Ini Berhasil Atasi Banjir Jakarta, Warga Tak Perlu Takut Hujan
Jakarta, CNBC Indonesia - Banjir merupakan masalah menahun di Jakarta yang seolah tak pernah benar-benar terselesaikan. Catatan sejarah menunjukkan, banjir besar pertama kali melanda Jakarta (dulu Batavia) pada 1621. Sejak saat itu, hampir setiap rezim penguasa kota ini mewarisi persoalan serupa. Air meluap setiap musim hujan, sementara solusi selalu terasa setengah jalan.
Namun, dalam sejarah panjang tersebut, ada satu sosok yang pernah berhasil membuat Jakarta nyaris bebas banjir. Dia adalah Hendrik van Breen, insinyur asal Belanda yang menjadi arsitek utama sistem pengendalian banjir modern pertama di ibu kota.
Van Breen lahir di Amsterdam pada 28 Mei 1881. Dia menempuh pendidikan teknik sipil di Polytechnische School Delft sebelum bergabung dengan Burgerlijke Openbare Werken (BOW), dinas pekerjaan umum pemerintah kolonial Hindia Belanda. Penugasan awalnya ditempatkan di Jember, sebelum kariernya melesat cepat.
Pada 1911, van Breen dipanggil ke Batavia dan dipercaya menjabat Kepala Kantor Pengairan. Tantangan yang dihadapinya jelas, yakni mengendalikan banjir yang selama ratusan tahun tak pernah bisa ditaklukkan.
Foto: Kondisi aliran Kanal Banjir Timur (KBT) yang surut di kawasan Cakung, Jakarta, Senin (28/8/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Kondisi aliran Kanal Banjir Timur (KBT) yang surut di kawasan Cakung, Jakarta, Senin (28/8/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) |
Sejarawan Restu Gunawan dalam Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta Dari Masa ke Masa (2010) mencatat, satu kesadaran penting yang langsung dimiliki van Breen adalah pemikiran kalau banjir Jakarta tidak semata disebabkan hujan lokal. Air kiriman dari Sungai Ciliwung yang berhulu di Bogor justru menjadi faktor penentu. Karena itu, air dari hulu harus berhenti terlebih dahulu sebelum masuk kota.
Dari pemikiran itulah lahir gagasan pembangunan Bendung Katulampa. Awalnya bersifat sementara, bendung ini kemudian dirancang permanen. Pada 10 April 1911, BOW mengajukan proposal pembangunan dengan anggaran 66.200 gulden dan disetujui pemerintah kolonial hanya tiga hari berselang. Bendungan tersebut dibangun dari plesteran semen dan dilengkapi jembatan di atasnya.
Keberadaan Katulampa membuat banjir kiriman dari Bogor dapat dikendalikan. Namun, ujian sesungguhnya datang tujuh tahun kemudian. Jakarta diguyur hujan lebat selama dua bulan berturut-turut. Sungai Ciliwung meluap, kawasan-kawasan vital terendam, dan roda ekonomi pun lumpuh.
Bencana besar 1918 itu memaksa pemerintah kolonial mengambil langkah lebih radikal. Dalam rapat Dewan Kota pada 18 Februari 1918, diputuskan percepatan pembangunan kanal banjir. BOW pun mengajukan anggaran besar, mencapai 500 ribu gulden.
Van Breen memiliki konsep sederhana namun visioner. Seperti dikutip Restu Gunawan dalam buku yang sama, air dari hulu tidak boleh seluruhnya masuk kota. Volume dan debitnya harus dibatasi dengan cara dialihkan ke pinggiran sebelum bermuara ke laut, sekaligus menampung limpasan dari hujan lokal.
Dari konsep itulah Banjir Kanal Barat dibangun. Kanal ini membentang dari Manggarai ke arah barat hingga Karet, lalu berbelok ke utara dan bermuara di Muara Angke. Proyek tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 1912 dan dipimpin langsung oleh van Breen.
Tak berhenti di situ, van Breen juga menginisiasi pembangunan Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Matraman, melakukan normalisasi Kali Sunter serta Kali Cideng, hingga merancang kanal di sisi timur kota-yang kelak menjadi embrio Banjir Kanal Timur. Meski demikian, proyek Banjir Kanal Timur baru benar-benar digarap serius setelah Indonesia merdeka.
Berkat rangkaian proyek itu, banjir Jakarta sempat berhasil dikendalikan dan nyaris menghilang. Namun, keberhasilan tersebut tidak berlangsung lama. Pertumbuhan kota yang masif, perubahan tata ruang, dan tekanan penduduk membuat banjir kembali menjadi langganan.
Meski demikian, lebih dari seabad berselang, infrastruktur rancangan Hendrik van Breen masih menjadi tulang punggung sistem pengendalian banjir Jakarta. Sosoknya pun tercatat sebagai satu-satunya tokoh dalam sejarah yang pernah membuat ibu kota benar-benar "bernapas" dari banjir, meski hanya untuk sementara waktu.
(mfa/wur)
Foto: Kondisi aliran Kanal Banjir Timur (KBT) yang surut di kawasan Cakung, Jakarta, Senin (28/8/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)