CNBC Insight

Pejabat RI Akui Terima Jimat dari Dukun demi Kerja Lancar

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
27 January 2026 15:40
Ilustrasi dukup perempuan
Foto: Getty Images/iStockphoto/Oleksandr Shevchenko

Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah mistis kerap menjadi bumbu tersembunyi dalam sejarah politik Indonesia. Salah satunya datang dari pengakuan Mohammad Roem, tokoh penting diplomasi Indonesia, yang pernah "dibekali" jimat agar kerjanya sukses saat menghadapi perundingan krusial dengan Belanda.

Peristiwa itu terjadi pada masa Perjanjian Renville tahun 1948. Saat itu, Roem dipercaya memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda.

Namun, diplomasi berjalan sangat alot. Belanda dinilai enggan memenuhi empat poin utama Perjanjian Renville. Mulai dari pengakuan kemerdekaan Indonesia, kerja sama kedua negara, pengakuan kedaulatan, hingga pembentukan Uni Indonesia-Belanda. Bahkan, Belanda melanggar gencatan senjata dengan melakukan penyerangan ke beberapa daerah.

Di tengah kebuntuan itu, Roem dipanggil Presiden Soekarno ke Istana. Dalam pertemuan singkat, Soekarno mengakui perundingan berjalan tersendat dan meminta Roem tetap berani berdebat, tak gentar menghadapi delegasi Belanda.

"Saya pandang saudara harus diperkuat jiwanya. Saudara ketua delegasi. Kalau jiwa saudara diperkuat, itu akan meliputi seluruh delegasi," ujar Soekarno, seperti dikenang Roem dikutip dari Bunga Rampai Dari Sejarah I (1971).

Usai pertemuan tersebut, Soekarno meminta Roem menemui Jenderal Soedirman di Yogyakarta, yang kala itu menjadi pusat pemerintahan Republik. Di kediaman Soedirman, Roem disambut bersama seorang pemuda yang tak dikenalnya.

Mohammad Roem. (Dok. Muhammadiyah)Foto: Mohammad Roem. (Dok. Muhammadiyah)
Mohammad Roem. (Dok. Muhammadiyah)

Soedirman lalu memperkenalkan pemuda itu sebagai seorang dukun sakti yang dikenal sebagai penyembuh orang sakit. Roem lantas mulai heran.  Dia secara fisik sehat-sehat saja. Namun, akhirnya dia paham dukun itu datang untuk mengobati moral untuk memperkuat argumen melawan Belanda.

Soedirman yakin akan lebih baik bila kekuatan itu "diperkuat" secara batin. Bentuk penguatannya adalah sebuah jimat, yakni lipatan kertas kecil yang diikat dengan benang putih.

Roem menerima jimat tersebut dan menyimpannya di saku celana dan berjanji akan menjaganya baik-baik. Tak seorang pun tahu, bahkan orang terdekatnya. Dari hati kecilnya, dia sebenarnya tidak percaya atas jimat-jimat seperti itu. Dilansir dari buku Mohamad Roem: karier politik dan perjuangannya, 1924-1968 (2002), Roem sejak kecil tak mempercayai jimat dan lebih percaya kekuatan Tuhan. 

Namun, dia tetap menyimpan itu untuk menghargai Soekarno dan Soedirman.  Hingga suatu hari, jimat tersebut benar-benar hilang dan justru membuatnya merasa lega. Tanpa disadari, jimat itu tertinggal di saku celana yang kemudian dicuci oleh istrinya. Saat diperiksa, jimat tersebut telah hancur menjadi serpihan.

Sempat terlintas keinginan untuk meminta jimat pengganti, tetapi niat itu segera dia urungkan.

"Pikiran itu saya kesampingkan karena tidak sesuai dengan pandangan hidup saya," kenangnya.

Sejak saat itulah, Roem lega karena jimatnya bisa hilang dengan sendirinya. Toh, tanpa jimat itupun, Roem berhasil memimpin diplomasi Indonesia melawan Belanda. 

(mfa/wur)
Next Article Heboh Kasus Penipuan Terbesar, Korbannya Presiden RI & Banyak Pejabat


Most Popular
Features