CNBC Insight

Hujan Bawa Berkah, Sosok Ini Jadi Miliarder dari Jualan Jas Hujan

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 10:05 WIB
Foto: Ilustrasi penjual jas hujan. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Air hujan yang jatuh dari langit kerap dianggap sekadar pengganggu aktivitas. Namun bagi Charles Macintosh, hujan justru menjadi berkah yang melahirkan jas hujan dan mengubahnya menjadi sosok superkaya.

Tahun 1823, ahli kimia asal Skotlandia itu memperkenalkan jas hujan modern di dunia kepada publik. Menurut The Encyclopedia of the Industrial Revolution in World (2014), penemuan jas hujan bermula dari serangkaian eksperimen yang dilakukan Macintosh menggunakan tar dan naphtha.

Dari percobaan tersebut, dia menemukan cara membuat kain yang tidak tembus air dengan menambahkan lapisan karet alam. Dua lapis kain tebal disatukan menggunakan karet, sehingga menghasilkan bahan tekstil yang mampu menahan air hujan secara efektif.


Meski terkesan revolusioner, upaya Macintosh sejatinya bukan hal yang sepenuhnya baru. Mengutip situs History, sejak sekitar 1600 SM manusia telah berupaya melindungi tubuh dari hujan dengan memanfaatkan resin dari karet dan kulit hewan. Namun, perbedaan utama terletak pada daya tahan. Inovasi Macintosh terbukti lebih awet karena menggunakan campuran bahan lain yang membuat kain tidak mudah rusak

Melihat potensi temuannya, Macintosh mematenkan jas hujan tersebut pada 1823. Dia kemudian mendirikan perusahaan dan memasarkan produknya dengan merek Mackintosh. Dari sinilah jas hujan mulai diproduksi secara komersial untuk mendulang keuntungan.

Namun, perjalanan bisnis itu tak langsung mulus. Produk awal jas hujan Mackintosh memiliki sejumlah kelemahan. Mulai dari bau menyengat, bahan yang kaku, hingga mudah rusak akibat minyak alami tubuh dan cuaca panas. Kondisi ini membuat banyak penjahit enggan menggunakan kain tersebut dan tidak tertarik memproduksinya.

Macintosh tak menyerah. Dia terus melakukan perbaikan, salah satunya dengan menambahkan lapisan wol di bagian dalam dan kain tahan air di bagian luar. Perubahan ini membuat jas hujan ciptaannya lebih nyaman dipakai dan lebih diminati pasar.

Awalnya, jas hujan Mackintosh banyak digunakan untuk kepentingan militer. Seiring waktu, penggunaannya meluas ke masyarakat umum. Macintosh pun terus berinovasi dengan membuat bahan yang lebih ringan, lebih lentur, dan tidak terlalu berbau. 

Penyempurnaan tersebut perlahan mengubah pandangan publik. Mantel Mackintosh tidak lagi dipandang sekadar pakaian fungsional, tetapi juga menjadi simbol status sosial. Seseorang dianggap sukses jika menggunakan jas hujan Mackintosh. Pada titik ini, kekayaan Macintosh pun terus bertambah hingga dia kerap disebut sebagai miliarder pada masanya.

Situs Celebrity Net Worth mengestimasikan total harta Macintosh mencapai sekitar US$9 juta pada 1843 atau menjelang akhir hayatnya. Menurut koran de Locomotief (8 Agustus 1930), dari upaya penemuan ini keturunan Macintosh tinggal di kastil mewah di Skotlandia. 

Kesuksesan jas hujan Mackintosh lantas menjadi inspirasi bagi orang lain berbisnis barang serupa. Hingga akhirnya, produk jas hujan terus menjamur di masyarakat hingga sampai ke Indonesia. Perlahan, upaya manusia menghalau air hujan tak hanya pada mantel, tetapi juga barang-barang lain seperti tas dan sepatu. 

Kini, inovasi yang berawal dari upaya sederhana melawan hujan itu terus berkembang. Tak hanya jas hujan, berbagai perlengkapan seperti tas, sepatu, dan topi juga dirancang agar tahan air. 


(mfa/wur)

Related Articles