CNBC INSIGHT

Ledakan Misterius di Venezuela, Minyak Turun dari Langit-Dikira Kiamat

MFakhriansyah,  CNBC Indonesia
06 January 2026 12:15
iIustrasi ledakan kilang minyak. (Istimewa)
Foto: iIustrasi ledakan kilang minyak. (Istimewa)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela sejak lama dikenal sebagai raksasa minyak dunia, dengan cadangan terbesar di bumi mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total global. Kekayaan energi itulah yang sayangnya menyeret negara Amerika Latin tersebut ke pusaran konflik geopolitik menyusul operasi militer Amerika Serikat (AS) dan berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Sabtu (3/1).

Namun, status Venezuela sebagai raksasa minyak tidak lahir secara instan. Ironisnya, titik balik yang mengubah negeri itu menjadi negara minyak bermula dari sebuah ledakan dahsyat pada 14 Desember 1922. 

Kejadiannya bermula pada pukul 04.30 dini hari. Warga desa La Rosa, Cabimas, terbangun mendadak oleh dentuman dahsyat yang disertai getaran hebat. Kepanikan langsung menyergap. Sebagian mengira itu gempa bumi, sementara yang lain menduga ledakan bom. Dugaan bom mungkin sebab kala itu wilayah tersebut kerap dilanda konflik dan aktivitas separatis.

Namun, beberapa menit kemudian, ketakutan warga berubah menjadi kebingungan. Dari langit, cairan hitam pekat mulai turun dan membasahi permukiman. Bukan hujan dan abu, melainkan minyak mentah yang menempel di tanah, rumah, bahkan tubuh penduduk kota.

Menurut laporan BBC International, cairan tersebut berasal dari semburan minyak raksasa yang melesat ke udara setinggi ratusan meter. Semburan itu tak berhenti dalam hitungan jam, melainkan berlangsung lima hari berturut-turut dengan volume mencapai sekitar 100.000 barel per hari. Dahsyatnya peristiwa itu membuat muncratan minyak bahkan dapat terlihat dari kota tetangga yang berjarak sekitar 30 kilometer.

"Para pekerja Shell membutuhkan waktu hampir sepuluh hari untuk mengendalikan kekuatan semburan minyak dengan sebuah katup. Sumur itu menyemburkan sekitar 100.000 barel minyak mentah setiap hari tanpa terkendali-minyak yang akhirnya terbuang sia-sia, tetapi sekaligus mengungkapkan besarnya cadangan minyak di bawah tanah Venezuela," kata sejarawan Rafael Arráiz Lucca kepada BBC International.

Ironisnya, mayoritas warga Cabimas saat itu tak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Minyak yang jatuh dari langit ditafsirkan secara mistis. Sebagian mengaitkannya dengan ulah setan, sebagian lain melihatnya sebagai tanda-tanda kiamat. Sains modern kelak menjelaskan, fenomena tersebut tak lain adalah semburan minyak akibat tekanan gas ekstrem dari dalam bumi.

Riset "Oil and the American Century" (2012) mencatat, sebelum peristiwa tersebut, minyak di Venezuela belum dianggap bernilai strategis. Aktivitas pengeboran masih terbatas dan hasilnya dinilai tak signifikan. Pandangan itu berubah total setelah ledakan dahsyat pada 14 Desember 1922.

Penyelidikan kemudian menyimpulkan ledakan terjadi akibat sumbatan pada alat bor yang menghambat aliran gas. Gas yang terperangkap terus menumpuk di dalam sumur, menjadikannya bom waktu. Saat tekanan tak lagi mampu ditahan, ledakan pun tak terhindarkan. Minyak dari perut bumi keluar secara brutal, menghujani dan membanjiri kota.

Peristiwa yang dikenal sebagai Ledakan Barroso No. 2 itu justru menjadi titik balik. Meski berdampak pada kesehatan dan lingkungan sekitar, dunia tak lagi memandangnya sebagai bencana semata, melainkan sebagai penanda lahirnya raksasa minyak baru. Insiden tersebut menarik perhatian para pengusaha energi global, termasuk Standard Oil milik keluarga Rockefeller, untuk berbondong-bondong berinvestasi di Venezuela.

Sejak saat itu, industri minyak Venezuela berkembang pesat. Negara yang sebelumnya agraris perlahan berubah menjadi kekuatan minyak global. Dalam waktu singkat, minyak menjelma sebagai tulang punggung ekonomi nasional, sekaligus sumber ketergantungan dan perebutan kepentingan global, yang hingga kini masih membayangi Venezuela, termasuk dalam ambisi geopolitik Amerika Serikat.

(mfa/mfa)


Most Popular
Features