CNBC Insight

Obat Luka Legendaris di RI, di Luar Kepala Orang-Orang

Entrepreneur - Petrik, CNBC Indonesia
10 March 2022 12:00
cover insight, Betadine

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika Perang Dunia I, Alexander Fleming menciptakan Iodine yang berguna mengurangi sakit para prajurit. Setelahnya Iodine terus dikembangkan.

Hingga pada 1963 muncul sebuah obat merah antiseptik bermerek Betadine di pasaran. Pada 1968, NASA bahkan memakainya untuk program Apollo 11. Betadine sendiri merupakan salah satu merek obat merah.

Produk ini juga kemudian masuk ke Indonesia. Mantan Letnan Satu Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) bernama Tjan Ke Hoat alias Kahar Tjandra punya jasa besar dalam mempopulerkan obat ini di Indonesia. Tjan yang kelahiran Padang 24 November 1929 dan lulusan kedokteran Universitas Indonesia itu tak bisa berlama-lama jadi dokter di pasukan khusus baret merah itu dan memilih berhenti. 


"Ia ingin merintis dan mengembangkan kariernya sebagai dokter swasta di Jakarta," tulis Agus Purwodianto dalam Kahar Tjandra: Dokter, Pengusaha dan Pengabdiannya (1994).

Menurut Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008) antara 1964 hingga 1984 Tjan adalah dokter di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan mengajar pula di almamaternya, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tjan membuka praktek pula di rumahnya di Jalan Mahakam, Jakarta Selatan. Ruang tamunya pada 1967 disulapnya menjadi sebuah apotik. Pelan-pelan jadilah Apotek Mahakam.

Satu dekade kemudian, di tahun 1977, Tjan membeli perusahaan farmasi yang hampir kolaps, PT Daya Muda Agung (DMA), perusahaan ini memegang penjualan obat merah bermerek Betadine di Indonesia. 

Tjan mengurus perusahaan itu dengan baik sehingga penjualan obat merah bermerek Betadine pun membaik. Setelah tiga tahun mengurusnya, Tjan membeli lisensi dari Mundipharma yang memegang merek Betadine secara global, untuk memproduksinya di Indonesia. 

Pada 1980, PT Mahakam Beta Farma berdiri untuk memproduksi Betadine di Indonesia. Pabriknya awalnya berada di Jalan Limo, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Setelah kapasitas produksi ditingkatkan pabrik pindah ke Kawasan Industri Pulogadung. 

Setelah sukses dengan obat merah Betadine, bisnis Tjan berkembang.

Menurut Sam Setyautama apotiknya bertambah, selain apotek Mahakam lalu ada Apotek Prapanca, Apotek Perla, dan Apotek Senapati.Dia memproduksi gas bius N2O dlewat PT Beta Gasindo Agung. Dia juga pemilik Laboratorium Klinik Mahakam dan Johar Baru.

Di luar kesehatan, Tjan merambah ke industri genteng berwarna dalam bendera PT Perumindo Indah. Dia juga mendirikan PT Inkenas Agung yang memproduksi kecap Maya, saus, cabe, juga sirup. Dia bisnis kue di Le Gourmet Bakery and Cake. Bisnis kembang plastik dilakoni dalam PT Golden Star Plastic Works.

Dari semua bisnisnya itu, Betadine tentu yang berkesan. "Kini hampir semua orang di Indonesia ingat Betadine, bukan obat merah, jika terluka," kata Tjan dalam 75 tahun Kahar Tjandra: Pengabdian Paripurna Dokter dan Entrepreneur Sejati (2004). Di luar pabrik obat merah Kahar Tjandra, orang Indonesia bahkan kerap menyebut obat merah sebagai Betadine. Seolah Betadine yang sebuah merek itu adalah nama benda.

TIM RISET CNBC INDONESIA




[Gambas:Video CNBC]

(pmt/pmt)
Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
Features
    spinner loading