Lonjakan 10.000% Lebih:

 Transformasi Saham CBRE Menaklukkan Bursa Indonesia

Susi Setiawati

CNBC Indonesia Researcher

PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) berhasil menorehkan kenaikan harga saham tertinggi dengan peringkat satu dari 954 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari akhir Desember 2024, harga saham CBRE berada di level Rp19 per lembar saham. Harga saham CBRE sempat menyentuh level tertinggi Rp2.000 pada 9 Oktober 2025, sehingga di sepanjang tahun ini telah mencapai kenaikan 10.426,32%.

Kenaikan harga saham CBRE naik sejalan dengan peningkatan kinerja dan aksi korporasi yang tengah dijalankan perseroan.

Kinerja Keuangan

CBRE berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih pada Juni 2025 sebesar Rp900,05 juta. Sayangnya pendapatan masih turun 9,04% menjadi Rp29,08 miliar pada Juni 2025, dari Rp31,97 miliar pada Juni 2024.

Turn around yang terjadi didorong oleh meningkatnya penghasilan lain-lain pada Juni 2025 menjadi Rp4,39 miliar, dari Rp33,6 juta pada Juni 2024. Penghasilan lain-lain tersebut berasal dari penjualan aset perseroan senilai Rp3,77 miliar.

Hal ini mendorong berkurangnya aset perseroan pada Juni 2025 sebesar 1,58% menjadi Rp328,38 miliar pada Juni 2025 dari Rp333,65 miliar pada Desember 2024.

Akuisisi Aset

Diketahui, CBRE membeli kapal Offshore Support jenis Pipe-Laying & Lifting Vessel mencapai US$100 juta atau Rp1,62 triliun (Rp16.162/US$1). Kapal yang akan diakuisisi merupakan offshore support vessel yang dibangun pada 2011 di China.

Berdasarkan klasifikasi American Bureau of Shipping, kapal ini memiliki spesifikasi panjang 161,93 meter, lebar 46 meter, dan dalam 13,50 meter. Kapal tersebut memiliki kapasitas angkut sebesar 40.612 Gross Tonnage dengan 12.183 Net Tonnage, serta dilengkapi crane berkapasitas 3.000 Metric Ton, yang memungkinkannya menangani pengangkutan serta penanganan muatan berat berskala besar.

Perseroan membeli kapal tersebut dari Hilong Shipping Holding Limited (HSHL), anak usaha Hilong Energy Limited asal China yang berbasis di Hong Kong. Diketahui Hilong telah melantai di bursa Hong Kong.

Kapal CBRE
Foto : CBRE.co.id

HSHL yang tercatat di Bursa Hong Kong juga dikenal sebagai perusahaan rekayasa kelautan dengan spesialisasi proyek migas lepas pantai dan energi angin laut. Perusahaan ini menyediakan layanan menyeluruh, mulai dari manajemen proyek, konstruksi, transportasi, hingga instalasi. Dengan penguasaan penuh Hilong Energy Limited, HSHL menjadi salah satu pemain penting dalam pembangunan infrastruktur energi laut.

Hilong 106 -- Foto : CBRE.co.id

Sumber pendanaan atas transaksi tersebut dilakukan dari kas perseroan dan fasilitas pembiayaan dari pihak ketiga dan/atau pihak perbankan, rinciannya 30% investor dari right issue, 25% Hilong yang diperkirakan dari right issue, dan 45% hutang bank yang kemungkinan akan di konversi dalam bentuk saham CBRE.

Hal ini sama dengan CBRE melakukan akuisisi pada kapal milik Hilong. Transaksi tersebut bertujuan untuk memperluas segmen usaha perseroan, yang dari sebelumnya didominasi oleh kapal jenis bulk carrier, menjadi kapal yang diperuntukkan untuk mendukung aktivitas konstruksi di tengah laut (offshore).

Kapal baru tersebut juga bisa diperuntukkan bagi industri pengeboran minyak dan gas bumi lepas pantai (offshore drilling), industri energi terbarukan berupa pembangunan instalasi pembangkit listrik tenaga angin yang dibangun di perairan laut (offshore wind farm) dan lain sebagainya.

Dengan masuk ke segmen offshore support vessel, perseroan berpotensi menjangkau pasar baru dan memperluas cakupan kegiatan usaha di sektor jasa maritim.

Pembelian armada kapal baru menjadikan aset Perseroan semakin bertambah dan dapat membawa potensi segmen pendapatan (revenue stream) baru sehingga akan memperkuat struktur pendapatan. 

Pembelian kapal Offshore Support Vessel dapat menjadi potensi Perseroan untuk memperoleh kontrak proyek-proyek offshore (diversifikasi usaha), dimana dalam hal ini Perseroan tidak hanya bergantung pada pendapatan dari jasa pelayaran drybulk.

Perseroan akan mengalami lonjakan CapEx,DER, kenaikan biaya operasional, dampak depresiasi, dan risiko pembiayaan yang harus dikelola cermat.

Direktur Utama Cakra Buana Resources Energi, Suminto Husin Giman
Foto : CNBC Indonesia/Tri Susilo

Right Issue

CBRE akan menambah modal melalui rights issue (penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu/PMHMETD).

Perseroan akan menerbitkan maksimal 48 miliar unit saham baru, dengan nilai nonimal Rp25 per saham. Namun, harga pelaksanaan dan jumlah final saham baru akan diuraikan lebih lanjut dalam prospektus aksi korporasi tersebut.

Total nilai dana yang diincar CBRE sebanyak-banyaknya sebesar Rp1,2 triliun, dimana dana ini akan digunakan untuk membayar hutang atas pembelian kapal.

Pelaksanaan PMHMETD akan dilakukan sesuai dengan ketentuan POJK 32/2015, di mana efektifnya pernyataan pendaftaran sehubungan dengan PMHMETD tidak akan lebih dari 12 bulan sejak tanggal persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan dilaksanakan pada 27 Oktober 2025

Seluruh dana hasil PMHMETD untuk pembayaran atas sebagian utang perseroan kepada pihak ketiga, modal kerja, dan rencana penambahan armada oleh perseroan.

Ekspansi Bisnis

Sebelumnya kegiatan usaha CBRE berfokus pada jasa angkutan laut untuk muatan hasil tambang dalam negeri (cargo), ke depan Perseroan akan memperluas portofolio usahanya ke sektor jasa penunjang kegiatan lepas pantai, antara lain layanan pemasangan pipa bawah laut (pipe laying), dukungan pembangunan dan operasional pembangkit listrik tenaga laut (offshore wind farm support), serta konstruksi lepas pantai lainnya.

Hal ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan infrastruktur energi di laut, baik untuk sektor minyak bumi dan gas alam (migas) maupun energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) yang dibangun di wilayah perairan laut lepas pantai (offshore).

BG Cakrawala 3010
Foto : CBRE.co.id

Perseroan saat ini hanya melakukan kegiatan operasional hanya di wilayah perairan Indonesia (domestik), berencana untuk memperluas jangkauan wilayah operasi ke perairan luar negeri (internasional).

Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya peluang kerjasama yang ditawarkan dari mitra strategis internasional, khususnya perusahaan-perusahaan global di sektor energi pengguna hasil muatan tambang, manufaktur baja, serta industry baterai/EV, perusahaan lepas pantau dan konstruksi maritim, yang membutuhkan dukungan jasa transportasi laut, pemasangan pipa bawah laut (pipe laying), pembangunan pembangkit listrik tenaga laut (offshore wind farm support), serta proyek konstruksi lepas pantai lainnya.

CBRE Raih Kontrak Rp4,3 Triliun

PT Cakra Buana Energi Resources Tbk (CBRE) resmi mengamankan kontrak strategis dari PT Gunanusa Utama Fabricators, perusahaan yang 70% sahamnya dimiliki PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN). Kontrak bernilai jumbo ini diperkirakan mencapai Rp4,3 triliun, dengan masa kerja delapan tahun.

Kontrak tersebut dihitung berdasarkan tarif harian time charter sebesar US$90 ribu serta standby rate sebesar US$50 ribu per hari, menyusul rampungnya proses akuisisi Offshore Support Vessel (OSV) Hai Long 106 oleh perseroan.

CBRE menegaskan bahwa kerja sama ini murni dilakukan antara perseroan dan Gunanusa, sekaligus meluruskan asumsi yang mengaitkan kontrak tersebut dengan proyek anak usaha PT Petrosea Tbk (PTRO) di Wilayah Kerja (WK) North Madura II yang dikelola Petronas.

BG. GTO 395
Foto : CBRE

Kontrak berskala besar dari PT Gunanusa Utama Fabricators akan memberikan dorongan signifikan terhadap arah transformasi perseroan ke depan.

CBRE -- Foto : CBRE

Melalui kolaborasi ini, CBRE berperan sebagai subkontraktor untuk mendukung pelaksanaan proyek-proyek Engineering, Procurement, Construction, and Installation (EPCI) milik Gunanusa, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kapal yang disediakan dan dioperasikan CBRE merupakan OSV tipe Pipe Laying & Lifting Vessel (PLLV) dengan kapabilitas operasi bawah laut, pengangkatan beban berat, hingga instalasi pipa laut dalam.

Masuknya kontrak Hai Long 106 akan memperkuat aktivitas operasional perseroan secara menyeluruh. Kontrak ini diproyeksikan dapat meningkatkan tingkat utilisasi armada OSV, memperluas pangsa pasar CBRE di sektor jasa pendukung migas, serta memperkokoh posisi perusahaan sebagai penyedia layanan maritim teknis yang kompeten.

Direktur Utama Cakra Buana Resources Energi, Suminto Husin Giman menerima penghargaan dalam acara Road To CNBC Indonesia Awards 2025 

Foto : CNBC Indonesia/Tri Susilo

Sebelumnya, CBRE juga mengumumkan perolehan fasilitas kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai US$49 juta atau sekitar Rp803,3 miliar. Fasilitas tersebut dijamin dengan tagihan yang timbul dari kontrak sewa Hai Long 106. Dana pinjaman akan dialokasikan untuk melunasi sebagian pembelian kapal PLLV Hai Long 106 dan kebutuhan operasional perusahaan. Adapun nilai akuisisi kapal tersebut mencapai USD100 juta atau sekitar Rp1,65 triliun.

Sisa pembayaran akan dipenuhi melalui Promissory Notes senilai USD55 juta yang melibatkan Hilong Shipping Holding Ltd serta pengusaha Yafin Tandiono Tan beserta afiliasinya yang juga merupakan pemilik SKRN dan Gunanusa.

Beyond Mining:

Ekosistem Nikel Nasional


Elvan widyatama

CNBC Indonesia Researcher

Harita Nickel meraih penghargaan Integrated Nickel Ecosystem Leadership dalam CNBC Indonesia Awards 2025, sebuah pengakuan atas perannya sebagai pionir dalam membangun ekosistem nikel terintegrasi yang berkelanjutan di Indonesia.

Transformasi industri nikel dalam satu dekade terakhir telah mengubah peta rantai pasok mineral global. Hilirisasi yang dulu hanya berupa rancangan kebijakan kini menjelma menjadi fondasi baru industri nasional, didorong oleh meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku baterai kendaraan listrik (EV).

Foto : CNBC Indonesia/Muhamad Sabki

Di tengah perubahan besar itu, Harita Nickel tampil sebagai salah satu pelopor utama. Perusahaan tidak hanya membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel, tetapi mengambil langkah jauh lebih maju dengan menciptakan ekosistem nikel terintegrasi dari hulu ke hilir yang menjadikan keberlanjutan sebagai pusat strategi operasionalnya.

Melalui inovasi teknologi, manajemen lingkungan yang progresif, dan komitmen terhadap pembangunan sosial komunitas, Harita Nickel menetapkan standar baru bagi industri pertambangan Indonesia.

Mendorong Lompatan Teknologi: HPAL Pertama di Indonesia

Salah satu tonggak penting dalam perjalanan Harita Nickel adalah keberhasilan mengoperasikan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) pertama di Indonesia melalui kerja sama Harita–Lygend di Pulau Obi. Teknologi HPAL memungkinkan pengolahan bijih nikel kadar rendah atau limonit (1–1,5%) yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis.

Foto : Laporan Keberlanjutan 2024

Keberadaan HPAL menjadi game changer karena menghubungkan Indonesia langsung dengan rantai pasok baterai global. Berbeda dari smelter berbasis pyrometallurgy atau RKEF yang hanya bisa mengolah bijih saporlit, HPAL mengubah lomonit menjadi produk bernilai tinggi seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) bahan baku nikel dan kobalt untuk baterai EV

Dampak transformasional teknologi ini tercermin jelas dari kinerja operasionalnya. Volume penjualan HPAL meningkat dari 42.251 ton pada 2022 menjadi 60.271 ton pada 2023, dan melonjak signifikan hingga 102.053 ton pada 2024. Dalam dua tahun, pertumbuhan tersebut mencatat CAGR mencapai 55,4%, menandai ekspansi kapasitas pemurnian yang luar biasa pesat setelah beroperasinya fasilitas baru. Lonjakan ini mempertegas peran Pulau Obi sebagai simpul strategis dalam rantai nilai baterai global.

Dengan langkah ini, Harita Nickel tidak hanya meningkatkan nilai tambah mineral Indonesia, tetapi juga memastikan posisi Pulau Obi menjadi simpul penting dalam industri energi masa depan.

Pertumbuhan operasional ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan strategi hilirisasi Harita Nickel, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kinerja finansial perusahaan. Peningkatan kapasitas HPAL dan konsistensi produksi MHP menjadi motor utama yang mendorong pendapatan dan profitabilitas Harita Nickel sepanjang 2024.

Foto : Laporan Tahunan 2024

Secara keseluruhan, Harita Nickel membukukan pendapatan sebesar Rp 26,96 triliun pada 2024, meningkat dari Rp 23,86 triliun pada tahun sebelumnya, seiring ekspansi kapasitas pemurnian dan peningkatan penjualan produk hilirisasi bernilai tambah tinggi

Laba bersih juga terjaga kuat di angka Rp 7,71 triliun yang secara langsung mencerminkan efisiensi operasional, optimalisasi proses produksi, serta kontribusi signifikan dari ekosistem nikel terintegrasi yang dibangun di Pulau Obi. Kinerja ini makin meningkatkan keyakinan bahwa hilirisasi bukan hanya memperkuat ketahanan industri nikel nasional, tetapi juga menjadi fondasi pertumbuhan finansial yang berkelanjutan bagi Harita Nickel.

Ekosistem Terintegrasi yang Memperkuat Daya Saing Nasional

Hilirisasi yang dilakukan Harita Nickel tidak berjalan secara terpisah. Seluruh proses mulai dari penambangan, pengolahan RKEF, pemurnian HPAL, pemanfaatan limbah, sistem logistik, hingga infrastruktur pendukung yang dirancang berada dalam satu kawasan industri terintegrasi.

Model ini menciptakan sejumlah keunggulan kompetitif:

        1. Efisiensi operasional dan energi karena seluruh proses saling terhubung.
        2. Kepastian pasokan bahan baku bagi smelter, memastikan keberlanjutan operasi.
        3. Kualitas dan konsistensi produk yang terukur untuk pasar global.
        4. Manajemen lingkungan yang lebih terkendali karena seluruh limbah, air, dan sumber daya terpantau dari satu sistem terpadu.

Ekosistem seperti ini jarang dimiliki oleh perusahaan lain di Indonesia dan menjadi salah satu alasan utama mengapa Harita Nickel berada selangkah lebih maju dalam inovasi industri nikel nasional.

Pengelolaan Lingkungan: Dari Efisiensi Energi hingga Pemanfaatan Limbah

Harita Nickel menjalankan strategi lingkungan yang komprehensif dengan menyeimbangkan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan pengelolaan limbah yang bertanggung jawab. Salah satu pencapaian utama perusahaan adalah meningkatnya penggunaan energi terbarukan yang mencapai 6.861.946 GJ pada 2024, tumbuh 29,8% dibandingkan tahun sebelumnya..

Foto : Laporan Keberlanjutan 2024

Pertumbuhan energi bersih ini berasal dari pemanfaatan sumber rendah karbon seperti other renewables dan Biosolar 35%, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi dan menurunkan jejak emisi operasional.

Pada saat yang sama, Harita Nickel juga unggul dalam mengelola limbah menjadi sumber nilai baru. Dari proses smelting RKEF, dihasilkan slag nikel yang dimanfaatkan kembali menjadi batako, beton, kubus berongga, serta material pengeras jalan. Material berbasis slag ini telah digunakan untuk pembangunan area kerja lebih dari 409.000 m², mengurangi kebutuhan material konstruksi baru sekaligus memperpanjang umur material yang sebelumnya dianggap limbah.

Untuk tailing HPAL, perusahaan menerapkan teknologi dry stack, metode pengelolaan tailing paling maju yang mencakup netralisasi, pemadatan menggunakan filter press, hingga pengolahan air lanjutan. Dengan kapasitas mencapai 49 juta ton atau sekitar 25 juta meter kubik, fasilitas dry stack Harita Nickel menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Pendekatan ini lebih aman secara geoteknik, meminimalkan risiko pencemaran, dan kini menjadi standar emas industri global.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa komitmen lingkungan Harita Nickel berjalan menyeluruh dari efisiensi energi hingga pengelolaan limbah yang secara kolektif memperkuat keberlanjutan operasional dan menciptakan nilai jangka panjang.

Reklamasi Progresif: Memulihkan Lahan Seiring Produksi

Harita Nickel mengadopsi pendekatan progressive reclamation, yaitu melakukan reklamasi segera setelah blok tambang selesai ditambang, tanpa menunggu masa IUP berakhir. Pendekatan ini menjadikan area tambang pulih lebih cepat dan mengurangi risiko degradasi lingkungan.

Sejak 2017 hingga kuartal I-2025, perusahaan telah mereklamasi 105 hektare area tambang, dan tahun ini menargetkan tambahan 66 hektare. Harita menginvestasikan sekitar Rp 250 juta per hektare untuk proses reklamasi, yang meliputi penataan kembali lahan, penanaman vegetasi, serta pengendalian erosi.

Salah satu tantangan terbesar dalam reklamasi di kawasan Pulau Obi adalah kondisi topografi yang curam, yang rentan terhadap sedimentasi. Untuk mengatasi hal ini, Harita membangun kolam endapan berkapasitas 2 juta meter kubik di atas lahan 43 hektare. Lumpur hasil endapan diolah ulang dan digunakan sebagai media tanam di area reklamasi.

Harita juga mengoperasikan Loji Central Nursery, pusat pembibitan modern yang menghasilkan bibit pohon dari biji hingga siap tanam. Nursery ini dilengkapi shade house, greenhouse hidroponik, laboratorium lingkungan, dan fasilitas pemupukan.

Spesies yang ditanam antara lain cemara laut, kayu putih, ketapang, kayu nani, hingga gofasa. Semua dipilih berdasarkan kesesuaian ekologis dan efektivitas pemulihan lahan.

Dari perut bumi halmahera:

Model Tambang masa depan lahir di NHM


Penulis : Nama penulis, Ilustrasi : Nama ilustrator

Minggu 08 November 2015

Peta industri pertambangan emas di kawasan Indonesia Timur terus menunjukkan pergeseran strategis yang menarik untuk dicermati. Di tengah volatilitas harga komoditas global, fokus pelaku industri kini tidak hanya tertuju pada volume produksi, melainkan pada efisiensi biaya dan keberlanjutan operasi jangka panjang. 

Salah satu entitas yang kini menjadi sorotan utama adalah PT Nusa Halmahera Minerals (NHM). Perusahaan ini merupakan pengelola Tambang Emas Gosowong yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara.

Secara korporasi, NHM beroperasi di bawah struktur joint venture. Mayoritas saham sebesar 75% dikendalikan oleh pihak swasta nasional, PT Indotan Halmahera Bangkit.

Sementara itu, sisa kepemilikan sebesar 25% dipegang oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pertambangan, PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Nilai strategis aset ini baru saja mendapatkan pengukuhan penting dari negara. Tambang Emas Gosowong resmi ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas) bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.

Status ini didasarkan pada payung hukum yang kuat, yakni Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 63/2004 serta Keputusan Menteri ESDM No. 77 K/90/MEM/2019. Penetapan ini menegaskan bahwa operasional NHM memiliki dampak krusial bagi kedaulatan ekonomi dan ketahanan energi nasional.

Terobosan Energi: Gas Bumi & Efisiensi Biaya 30%

Tantangan terbesar bagi operasional tambang di wilayah terpencil adalah tingginya biaya energi. Menjawab tantangan ini, NHM melakukan manuver strategis yang signifikan. Perusahaan kini menjajaki pemanfaatan gas bumi sebagai sumber energi utama melalui kemitraan strategis dengan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Presiden Direktur NHM, H. Robert Nitiyudo Wachjo, dan Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Rosa Permata Sari.


Langkah ini bukan sekadar transisi energi biasa, melainkan strategi efisiensi biaya yang agresif. NHM menganalisis bahwa penggunaan gas bumi dapat memangkas biaya operasional energi hingga 30%.

Bagi perusahaan tambang dengan struktur biaya energi yang masif, penghematan sebesar 30% akan berdampak langsung dan signifikan terhadap peningkatan margin profitabilitas perusahaan.Lebih jauh, inisiatif ini menempatkan NHM sebagai salah satu pelopor di industri pertambangan nasional yang mengadopsi gas bumi sebagai tulang punggung kelistrikan tambang.

Kemitraan ini dirancang dengan visi jangka panjang. Rencananya, Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) akan memiliki durasi hingga 10 tahun ke depan. Guna menjamin keandalan pasokan, PGN berkomitmen berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk terminal gas dan power plant.

Target awal kapasitas pembangkit direncanakan sebesar 15 MW, yang akan terus disesuaikan dengan kebutuhan operasional tambang. Langkah ini sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi industri, mengingat gas bumi merupakan energi fosil dengan emisi karbon terendah.

Transformasi Bawah Tanah & Lonjakan Cadangan

Di sisi teknis operasional, NHM telah sukses melakukan transformasi metode penambangan yang fundamental. Perusahaan meninggalkan metode tambang terbuka (open pit) yang cadangannya telah habis.

Kini, produksi bertumpu sepenuhnya pada metode tambang bawah tanah (underground mining). Aktivitas ekstraksi difokuskan pada dua unit utama, yaitu "Kencana" dan "Toguraci".

Transisi ke bawah tanah ini merupakan langkah krusial untuk menjangkau deposit emas yang berada jauh di dalam perut bumi. Hal ini menunjukkan kematangan teknis NHM dalam beradaptasi dengan kondisi geologis yang kompleks .

Di bawah manajemen PT Indotan Halmahera Bangkit sejak 2020, aktivitas eksplorasi juga digenjot secara masif. Tujuannya adalah memperpanjang "napas" tambang Gosowong.

Hasilnya terbukti solid. Data terbaru mencatat NHM berhasil meningkatkan cadangan emas (reserves) menjadi sekitar 1,4 juta ounce.

Sementara itu, sumber daya emas (resources) yang tercatat kini mencapai angka 2,3 juta ounce. Peningkatan basis cadangan ini memberikan kepastian bisnis jangka panjang. Estimasi umur tambang (Life of Mine) Gosowong diperkirakan bertambah hingga 10 tahun ke depan.

Foto : Ditjen Minerba

Kontribusi Ekonomi Tembus USD 1,4 Miliar

Performa operasional yang solid berdampak langsung pada kontribusi finansial perusahaan terhadap ekonomi nasional. NHM terbukti menjadi salah satu penyumbang devisa yang produktif.

Sejak mulai beroperasi pada tahun 1997, perusahaan telah menyetorkan kewajiban kepada negara. Nilai ini mencakup pajak, royalti, dan biaya lainnya dengan total kurang lebih USD 1,1 miliar.

Tidak hanya bagi negara, NHM juga memberikan imbal hasil yang konsisten bagi para pemegang sahamnya, termasuk Antam. Total dividen yang telah didistribusikan tercatat melebihi USD 300 juta .

Jika diakumulasikan, total dampak ekonomi yang dihasilkan NHM sangat masif. Selama 28 tahun terakhir, kontribusi ke kas negara dan pemegang saham diperkirakan menembus angka USD 1,4 miliar.

Angka ini merefleksikan stabilitas arus kas perusahaan, yang mampu bertahan dan tetap menguntungkan meski menghadapi siklus naik-turun harga komoditas global.

Rehabilitasi Ribuan Hektare & Teknologi DST

Aspek lingkungan menjadi pilar yang tak kalah penting dalam transformasi bisnis NHM. Perusahaan menerapkan konsep "Green Mining" secara ketat dalam setiap lini operasinya.

Manajemen NHM, melalui Manajer Departemen Lingkungan Widi Wijaya, menegaskan bahwa perusahaan melakukan pemantauan dan evaluasi dampak lingkungan secara rutin dan mendetail.

Komitmen ini dibuktikan lewat aksi nyata rehabilitasi lahan. Sejak tahun 2015, NHM telah melaksanakan program rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang masif.

Cakupan rehabilitasi ini sangat luas. Tahap pertama meliputi 262,69 hektare di Bukit Tinggi, Kecamatan Malifut. Program kemudian berlanjut ke tujuh blok lainnya di wilayah Akelamo Cibok dan Gamsungi.

Secara total, luas area yang telah direhabilitasi NHM mencapai 1.931,65 hektare. Fokus utamanya adalah mengembalikan fungsi ekosistem alami melalui penanaman vegetasi yang sesuai.

Selain itu, NHM juga menjadi pionir dalam teknologi pengelolaan limbah. Pada Februari 2023, perusahaan meresmikan fasilitas Dry Stack Tailing (DST) Plant senilai Rp 250 miliar .

Fasilitas ini diklaim sebagai yang pertama di Indonesia yang mampu mengolah limbah tambang tanpa merkuri menjadi material padat .

Keunggulan teknologi ini adalah residu yang dihasilkan aman dan dapat dimanfaatkan kembali (reused). Limbah padat tersebut dapat diolah menjadi bahan bangunan, menciptakan siklus ekonomi sirkular yang positif .

Model Keberlanjutan Tambang Masa Depan

Apa yang dilakukan PT Nusa Halmahera Minerals membuktikan bahwa tambang tua bisa memiliki angin segar melalui manajemen yang tepat dan adaptif.

Transformasi ke tambang bawah tanah menjamin kontinuitas produksi emas. Sementara itu, kemitraan gas dengan PGN menjanjikan struktur biaya yang jauh lebih efisien.

Dipadukan dengan standar lingkungan tinggi, teknologi pengolahan limbah DST, dan status Obvitnas, NHM kini bertransformasi menjadi entitas yang tangguh.

Sinergi antara profitabilitas ekonomi, efisiensi energi, dan tanggung jawab ekologis inilah yang menjadikan NHM sebagai model ideal keberlanjutan industri pertambangan di wilayah Timur Indonesia.

Penulis/ Sumber: Tim Riset CNBC Indonesia | Grafis & Layout: Edward Ricardo | Foto: Faisal Rahman