MARKET DATA

10 Miliar Penduduk Dunia Butuh Makan, AI Dipaksa 'Kerja' di Sawah

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
09 June 2026 17:32
Ilustrasi Tanaman Padi. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Tanaman Padi. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia- Perubahan iklim, perang, dan gangguan rantai pasok membuat pasar pangan global semakin sulit ditebak.

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi lonjakan harga pangan akibat pandemi Covid-19, perang Rusia-Ukraina, hingga konflik terbaru di Timur Tengah. Pada saat yang sama, sektor pertanian harus berhadapan dengan kekeringan yang lebih sering, cuaca ekstrem, serta penurunan kualitas lahan.

Kondisi tersebut mendorong arus investasi besar ke sektor teknologi pertanian.

Melansir laporan AgFunder yang dikutip The Economist, investasi global untuk inovasi pertanian mencapai lebih dari US$16 miliar pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar US$9 miliar dialokasikan untuk penelitian peningkatan produktivitas pertanian. Nilai itu melonjak tajam dibandingkan sekitar US$2,5 miliar pada 2016.

 

Gelombang investasi tersebut lahir dari kebutuhan yang semakin mendesak. Populasi dunia diperkirakan mendekati 10 miliar jiwa dalam beberapa dekade mendatang, sementara kapasitas produksi pangan menghadapi tekanan dari perubahan iklim.

Industri pangan global akhirnya bergerak mencari cara baru untuk menghasilkan lebih banyak bahan pangan dari lahan yang sama dengan penggunaan air, pupuk, dan pestisida yang lebih efisien.

Salah satu pendekatan yang berkembang cepat adalah pertanian presisi atau precision agriculture. Teknologi ini menggabungkan sensor lapangan, kecerdasan buatan (AI), analisis cuaca, dan data genetika tanaman. Setiap petak lahan diperlakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan. Kelembapan tanah, suhu udara, intensitas sinar matahari, hingga keberadaan mikroorganisme dalam tanah dianalisis untuk menentukan perlakuan yang paling efektif bagi tanaman.

Perusahaan teknologi asal Italia, EVJA, menjadi salah satu contoh penerapan model tersebut.

Sensor yang dipasang di lahan mengumpulkan data lingkungan secara real-time, lalu AI memproses informasi tersebut untuk memperkirakan risiko penyakit tanaman, kebutuhan air, potensi hasil panen, hingga jejak karbon.

Menurut perusahaan, pengguna sistem tersebut mampu mengurangi konsumsi air dan pupuk hingga 40% pada beberapa komoditas hortikultura seperti tomat, kentang, dan sayuran daun.

 

Inovasi juga muncul dari sektor perlindungan tanaman. Perusahaan rintisan B-COS mengembangkan molekul yang memiliki karakteristik serupa kitin, senyawa yang banyak ditemukan pada rangka luar serangga dan dinding sel jamur. Ketika disemprotkan ke tanaman, molekul tersebut memicu sistem pertahanan alami tanaman sehingga lebih siap menghadapi serangan penyakit.

Perusahaan mengklaim teknologi yang sedang dikembangkan mampu meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan serta menekan serangan penyakit hingga 40-50%.

Perubahan besar lainnya terjadi pada proses pemuliaan tanaman. Jika sebelumnya pengembangan varietas baru membutuhkan waktu bertahun-tahun dengan proses seleksi konvensional, kini para peneliti memanfaatkan machine learning untuk mempercepat pencarian kombinasi genetik terbaik. Data genetik tanaman dipadukan dengan informasi mengenai hasil panen, kandungan nutrisi, serta karakter rasa. Sistem kemudian membantu peneliti memilih kandidat unggul untuk dikembangkan lebih lanjut.

 

Pendekatan tersebut digunakan oleh Aardaia, startup yang berbasis di kampus Wageningen University & Research, Belanda.

Perusahaan ini mengembangkan aardaker, tanaman liar yang dikenal sebagai "kentang protein". Menurut pendirinya, ahli genetika tanaman Pádraic Flood, komoditas tersebut berpotensi menghasilkan protein per hektare beberapa kali lebih tinggi dibandingkan kedelai.

Melalui teknik speed breeding yang mengatur cahaya, suhu, dan kelembapan dalam ruang tumbuh, Aardaia mampu menghasilkan lima generasi tanaman dalam satu tahun. Hasil awal yang diperoleh menunjukkan produktivitas umbi sudah meningkat sekitar sepuluh kali lipat dibandingkan varietas liar.

Perburuan tanaman pangan masa depan juga mengarah ke quinoa. Startup Belanda Radicle Crops tengah mengembangkan varietas quinoa yang lebih tahan terhadap perubahan iklim serta memiliki daya saing lebih baik terhadap gulma.

Perusahaan tersebut telah memulai komersialisasi varietas hibrida yang diklaim menghasilkan panen biji-bijian 25-45% lebih tinggi dibandingkan varietas sebelumnya. Quinoa menjadi perhatian karena kandungan proteinnya tinggi dan mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh manusia.

 

Meski perkembangan teknologi berlangsung cepat, adopsinya masih berada pada tahap awal. The Economist mencatat perusahaan teknologi pertanian hanya memperoleh sekitar 1,3% pendanaan modal ventura tahap awal dunia pada 2024.

Angka tersebut masih jauh di bawah kontribusi sektor pertanian yang mencapai sekitar 4% terhadap produk domestik bruto global. Namun arah pergerakannya sudah terlihat jelas. Saat dunia menghadapi tantangan memberi makan populasi yang terus bertambah, lahan pertanian semakin banyak dipenuhi sensor, algoritma, dan analisis genetika.

Persaingan pangan global dalam beberapa dekade mendatang kemungkinan akan ditentukan oleh kemampuan negara dan pelaku usaha mengubah data menjadi hasil panen.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular