CNBC Indonesia Economic Update

Gubernur BI: Kebijakan BI untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Profil - Rahajeng Kusumo Hastuti, CNBC Indonesia
23 July 2021 14:30
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjadi salah satu pembicara utama dalam CNBC Indonesia Economic Update pada, Kamis (22/7/2021). Dalam kesempatan itu, Perry membeberkan peran BI untuk menopang stabilitas perekonomian Indonesia.

Perry pun memastikan kalau kebijakan BI diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di tengah risiko tapering The Fed, Ia pun mengungkapkan antisipasi kebijakan telah disiapkan.

Dalam wawancara itu, Perry juga mengungkapkan update perihal central bank digital currency. Simak petikan lengkap wawancara Perry berikut ini.

Seperti apa ketangguhan stabilitas ekonomi Indonesia saat ini? Ini karena berbagai lembaga melakukan pemangkasan pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk Bank Indonesia (BI). Tapi bagaimana resiliensi dan stabilitas Indonesia di mata BI?
Kalau kita bicara stabilitas tentu saja ada berapa aspek dari stabilitas, yakni makroekonomi dan sistem keuangan. Stabilitas makroekonomi kita cukup kuat, inflasi kita sangat rendah. Stabilitas nilai tukar juga terjaga, BI terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kemudian stabilitas sisi eksternal, yakni defisit transaksi berjalan, yang saat ini sangat rendah, kami perkirakan sangat rendah tahun ini yakni -0,6% sampai 1,4% dari PDB.

Kemudian juga berkaitan dengan fiskal, kita juga bicara stabilitas sistem keuangan yang termasuk rasio kecukupan modal (CAR) Indonesia masih sangat tinggi 24%, NPL tetap rendah, dan likuiditas yang sangat berlebih, dan rasio dengan DPK juga 34%. BI terus lakukan injeksi likuiditas. Secara keseluruhan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan kita resilence dalam menjaga perekonomian. Ini termasuk cadangan devisa Bank Indonesia yang relatif tinggi yakni US$ 137,5 miliar.

Itu berbagai komponen yang menunjukkan ketahanan dan stabilitas ekonomi kita yang alhamdulillah cukup baik dan kuat.

Para pelaku pasar membicarakan risiko tapering yang terjadi lebih awal, bagaimana BI mempersiapkan strateginya?
Kami sudah melakukan langkah antisipasi perubahan kebijakan moneter AS. Assesment kami menunjukkan bahwa The Fed kemungkinan baru akan melakukan pengurangan likuiditas atau tapering pada kuartal I-2022.

Kalau pun ada kenaikan Fed Funds Rate baru akhir tahun 2022. Tapi benar reaksi dan antisipasi pasar berpengaruh, yaitu flight to quality, investor global memilih portofolio investasinya ke negara yang lebih aman. Juga tekanan pada nilai tukar. Apa yang dilakukan oleh BI? Kami memastikan menjaga pasar dan melakukan stabilisasi nilai rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar.

Itu kami lakukan dengan intervensi baik di pasar tunai (spot) di pasar forward, domestik non delivery forward, juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder. Alhamdulilah tingkat pelemahan nilai tukar rupiah kita cukup baik dibandingkan negara lain Filipina, Singapura, atau negara lainnya. Kalau seluruh dunia melakukan pelemahan tentu saja rupiah juga melemah, tapi yang kita jaga pelemahan terjaga.

Kami juga berkoordinasi dengan Bu Menteri Keuangan (Sri Mulyani) dan kawan-kawan di tingkat departemen untuk menjaga stabilitas pasar SBN terjaga. Alhamdulilah terjaga baik, terlihat dari kenaikan yield SBN rendah 6,2%-6,3%. Ini relatif rendah.

Ini berkaitan dampak dari global, ini langkah yang kami lakukan, baik di BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan juga koordinasi dengan Kemenkeu untuk menjaga stabilitas pasar SBN, dan sistem keuangan secara keseluruhan, termasuk koordinasi di bawah KSSK.




Kemungkinan seperti apa BI mempertahankan suku bunga acuan di level rendah menjelang tapering, dan potensi perubahan Fed Funds Rate?
Kebijakan BI kami arahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, progrowth. Di bidang moneter kami akan pertahankan suku bunga rendah 3,5% dan likuiditas quantitavive easing yang terus kami lakukan. Demikian juga relaksasi dari kebijakan makroprudensial dan juga digitalisasi sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, UMKM, ekonomi keuangan syariah, semua instrumen dan bauran kebijakan untuk progrowth mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pengecualian tentu saja stabilisasi nilai tukar, yang tadi kami sampaikan. Tahun depan kami akan melihat 2022, kami perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik, kalau tahun ini 3,5-4,3%, tahun depan 4,6%. Kalau ada perubahan, kami akan lakukan dengan sangat hati-hati. Mulai dengan pengurangan likuiditas secara bertahap baru kemudian langkah-langkah kenaikan suku bunga, tapi itu masih jauh, kita bicara 2022.

Fokus kami tahun ini dan tahun depan adalah mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap memastikan stabilitas, dan seluruh instrumen kami diarahkan kesana. Ini yang kami lakukan untuk optimisme dan membawa optimisme ekonomi kita ke depan.

Terkait langkah antisipasi arus modal keluar terkait risiko tapering?
Tentu saja ini akan terus kita pantau, kami akan lakukan langkah stabilisasi itu untuk memastikan stabilitas dan instrumen lain akan kami arahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Ini termasuk tahun depan kebijakan makroprudensial kami akan terus progrowth mendukung pembiayaan ekonomi, digitaliasi sistem pembayaran yang sebagai bagian dari game changer ekonomi keuangan digital termasuk ekonomi inklusi keuangan dan pendalaman pasar uang, dan juga untuk UMKM dan ekonomi keuangan syariah.

Dukungan dan juga dorongan BI mendukung keuangan digital tanah air, apalagi terobosan BI?
Ini memang kami merasa bersyukur digitalisasi sistem pembayaran yang ditempuh sesuai dengan blueprint sistem pembayaran Indonesia 2025 mampu mengakselerasi ekonomi keuangan digital. Kami sampai nilai transaksi e-commerce tumbuh 48,4% menjadi Rp 395 triliun, transaksi uang elektronik tumbuh 35,7% menjadi Rp 278 triliun dan digital banking tumbuh 30,1% mencapai Rp 35.600 triliun. Langkah BI adalah perluasan QRIS, hampir 8 juta merchant dan sebagian besar UMKM itu sudah teregister secara nasional.

Kedua, kami mendorong digitalisasi perbankan lewat sistem pembayaran, dan interlinknya pelayanannya antara digital banking dan fintech. Fitur baru QRIS dan interlink open API akan diluncurkan Agustus. Kami juga melakukan reformasi regulasi di bidang sistem pembayaran yang kami sudah keluarkan aturan BI untuk penyelenggara jasa pembayaran dan penyelenggara infrastruktur pembayaran untuk membentuk ekosistem industri sistem pembayaran dan keuangan digital banking secara end to end. Melayani digital banking, fintech, uang elektronik dan e-commerce, itulah langkah yang kami lakukan.

Kami juga mendukung Himbara, dan asosiasi dalam penyaluran bansos pemerintah supaya bisa meringankan masyarakat.

Kajian central bank digital currency sudah sejauh mana?
Kami bersama tujuh bank sentral dunia melakukan kajian. Ada tiga aspek kajian dan persiapan yang dilakukan. Pertama, bagaimana penerbitan digital currency, kalau di Indonesia disebut digital rupiah, secara end to end BI adalah bank sentral yang sesuai UUD, dan UU Mata Uang adalah satu-satunya lembaga yang diberikan kewenangan mengeluarkan digital rupiah. Kami siapkan kajian itu dan juga studi kasus dengan bank sentral lain.

Kedua, membangun infrastruktur sistem pembayaran yang terintegrasi dengan pasar uang. Di sistem pembayaran infrastruktur mengenai RTGS, ritel dan juga untuk integrasinya dengan sistem pembayaran nasional dilakukan. Kami lakukan pembangunan infrastruktur di pasar uang, electronic trading platform multi matching. Insya Allah tahun ini juga center counter party, integrasi dari infrastruktur pembayaran dan pasar uang ini menjadi salah satu prasyarat untuk menerbitkan digital rupiah tentu saja melalui wholesales para pelaku perbankan dan pelaku sistem pembayaran.

Ketiga, pemilihan platform teknologi, ada beberapa pilihan bockchain, atau stable coin itu studi yang kami lakukan dengan bersama bank sentral lain atau inisiatif di bawah International Settlement. Ini merupakan bagian kita melangkah ke depan dengan koordinasi dan kerja sama dengan bank sentral lain.


[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading