Wawancara Pefindo: Buka-bukaan Soal Asing Incar Bisnis Rating

Profil - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
28 January 2019 09:53
Meneropong Obligasi Korporasi 2019

Meneropong Obligasi Korporasi 2019

Untuk tahun 2019, Bagaimana proyeksi obligasi korporasi?
Kalau tingkat suku bunganya seperti sekarang ya tentunya kupon obligasi mungkin akan relatif besar, kecuali mungkin tingkat suku bunga, yield SUN atau suku bunga BI turun mungkin lain cerita ya. Let's assume sama ya.

Apa saja faktor penentu pasar obligasi korporasi ini akan ramai atau tidak di 2019?
Kalau kondisinya sama dengan 2018, maka ada beberapa faktor yang bisa menjadi penentu obligasi ini akan ramai atau tidak. Pertama, kita lihat yang jatuh tempo di 2019 ini lumayan besar. Ada Rp112,4 triliun. Dan itu paling banyak seperti biasa, karena penerbitannya di Juni itu juga yang jatuh tempo paling banyak di Juni dan Desember.

Apakah selalu mereka refinancing lagi?
Nah, biasanya waktu mereka jatuh tempo itu refinancing. Biasanya, refinancing atau pendanaan ulang dilakukan sebelumnya. Misalnya pada Juni itu mereka isu obligasi, di Maret [refinancing], atau ada juga yang persis di Juni dia melakukan hal yang sama, tapi banyak juga yang sebelumnya. Jadi, misalnya, kita asumsikan mereka melakukan persis sama di Juni jatuh tempo dan mereka refinancing, ya kita harapkan di Juni penerbitan akan lumayan ramai juga. Tahun ini, ada Rp40 triliun yang jatuh tempo di Juni, di Desember ada Rp39,8 triliun. Ya itu di bulan-bulan itu aja, belum dihitung bulan-bulan sebelumnya, Januari, Februari, Maret juga ada jatuh tempo.

Jari Juni tetap jadi periode peak ya Pak?
Jadi, yang paling besar di Juni. kalau kita asumsikan mereka me-refinancing semua ya otomatis Rp112 triliun penerbitan obligasi baru tahun ini, ditambah dengan penerbitan yang baru-baru yang memang mereka konversi dari perbankan atau kebutuhan untuk ekspansi. Penerbitan obligasi baru memang kami  tidak terlalu optimis ya. Maksudnya bukan yang refinancing ya, mungkin sekitar Rp20 triliun-30 triliun. So, in total, kami mengasumsikan tahun ini sekitar Rp 130 triliun.

Jadi lebih pesimistis ya penerbitan baru?
Ya pendorongnya adalah banyak obligasi yang jatuh tempo. Kami asumsikan yang jatuh tempo itu kebanyakan di-refinancing, tapi kalau mereka ternyata memilih pinjaman bank untuk refinancing, maka ya pasti penerbitan obligasi akan jauh berkurang lagi. Jadi sangat tergantung dari kebijakan emiten-emiten ini terhadap obligasi yang jatuh tempo di tahun ini.

Kenapa obligasi baru tidak terlalu optimistis?
Kebanyakan obligasi korporasi itu tenornya lumayan panjang tiga sampai lima tahun. Kalau misalnya si emiten ini beranggapan oh tingkat suku bunga sekarang sudah tinggi nih, mungkin tahun depan diharapkan bisa turun. Mereka akan mikir-mikir mengeluarkan obligasi sekarang, karena akan dikenakan bunga tinggi, padahal tahun depan suku bunga mungkin sudah turun. Hanya saja, obligasi itu fixed [rate], jadi mereka sudah enggak bisa apa apa lagi.

Memang semua tergantung ekspektasi masing-masing. Jika mereka masing-masing berpikir kayaknya dua atau tiga tahun bahkan lima tahun mungkin tingkat bunga bakal turun, udah deh enggak apa apa cari aman saja dengan merilis obligasi, mungkin saja. Tapi ada juga yang optimistis sekali, tahun depan pasti tingkat suku bunga turun, mungkin mereka akan menunggu rilis obligasi, jadi ke perbankan, tahun depan baru rilis obligasi.

Bagaimana dampaknya jika asumsinya ekonomi tidak stabil?
Ekonomi stabil dalam arti kalau yang paling banyak pengaruh ke obligasi korporasi itu tingkat suku bunga. Maksud saya, kalau perekonomian stabil, inflasi stabil, kurs rupiah stabil, otomatis ya mungkin tidak ada alasan BI menaikkan suku bunga lagi. Kalau naik lagi suku bunga, akan berat buat pasar obligasi.

Apakah akan sama kondisinya pasca-political year?
Dari segi historis, setelah tahun politik itu memang penerbitan obligasi korporasi naik. Tahun 2015 itu penerbitan obligasi langsung naik dibanding 2014. Kalau polanya seperti itu berarti 2020 yang akan naik. Tapi siapa tau nih kan pemilunya di April, kalau aman-aman aja, smooth, orang langsung optimis bisa saja di semester kedua penerbitan langsung naik.

Sebetulnya apa katalis yang buat investor optimis bahwa pasar tetap ramai?
Memang kebutuhan penyelesaian infrastruktur juga tidak bisa tidak. Perusahaan tetap butuh dana ekspansi. Proyek-proyek infrastruktur itu jangka panjang. Kombinasi antara obligasi dan perbankan ini akan dijaga terus oleh perusahaan. Kalau tergantung hanya ke bank tidak bagus juga karena kebutuhannya besar sekali. Jadi, ada faktor yang membuat agak berbeda. Kalau dulu ketika bunga tinggi, kita seperti sudah enggak ada harapan lagi.

Apa yang menjadi faktor pendorongnya?
Seperti periode 2013-2014, itu kan lumayan tinggi ini suku bunga. Kalau dahulu kebanyakan sektor konsumer, perusahaan pembiayaan, nah saat perbankan ngerem yaudah. Otomatis bagi finance company, kalau bunga tinggi mereka juga akan terpengaruh dari NPL [kredit macet] terpengaruh, growth juga akan terpengaruh karena suku bunga mahal. Jika sekarang ya ada sektor-sektor yang mungkin tidak terlalu sensitif dengan suku bunga ini. Infrastruktur misalnya. Kalau masuk hitung-hitungan mereka, kan tetap jalan, atau mereka menunda proyek-proyeknya.



Asing Incar Perusahaan Rating Indonesia
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading