Strategi BNI Genjot Kredit di Tahun Politik

Profil - Erwin Surya Brata, CNBC Indonesia
12 December 2018 07:03
Strategi BNI Genjot Kredit di Tahun Politik
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun depan menjadi tahun yang menantang bagi perbankan. Berbagai faktor eksternal dan internal bisa menjadi faktor yang mempengaruhi derasnya penyaluran kredit. Mulai dari tahun politik, perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China hingga masalah likuiditas yang ketat

Untuk bisa menghadapi berbagai tantangan ini, perbankan harus jeli melihat dan memanfaatkan peluang yang ada guna menggejot kredit. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Ahmad Baiquni membocorkan strategi ekspansi bisnis BNI tahun depan dalam acara Closing Bell CNBC Indonesia TV yang dipandu oleh Erwin Surya Brata.

Berikut nukilan wawancaranya:

Bagaimana gambaran pertumbuhan kredit 2018?



Kalau kita melihat prospek kredit tahun 2019 sepertinya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2018 karena kalau kita lihat tahun 2018 ini tahun politik juga. Ada pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres). Memang mau tidak mau ini akan mempengaruhi bisnis itu sendiri.

Soal target kredit, seberapa yakin akan tercapai akhir tahun ini?

BNI sendiri memang bank yang fokus untuk membiayai sektor koporasi atau wholesales, kurang lebih 50% kredit kita ada di sektor wholesales dan wholesales tersebut ada sektor private dan BUMN.

Nah, dengan perpaduan private dan BUMN kita masih melihat infrastruktur masih menjadi andalan kredit korporasi kita khususnya BUMN-BUMN. Namun demikian di samping infrastruktur, ada juga sektor lainnya yang cukup potensial antara lain sektor manufacturing.

Strategi BNI Genjot Kredit di Tahun PolitikFoto: CNBC Indonesia

Apalagi kalau kita lihat manufacturing yang ada, banyak pemain-pemain yang besar mulai mengarah ke hilirisasi. Tujuan dari hilirisasi untuk mengurangi dampak dari fluktuasi harga komoditas.

Contohnya, CPO atau sawit. Kalau hanya bicara sawit, ini kan comodity, harga sangat berfluktuasi tapi kalau diproses, bisa menjadi biodiesel atau oleochemicals, ini fluktuasi harganya bisa dikurangi dan nilai tambahnya cukup besar dan BNI kita melihat hilirisasi dari produk CPO tadi cukup menjanjikan.

Akhir tahun BNI optimistis kredit korporasi tumbuh 14-15%, realisasinya?

Korporasi realisasi akhir tahun bisa minimal 13%-14%.

Gambaran kredit korporasi tahun depan?

Kita akan menjaga komposisi kredit korporasi tahun depan. Saat ini kisarannya antara 50%-52% dan kita akan jaga di kisaran itu. Sehingga kita masih optimistis kredit korporasi bisa di kisaran 12%-14%.

Pendorong kredit lain tahun 2019?

Pertama tadi saya katakan infrastruktur. Kedua manufacturing. Manufacturing itu sebenarnya sub sektornya macam-macam itu ada bisa makanan dan minimum, alat angkutan.

Di samping itu, yang kita harapkan dari kredit menengah maupun kredit kecil dan juga kredit konsumer.

Kredit konsumer sendiri sebenarnya potensinya masih cukup besar karena cukup banyak instansi-instansi dari pemerintah, termasuk BUMN dan BUMD, termasuk perusahaan swasta besar yang kita biayai.

Itu kan memberikan potensi kita untuk memberikan kredit konsumer, yang di BNI kita sebut Flexi ini adalah kredit yang dijamin dengan gaji karyawan itu sendiri dan ini banyak instansi yang payroll lewat BNI tetapi kita belum garap. Ini juga akan menjadi motor pertumbuhan kita.

Strategi BNI Genjot Kredit di Tahun PolitikFoto: Dok: BNI

Suku bunga acuan sudah naik tinggi, apakah sudah mempengaruhi permintaan kredit?

Sebenarnya permintaan kredit tidak berbanding lurus dengan suku bunga, kalanya ada saat suku bunga cukup tinggi tetapi dia melihat ini saat berekspansi atau saatnya menambah kapasitas produksinya, dia kaitkan juga dengan permintaan produknya.

Jadi tidak semata-mata karena suku bunga tetapi juga dari sisi peluang. Namun kita dari sisi perbankan juga melihat, satu sisi memang dengan adanya kenaikan [suku bunga]The Fed diikuti dengan BI 7 Day Repo Rate, itu akan meningkatkan biaya dana kita.

Tetapi tentunya kita berusaha juga mencari artinya kenaikan daripada biaya dana tersebut bisa kita redam dengan cara seperti apa kita meningkatkan low cost fund. Kita juga berusaha untuk meningkatkan efisensi tentunya.

Likuiditas yang ketat apakah jadi tantangan tahun 2019 bagi BNI?

Kalau kita lihat lihat likuiditas industri sekarang memang ketat, ukurannya LDR yang sudah di atas 90% . Ini indikasi likuiditas cukup ketat. Namun bagi BNI sendiri kita memelihara LDR kita di bawah 90% dan kebijakan ini yang selalu akan kita pegang.

Kita akan ekspansi kredit dan harus meningkatkan kemampuan kita sendiri untuk menghimpun dana itu sendiri dan kita selalu mencari sumber-sumber penghimpunan dananya.

[Gambas:Video CNBC]



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading