Polling CNBC Indonesia

Inflasi Kian Redup, Februari Diramal Cuma 0,08%

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
26 February 2021 16:03
Petugas Swalayan mengecek buah dan sayuran di Supermarket Kawasan Tangerang Selatan, Kamis (20/02/2020). Pemerintah berupaya melakukan peningkatan produksi buah-buahan dalam negeri dan diharapkan tidak hanya dilakukanuntuk mendongkrak ekspor. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Aktivitas dan mobilitas rakyat yang terbatas membuat kepercayaan konsumen tergerus. Ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis BI. Pada Januari 2021, IKK tercatat sebesar 84,9, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang 96,5.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik mula. Kalau masih di bawah 100, maka konsumen secara umum pesimistis dalam memandang perekonomian, baik saat ini maupun enam bulan yang akan datang.


"Pada Januari 2021, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini melemah dari bulan sebelumnya, diindikasi karena diberlakukannya kebijakan PPKM di beberapa wilayah, khususnya Jawa dan Bali, yang berdampak pada kembali menurunnya aktivitas ekonomi dan terbatasnya penghasilan masyarakat. Keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini melemah disebabkan penurunan penghasilan rutin (gaji/upah/honor) maupun omset usaha, yang ditengarai akibat PPKM.

"Keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja pada Januari 2021 juga tercatat menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Sejalan dengan penurunan keyakinan terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja, keyakinan konsumen untuk melakukan pembelian barang tahan lama pada Januari 2021 juga mengalami penurunan, terutama pada jenis barang elektronik, furnitur, dan perabot rumah tangga," jelas laporan BI.

Kelesuan konsumsi rumah tangga juga tergambar dari penjualan ritel. BI melaporkan penjualan ritel yang diukur dengan Indeks Penjualan Rill (IPR) pada Desember 2020 adalah 190,1. Dibandingkan bulan sebelumnya memang naik 4,8%.

Namun perubahan secara bulanan agak kurang mencerminkan tren, karena diganggu oleh faktor musiman. Misalnya pada Desember tentu lebih baik ketimbang November karena ada momentum Hari Natal-Tahun Baru.

Oleh karena itu, biasanya yang lebih menggambarkan tren sehingga lebih konsisten adalah pertumbuhan tahunan. Nah, dalam hal ini penjualan ritel masih nyungsep dan belum kunjung bangkit.

Secara tahunan, penjualan ritel pada Desember 2020 tumbuh -19,2% YoY. Lebih parah ketimbang bulan sebelumnya yang -16,3% YoY.

Kali terakhir Indonesia membukukan pertumbuhan penjualan ritel yang positif pada November 2019. Artinya, kontraksi penjualan ritel sudah terjadi selama 13 bulan beruntun.

Apesnya, kemungkinan penderitaan itu masih berlanjut. BI memperkirakan penjualan ritel pada Januari 2021 masih negatif, hanya lebih landai di -14,2% YoY.

"Secara bulanan, IPR Januari 2021 diprakirakan menurun sebesar -1,8% sejalan dengan faktor musiman permintaan masyarakat yang menurun pasca-HBKN di tengah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali, serta faktor musim/cuaca dan bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah," sebut keterangan tertulis BI.

Dua data tersebut menggambarkan permintaan masyarakat sedang lesu. Kelesuan permintaan ini yang membuat laju inflasi melambat. Jika tidak segera ada perbaikan, maka niscaya ekonomi Indonesia masih akan terjebak di 'jurang' resesi pada kuartal I-2021.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(aji/aji)
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading