Megap-Megap Lagi, Bisnis PT Pos Kembali di Ujung Tanduk?

News - Redaksi, CNBC Indonesia
22 July 2019 06:27
Megap-Megap Lagi, Bisnis PT Pos Kembali di Ujung Tanduk?
Jakarta, CNBC Indonesia - Lagi dan lagi, PT Pos Indonesia masih dalam posisi yang terpuruk. Kabar yang beredar terakhir, PT Pos disebut akan bangkrut bahkan sampai meminjam uang hanya untuk membayar tunggakan gaji karyawannya saja.

SVP Kerjasama Strategis dan Kelembagaan PT Pos, Pupung Purnama mengakui adanya pinjaman ke bank yang nota bene digunakan untuk membayar gaji karyawan.

Namun, ia berharap kebangkrutan tidak menghampiri PT Pos. "Ya kalau bangkrut sih nggak lah. Mudah-mudahan nggak," kata Pupung.


"Benar kita meminjam uang ke bank, itu benar adanya ya, ya memang ada (pinjaman uang untuk bayar gaji karyawan)," imbuh Pupung dilansir detikcom.




Alasannya, menurut Pupung adalah memang situasinya sedang menyusahkan perseroan dan memaksa mereka untuk meminjam uang "Memang situasinya ya, situasinya lagi susah," ujarnya.

Sejak 2018, PT Pos memang tengah berjuang. Lini bisnis utamanya tak lagi menghasilkan karena tergerus teknologi.

Tunda Gaji Sudah Sejak Awal Tahun

Pada awal tahun 2019, PT Pos sudah menunda pembarayan gaji karyawan.

Penundaan itu merupakan buntut dari aksi unjuk rasa karyawan pada pengujung Januari lalu. Imbasnya, beberapa funding partner perseroan pun menunda pembiayaan program-program terkait operasional maupun rencana transformasi perusahaan.

"Sebagai catatan warning akan akibat tersebut sudah disampaikan dalam forum LKS (lembaga kerja sama) Bipartit untuk senantiasa menjaga hubungan kerja yang harmonis karena tanpa itu mitra pembiayaan Pos Indonesia akan berpotensi menahan pencairan pinjaman," demikian isi pernyataan tertulis PT Pos kala itu.

Merespons kondisi itu, Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPI) pun memberi ancaman mogok kerja bila gaji tak dibayar sampai 16 Februari 2019. Ketua Umum SPPI Rhajaya Santosa dalam keterangannya memberi sejumlah tuntutan kepada perusahaan terkait penundaan pembayaran gaji.

Megap-Megap Lagi, Bisnis PT Pos Kembali di Ujung Tanduk?Foto: Pekerja melakukan penyortiran paket yang datang dari luar negeri di Kantor Regional IV PT. Pos Indonesia (Persero) di Jln. Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (6/2/2019). Meskipun sejumlah pekerja dari Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPIKB) menggelar aksi demo aktivitas pengiriman tetap berjalan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)


Tuntutan itu dituangkan dalam lima poin penting. Poin pertama adalah jajaran direksi Pos Indonesia diwajibkan mengembalikan uang gaji Bulan Februari 2019 dan Tantiem tahun 2017 (dan mungkin tahun 2018 juga), serta mengembalikan uang kenaikan tunjangan representasi para pejabat SPV/VP/setingkat yang telah dinaikkan selama periode 2017-2018.

Apa yang menimpa PT Pos juga tergambar di level terbawah atau yang akrab disapa dengan sebutan Pak Pos. Yanto, bukan nama sebenarnya, mengaku harus hidup dalam kondisi pas-pasan.

"Kasihan nasib kurang lebih 28 ribu pegawai karyawan PT Pos dan keluarga. Yang lebih mengenaskan mereka yang cicilan di bank dan pinjaman yang dipotong dari gaji," katanya, Jumat (1/2/2019), seperti dilansir detikcom.

"Di PT Pos yang enak-enak itu para vice president dan senior vice president. Gaji mencapai Rp 40 jutaan sebulan. Di bawah, rata-rata Rp 4 jutaan yang berkeringat dan banting tulang. Itu pelaksana yang hidupnya pas-pasan," keluhnya.

2018 Dimulainya Tahun Berat

Jauh sebelum polemik yang mengemuka, bisnis PT Pos yang berat memang sudah menjadi rahasia umum. Titik awalnya terjadi sejak memasuki periode 2000-an. Kerugian demi kerugian menjadi sesuatu yang lumrah. Transformasi bisnis berupa diversifikasi usaha pun dilakukan perseroan dari ritel sampai properti.

Tahun lalu, PT Pos masih menjalani tahun yang berat. Ditemui di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Senin (26/11/2018), Direktur Utama Pos Indonesia, Gilarsi W. Setijono, mengakui bahwa sepanjang 2018 ini menjadi tahun yang berat. Target laba sebesar Rp 400 miliar yang dicanangkan tahun ini pun terancam tak tercapai.

"Kita gak tercapai. Saat ini ya hampir seperempatnya saja, berat aprroximate lah ya, Rp 100 miliar," ungkapnya.

Megap-Megap Lagi, Bisnis PT Pos Kembali di Ujung Tanduk?Foto: Pekerja melakukan penyortiran paket yang datang dari luar negeri di Kantor Regional IV PT. Pos Indonesia (Persero) di Jln. Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (6/2/2019). Meskipun sejumlah pekerja dari Serikat Pekerja Pos Indonesia (SPPIKB) menggelar aksi demo aktivitas pengiriman tetap berjalan. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)


Dia menjelaskan, sejauh ini PT Pos Indonesia memiliki tiga lini bisnis terbesar, meliputi parsel, jasa keuangan dan surat. Dia menegaskan, bisnis persuratan saat ini sudah jauh menurun seiring perkembangan teknologi informasi.

"Jasa layanan keuangan, dengan aturan OJK [Otoritas Jasa Keuangan] akhir 2014 bahwa semua orang bisa jadi agennya bank, dengan agen Laku Pandai itu maka Pos menjadi kehilangan dominasinya," keluh Gilarsi.

Pertumbuhan signifikan yang berlangsung pada produk-produk sektor e-commerce sempat menjadi harapan bagi PT Pos Indonesia. Dikatakan, dalam tiga tahun terakhir e-commerce tumbuh sampai 400 %. Meski begitu, yang paling berkontribusi terhadap perolehan laba masih berfokus pada pengiriman surat dan uang.

"Jasa keuangan dan surat itu marginnya agak lebih baik dibandingkan parsel, sama-sama tarif sama tapi yang satu angkat satu kilogram betul satu kilo, yang satu kan satu kilo bisa 20-30an, kalau jasa keuangan kita sudah punya kantor sudah dibayar, orang sudah dibayar, paling hanya switching saja," urainya.

Gilarsi menambahkan Pos Indonesia mempunyai jaringan yang sangat luas yaitu lebih dari 4.800 Kantor Pos di Indonesia, dan lebih dari 4.300 diantaranya telah online.





[Gambas:Video CNBC] (dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading