Neraca Dagang Surplus (Lagi), Istana: Bungkam Pesimisme

News - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
15 April 2019 20:10
Neraca Dagang Surplus (Lagi), Istana: Bungkam Pesimisme Foto: Ekspor Perdana Kuala Tanjung. (CNBC Indonesia/Anastasia Arvirianty)
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Maret 2019 mencatatkan surplus sebesar US$ 540 juta, meskipun masih menyisakan beberapa catatan.

Pasalnya, jika diakumulasi sepanjang Januari - Maret, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan defisit sebesar US$ 193,4 juta. Kondisi ini, berbeda dengan tahun lalu.

Pada periode sama tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia masih bisa membukukan surplus US$ 314,4 juta. Meski demikian, kondisi ini masih cukup menggembirakan.


Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika menilai, data terbaru neraca perdagangan berhasil membalikkan pandangan pesimis sejumlah pihak yang memperkirakan neraca dagang akan mencetak defisit.


"Pemerintah berhasil membalik pandangan pesimis sejumlah pihak yang memprediksi neraca perdagangan Maret 2019 bakal defisit hingga US$ 464 juta," kata Erani melalui keterangan resmi, Senin (15/4/2019).

"Bahkan ada yang memproyeksi defisit dalam rentang US$ 500 juta - US$ 1 miliar. Realitasnya, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus mencapai US$ 540,2 juta," katanya.

Erani menilai, catatan ini tak lepas dari upaya pemerintah, terutama dalam menjaga laju inflasi, mempermudah ekspor, serta langkah penghematan bahan bakar minyak yang selama ini jadi momok neraca dagang.

Berikut penjelasan lengkap Istana Negara atas realisasi neraca perdagangan Maret 2019 :

Pemerintah berhasil membalik pandangan pesimis sejumlah pihak yang memprediksi neraca perdagangan Maret 2019 bakal defisit hingga US$464 juta, bahkan ada yang memproyeksi defisit dalam rentang US$500 juta-US$1 miliar.


Realitasnya, neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus mencapai US$540,2 juta pada Maret 2019. Surplus perdagangan Maret melonjak dari Februari 2019 yang mencapai US$329,9 miliar. 

Ada beberapa catatan penting pada kinerja neraca perdagangan Maret ini. 

1. Nilai dan volume ekspor tumbuh di atas 10%. Nilai total ekspor nasional sepanjang Maret mencapai US$15,58 miliar, naik sekitar 11,7% (mom). Nilai ekspor nonmigas melonjak hingga 13% (mom).

Sementara itu, volume ekspor Maret naik hampir 10%; sedangkan volume ekspor nonmigas naik 17,72% (mom). Lonjakan volume ekspor mampu mengurangi pengaruh dari penurunan harga rata-rata ekspor Indonesia. Pada Maret 2019, harga rata-rata total ekspor turun 4,6% (mom), sedangkan harga rata-rata nonmigas turun 4% (mom). 

2. Nilai ke seluruh kawasan meningkat (kecuali Uni Eropa), sedangkan pada Februari menurun signifikan. Nilai ekspor Maret ke Asean naik 13% (mom); Uni Eropa turun tipis 0,6% (mom); Tingkok (28,4%); Jepang (13%); Amerika Serikat (8,4%); India (10%); Australia (8,5%); Korea Selatan (8,2%); dan Taiwan (55,7%). Total ekspor 13 negara tujuan utama naik 13,3%; sedangkan ekspor ke negara lainnya naik 12,3%. 

Sebagai perbandingan ekspor Indonesia ke Asean pada Februari turun 1,3%; Uni Eropa 19,6%; Tingkok (11%); Jepang (13,5%); Amerika Serikat (15,7%); India (4,74%); Australia (18,4%); Korea Selatan (11%); dan Taiwan (34,2%). Total ekspor 13 negara tujuan utama turun 10,5%; sedangkan ekspor ke negara lainnya turun 8,21%.

Kenaikan nilai ekspor ke negara-negara tujuan ekspor memberikan optimisme terhadap perbaikan neraca perdagangan. Di samping itu, pemerintah terus meningkatkan jangkauan ke negara-negara nontradisional, seperti kawasan Afrika. 

3. Nilai ekspor tumbuh melebihi nilai impor Maret. BPS mencatat, nilai impor Maret naik 10,3% (yoy); sedangkan nilai ekspor tumbuh 11,71% (mom). Hal ini menunjukkan upaya menekan impor dan meningkat ekspor mulai menunjukkan hasil.

Dengan langkah tersebut, maka neraca perdagangan diharapkan surplus hingga akhir tahun. Impor migas turun 2,7% (mom), sedangkan impor nonmigas naik 12,2% (mom). Kenaikan impor nonmigas terutama pada bahan baku/penolong industri.

Kinerja neraca perdagangan yang semakin membaik tidak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Beberapa di antaranya adalah:

1. Menjaga inflasi nasional, sehingga biaya bisnis semakin murah. Stabilitas inflasi berpengaruh terhadap biaya produksi, hingga pada harga barang-barang yang dihasilkan.

Bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, penurunan biaya produksi akan meningkatkan daya saing produk di pasar global, sehingga dapat bersaing dan merebut pasar produk dari negara lain. 

2. Langkah pemerintah dalam mengurangi hambatan ekspor dan memperluas pasar ekspor. Salah satu langkah pemerintah untuk menggenjot nilai ekspor adalah lewat negosiasi perdagangan ke negara-negara yang menghambat ekspor, terutama CPO dan batubara. Pemerintah telah berhasil menegosiasi tarif impor CPO dengan India.

Sementara itu, upaya perluasan pasar ekspor digagas ke Chili. Produk Indonesia ke Chili bersifat komplementer, sehingga tidak memiliki persaingan berarti. Beberapa produk nonmigas ke Chili adalag alas kaki, mesin, peralatan mekanik, serta pakaian. 

3. Penghematan BBM yang diikuti oleh program peningkatan energi terbarukan. Pada Maret 2019, nilai impor migas turun tipis sekitar 2,7% (mom), namun sepanjang Januari-Maret 2019, impor migas sudah turun hingga 28,9% (yoy). Volume impor migas per Maret turun 11,9% (mom) atau turun 21,36% (yoy) sepanjang Januari-Maret 2019. 

Selain program B20, peningkatan penggunaan energi terbarukan cukup membantu kebergantungan impor migas. Baru-baru ini, sejumlah perusahaan dari Swedia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia sepakat bekerja sama mencari peluang untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia.

Tahun lalu telah beroperasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) pertama di Indonesia, di Desa Mattirotasi, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap (Sidenreng Rappang), Sulawesi Selatan. Dari 30 unit kincir angin raksasa, saat ini telah dirampungkan sebanyak 22 unit.

Simak video tentang surplus neraca dagang Indonesia Maret 2019 di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading