Mengapa Produk Keramik RI Kalah Saing di Pasar Ekspor?

News - Samuel Pablo, CNBC Indonesia
15 March 2019 06:44
Mengapa Produk Keramik RI Kalah Saing di Pasar Ekspor?
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri keramik nasional memiliki potensi besar. Bahkan kapasitas terpasang industri tersebut mencapai 580 juta m2, terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Brasil.

Kendati demikian, produksi keramik nasional di tahun lalu baru sebesar 370 juta hingga 380 juta m2, sekitar 65,51% dari total kapasitas terpasang. Dengan kapasitas terpasang dan produksi yang cukup besar, pangsa ekspor keramik RI baru mencapai 10% dari total produksi dengan negara tujuan ekspor antara lain Filipina, Myanmar, Laos, dan Malaysia.

Harga bahan baku energi yakni gas alam (liquid natural gas/LNG) yang tinggi di dalam negeri menjadi satu-satunya penyebab produk industri keramik nasional kalah kompetitif di pasar ekspor.




Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan, untuk bisa bersaing secara kompetitif dengan ekspor keramik dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, industri butuh harga LNG yang lebih murah.

Dia menjelaskan, harga gas bagi industri keramik di Tanah Air saat ini masih mengalami disparitas yang signifikan di setiap provinsi. Di Jawa Timur saat ini, harga gas sebesar US$ 7,98/MMBTU, di Jawa Barat-Banten US$ 9,1/MMBTU dan di Sumatera Utara US$ 9,3/MMBTU.

Bila dibandingkan dengan negara lain, termasuk negara tetangga, harga gas yang diterima industri keramik Tanah Air masih jauh lebih mahal.

Mengapa Keramik RI Kalah Saing di Pasar Ekspor?Foto: Aristya Rahadian Krisabella


Wakil Ketua Komite Tetap bidang Industri Hulu dan Petrokimia Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Achmad Widjaja mengungkapkan, industri keramik di Uni Eropa mendapatkan harga gas yang berdaya saing seharga US$ 3-4/MMBTU, sementara di Malaysia sekitar US$ 6-7,5/MMBTU.

"Kami minta kepastian dan keberpihakan pemerintah dalam menjamin pasokan energi yang berdaya saing," kata Achmad dalam sebuah seminar di JCC, Jakarta, Kamis (14/3/2019).



Sebagai informasi, komponen biaya LNG menyumbang 30% hingga 35% dari total biaya produksi keramik.

Edy mengatakan, pangsa ekspor keramik RI bisa melonjak menjadi lebih dari 30% kalau harga gas ini bisa ditekan ke level yang lebih rendah.

"Kalau harga gas bisa diturunkan ke level yang setara dengan Malaysia, yakni US$ 7,5/MMBTU, kami yakin pangsa ekspor keramik nasional bisa tembus di atas 30%. Harapan kami paling tidak harga gas di Jawa Timur dan Jawa Barat disamakan saja jadi US$ 7,98/MMBTU. Kami tidak minta sesuatu yang di luar kemampuan pemerintah," jelasnya.

Simak video terkait industri keramik di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading