Newsletter

Ancaman Resesi Kian Ngeri, IHSG Bisa Happy Weekend?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
23 September 2022 06:00
393293 01: A view of the World Bank building October 5, 2000 in Washington, DC. The World Bank bank lends money to developing countries around the world. (Photo by Per-Anders Pettersson/ Getty Images)

Jakarta, CNCB Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup variatif pada perdagangan Kamis (22/9/2022) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara mengejutkan ditutup menguat, rupiah tercatat melemah, sedangkan mayoritas surat berharga negara (SBN) ramai dilepas investor terlihat dari naiknya angka imbal hasil.

Indeks acuan utama bursa domestik, kemarin menguat 0,43% di 7.218,91 setelah dibuka di zona merah. Pelemahan di awal perdagangan ini selaras dengan yang terjadi di bursa Asia lainnya merespons amblasnya indeks utama Wall Street setelah The Fed mengumumkan kenaikan kembali suku bunga acuan sebesar 75 bps. Akan tetapi pada perdagangan sesi kedua, IHSG mampu menjaga penguatan dan berakhir di zona hijau.

Mayoritas indeks sektoral juga berakhir menguat, kecuali sektor konsumer siklikal (non-primer), kesehatan dan teknologi yang terdepresiasi.


Sektor energi menguat 2,21% dan menjadi pendorong utama penguatan IHSG kemarin. Sementara itu secara spesifik emiten pertambangan merupakan penggerak utama, dengan empat daily moversteratas berasal dari grup industri tersebut. Selanjutnya terdapat dua emiten pertambangan lagi dalam jajaran top 10 daily movers.

Nilai transaksi indeks mengalami kenaikan dari beberapa hari terakhir menjadi Rp 13 triliun, namun masih jauh lebih rendah dari rata-rata harian pekan lalu yang mencapai lebih dari Rp 20 triliun. Sebanyak 31 miliaran saham yang berpindah tangan 1,42 juta kali, dengan 277 saham terapresiasi, 233 saham terdepresiasi, dan 185 saham lainnya stagnan.

Kondisi berbeda terjadi di pasar keuangan lain, di mana kemarin rupiah kembali melemah tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) dan ditutup menembus level psikologis Rp 15.000/US$.

Melansir data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan di Rp 15.015/US$, melemah 0,13% di pasar spot. Sebelumnya, Mata Uang Garuda sempat menyentuh Rp 15.040/US$ yang merupakan level terlemah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Meski melemah, rupiah menjadi mata uang terbaik di Asia pada hari ini. Sebab pelemahannya paling kecil setelah Bank Indonesia (BI) memberikan kejutan dengan menaikkan suku bunga lebih tinggi dan menyatakan komitmen untuk menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil.

Sama dengan yang terjadi rupiah, investor pasar modal juga tampaknya merespons positif kenaikan suku bunga yang merupakan langkah utama untuk menurunkan ekspektasi inflasi.

Pada pengumuman hasil RDG hari ini, BI menyatakan kenaikan suku bunga juga dilakukan untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

Terakhir dari pasar obligasi, harga mayoritas SBN ditutup melemah. Imbal hasil SBN nyaris secara eksklusif turun kemarin, kecuali untuk SBN tenor 3 tahun yang malah diburu oleh investor dan ditandai dengan turunnya yield.

Melansir data dari Refinitiv, yield SBN tenor 3 tahun turun 1,2 basis poin (bp) ke posisi 6,226% pada perdagangan hari ini.

Investor Takutkan Resesi, Wall Street Ambles Lagi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading