Newsletter

Pasar Keuangan Waspada! Banyak Kabar Tak Sedap di Awal Pekan

Market - Putra, CNBC Indonesia
22 November 2021 06:12
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (6/10/2021).  Indeks Harga Saham Gabungan berhasil mempertahankan reli dan ditutup terapresiasi 2,06% di level 6.417 pada perdagangan Rabu (06/10/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja pasar keuangan Tanah Air bisa dibilang cukup memuaskan minggu lalu. Harga saham dan obligasi pemerintah menguat dan hanya nilai tukar rupiah saja yang stagnan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat lebih dari 1% dan sukses mencetak level tertinggi sepanjang masa barunya yaitu di 6.720,99. Penguatan IHSG juga dibarengi dengan kenaikan harga obligasi pemerintah yang tercermin dari penurunan imbal hasil (yield).


Yield Surat Berharga Negara (SBN) untuk semua tenor acuan cenderung mengalami penurunan. Penurunan yield yang paling signifikan dijumpai di seri-seri tenor pendek 1-5 tahun.

Yield obligasi pemerintah RI masih tetap berada di level terendahnya dalam beberapa tahun terakhir meskipun tekanan inflasi global cenderung meningkat dan potensi pengetatan kebijakan moneter juga semakin terlihat.

Berbeda dengan saham dan obligasi negara, kurs rupiah cenderung stagnan di Rp 14.235/US$, sebelumnya sempat berfluktuasi dengan menguat ke Rp 14.180/US$, kemudian melemah di Rp 14.270/US$.

Secara makro, kabar baik datang dari rilis kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2021 yang mencatatkan surplus besar US$ 10,7 miliar.

Kinerja NPI membaik dari kuartal sebelumnya. Pasalnya pada periode April-Juni 2021, NPI Indonesia mengalami defisit US$ 0,4 miliar.

Surplus NPI ditopang oleh kinerja transaksi berjalan yang surplus US$ 4,5 miliar atau setara 1,5% PDB. Semua ini berkat neraca dagang barang RI yang juga surplus sebesar US$ 13,24 miliar pada periode yang sama. Ekspor Indonesia yang tumbuh signifikan menjadi pendorong terbesarnya.

Ekspor RI yang melesat sejalan dengan perekonomian global terutama negara-negara mitra dagang yang tetap solid dan kenaikan harga komoditas ekspor utama seperti batu bara hingga minyak sawit mentah (CPO) yang keduanya sempat tembus level all time high.

Secara teoritis, perbaikan kinerja NPI dan transaksi berjalan ini akan menjadi modal rupiah untuk menguat, atau setidaknya stabil. Stabilitas rupiah diharapkan bakal menarik minat investor asing untuk masuk ke pasar keuangan RI dan membeli berbagai aset portofolio ataupun masuk lewat skema investasi langsung.

Duh! Wall Street Bawa Kabar Tak Sedap Nih
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading