Newsletter

The Fed Sebut Tapering Mulai Tengah November, IHSG Kuat?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
14 October 2021 06:18
Trader Gregory Rowe, right, works on the floor of the New York Stock Exchange, Wednesday, Dec. 11, 2019. Stocks are opening mixed on Wall Street following news reports that US President Donald Trump might delay a tariff hike on Chinese goods set to go into effect this weekend. (AP Photo/Richard Drew)

Bursa saham AS alias Wall Street cenderung ditutup menguat alias rebound dari koreksi selama 3 hari terakhir, dipimpin oleh kenaikan saham raksasa seperti Amazon.com dan Microsoft.

Indeks Dow Jones ditutup datar di 34.377,81, sementara indeks S&P 500 naik 0,3% ke 4.363,85 dan Nasdaq Composite naik 0,7% ke posisi 14.571,63.

Indeks S&P 500 sempat secara singkat menambah kenaikan setelah rilis risalah dari pertemuan kebijakan The Fed September yang dirilis pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB.


Berdasarkan risalah tersebut, para gubernur bank sentral AS mengisyaratkan bahwa mereka dapat mulai mengurangi dukungan era krisis untuk ekonomi alias melakukan tapering secara bertahap pada pertengahan November, meskipun mereka tetap silang pendapat atas seberapa besar ancaman inflasi yang tinggi dan seberapa cepat mereka mungkin perlu menaikkan suku bunga.

Risalah pertemuan tersebut menunjukkan, para anggota merasa The Fed telah hampir mencapai tujuan ekonominya dan segera dapat mulai menormalkan kebijakan dengan mengurangi laju pembelian aset bulanannya.

Sebelumnya, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan harga konsumen meningkat solid pada September, semakin memperkuat kasus kenaikan suku bunga Fed.

Inflasi September di AS tercatat tumbuh 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, atau lebih tinggi dari perkiraan ekonom dalam survei Dow Jones yang memperkirakan angka pertumbuhan sebesar 0,3% secara bulanan dan 5,3% secara tahunan.

Inflasi inti tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 4% secara tahunan, atau relatif sama seperti perkiraan yang masing-masing berujung pada angka sebesar 0,3% dan 4%.

Saham JPMorgan Chase & Co turun 2,6% meskipun pendapatan kuartal ketiga JPMorgan mengalahkan ekspektasi analis, dibantu oleh boom pembuatan kesepakatan global dan pelepasan lebih banyak cadangan kerugian pinjaman.

Saham JPMorgan turun bersama dengan saham bank lainnya dan merupakan salah satu pemberat terbesar pada S&P 500 dan Dow Jones, yang ditutup mendatar.

Musim laporan pendapatan kuartal ketiga tahun ini untuk perusahaan S&P 500 sudah dimulai pada Rabu.

"Harapan saya adalah saat kita menyimak musim pendapatan, penanda ke depan akan cukup baik sehingga kami akan menutup tahun lebih tinggi. Tapi saat ini pasar sedang dalam fase 'show-me'," kata Jim Awad, direktur pelaksana senior di Clearstead Advisors LLC di New York kepada Reuters, dikutip CNBC Indonesia (14/10).

Sementara, saham mega-caps termasuk Amazon.com Inc, induk Google Alphabet dan Microsoft Corp semuanya naik.

Analis memperkirakan perusahaan Amerika akan melaporkan pertumbuhan laba yang kuat pada kuartal ketiga, tetapi kekhawatiran investor telah meningkat tentang bagaimana masalah rantai pasokan, kekurangan tenaga kerja, dan harga energi yang lebih tinggi dapat memengaruhi bisnis yang sedang berusaha pulih dari pandemi.

Bank of America, Citigroup, Wells Fargo dan Morgan Stanley akan melaporkan hasil pada hari Kamis, sementara Goldman Sachs akan melaporkan pada hari Jumat waktu AS.

Sentimen Pasar Hari Ini: Dari Tapering The Fed sampai Inflasi China
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading