Newsletter

IHSG-Rupiah Kayaknya Mau Berjaya, Jangan Ketinggalan Kereta!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
04 May 2021 06:00
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia terkoreksi pada perdagangan kemarin. Rilis data ekonomi terbaru tidak banyak membantu minat investor untuk masuk ke pasar keuangan Tanah Air.

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,72% ke 5.952,59. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis 0,03% ke Rp 14.445/US$ di perdagangan pasar spot.

Harga obligasi pemerintah pun turun. Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah seri acuan tenor 10 tahun naik tipis 0,5 basis poin (bps). Kenaikan yield menandakan harga Surat Berharga Negara (SBN) mengalami koreksi.


Pada pagi hari, IHS Markit membawa kabar gembira. Aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dengan Purchasing Managers' Index (PMI) mencatatkan rekor baru.

Pada April 2021, skor PMI manufaktur Indonesia ada di 54,6. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 53,2 sekaligus menjadi yang tertinggi dalam sejarah pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awa. Kalau di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang dalam fase ekspansi.

Namun jelang tengah hari, ada rilis data lain yaitu inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada April 2021 adalah 0,13% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm) dan 1,42% dibandingkan April 2020 (year-on-year/yoy).

Dibandingkan Maret 2021, laju inflasi memang terakselerasi. Kala itu, inflasi bulanan adalah 0,08% mtm dan 1,37% yoy.

Namun perlu diingat bahwa bulan lalu bertepatan dengan Ramadan yang secara historis menjadi puncak konsumsi masyarakat. Selama periode 2010-2020, rata-rata inflasi bulanan saat Ramadan ada di 0,95%, nyaris 1%.

Kemudian coba lihat inflasi inti, yang berisi barang dan jasa yang harganya persisten, susah naik turun. Pada April 2021, inflasi inti tercatat 1,18% yoy, terendah sejak BPS mulai mencatat inflasi inti pada 2004.

Inflasi inti menunjukkan kekuatan daya beli masyarakat. Ketika laju inflasi inti melambat, tandanya ada yang salah di daya beli, ada penurunan.

Data inflasi menggambarkan bahwa konsumsi masyarakat masih belum lesu. Padahal konsumsi rumah tangga adalah kunci untuk menggeber pertumbuhan ekonomi karena konsumsi punya sumbangsih lebih dari 50% terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Dinamika ekonomi Indonesia yang masih diliputi ketidakpastian membuat investor pikir-pikir untuk masuk. Akibatnya, IHSG, rupiah, hingga harga SBN jadi melemah.

Halaman Selanjutnya --> Duet Dow Jones-S&P 500 Hijau, Nasdaq Merah Sendirian

Duet Dow Jones-S&P 500 Hijau, Nasdaq Merah Sendirian
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading