Newsletter

Arigatou Mr. Powell! Pasar Saham Jadi Kalem Karenamu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 February 2021 06:05
Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Angkat topi! Pasar keuangan domestik kemarin kompak ditutup di zona hijau. Baik rupiah, surat berharga negara (SBN) maupun indeks harga saham gabungan (IHSG) semuanya menguat walau tipis. 

Di pasar saham, indeks utama bursa lokal ditutup naik 0,29%. Investor asing pun mulai masuk ke bursa saham Tanah Air. Data perdagangan mencatat investor asing membeli bersih aset-aset ekuitas RI senilai Rp 505 miliar. 


Sebanyak 234 saham tercatat mengalami kenaikan nilai kapitalisasi pasar, 248 saham turun dan sisanya 154 saham yang diperdagangkan bergerak flat alias stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG menyentuh angka Rp 7.418,42 triliun.

Kendati Wall Street tak bergairah, mayoritas bursa saham kawasan Benua Kuning ditutup dengan happy. Ada tiga indeks saham Asia yang mengalami koreksi yaitu KLCI (Malaysia) yang turun 0,13%, Shang Hai Composite (China) drop 0,17% dan Kospi (Korea Selatan) yang ambles 0,31%. 

Sementara itu bursa saham Jepang hari ini libur karena memperingati hari ulang tahun sang Kaisar Negeri Sakura yaitu Naruhito.

Berbeda dengan saham, mata uang kawasan Asia Pasifik cenderung bergerak variatif (mixed). Di Asia rupiah menjadi juara. Namun masih kalah dengan dolar Australia yang menguat 0,21% terhadap greenback

Di arena pasar spot nilai tukar rupiah berhasil mencatatkan apresiasi sebesar 0,14% di hadapan 'Sang Maha Dolar'. Kini untuk US$ 1 dibanderol di Rp 14.090. Dolar AS sejatinya cenderung menguat di sepanjang awal tahun 2021. 

Secara year to date (ytd) indeks dolar mengalami apresiasi sebesar 0,25%. Harapan akan perekonomian AS yang lebih baik membuat greenback yang sudah lama tertekan akhirnya bangkit. 

Yield obligasi pemerintah AS pun ikut terkerek naik. Hanya dalam waktu singkat, imbal hasil nominal obligasi surat utang AS bertenor 10 tahun sudah tembus 1,36%. Sejak awal tahun, yield mengalami kenaikan hampir 50% mengingat yield masih di bawah 1% pada akhir Desember 2020. 

Setelah menguat signifikan, yield aset safe haven tersebut tampak mulai melandai. Hal ini berakibat pada penurunan imbal hasil nominal SBN tenor 10 tahun. Penurunan yield mencerminkan kenaikan harga instrumen investasi pendapatan tetap tersebut. 

Imbal hasil nominal SBN 10 tahun pemerintah RI berada di 6,6%. Apabila inflasi di bulan Januari 1,55% maka imbal hasil riilnya masih 5%. Jauh lebih menggiurkan dibanding imbal hasil riil surat utang AS yang mendekati nol persen cenderung negatif. 

Selisih (spread) imbal hasil riil kedua aset berupa surat utang tersebut masih terpaut 500 basis poin (bps). Imbal hasil yang menarik masih mendorong adanya inflow ke pasar obligasi negara. 

Per akhir Januari lalu kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 985 triliun. Porsinya naik dari posisi Desember yang hanya sebesar Rp 974 triliun. 

Gegara Powell Wall Street Balik Arah Dari Merah Jadi Ijo
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading