Newsletter

Setelah 9 Tahun, Surpluskah Neraca Berjalan Berkat Pandemi?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
20 November 2020 06:21
Live Streaming Pembacaan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan BI November 2020 Cakupan Triwulanan. (Tangkapan layar youtube BI) Foto: Live Streaming Pembacaan Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan BI November 2020 Cakupan Triwulanan. (Tangkapan layar youtube BI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham dan obligasi pada perdagangan Kamis (19/11/2020) sukses melanjutkan penguatan, meski rupiah tertekan, berkat kebijakan Bank Indonesia (BI). Hari ini, mari kita tengok kabar neraca pembayaran Indonesia. Surpluskah?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,66% ke 5.594,05 menyusul keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menurunkan suku bunga acuan menjadi 3,75%.


IHSG sebelumnya sempat dibuka di zona merah akan tetapi berhasil berbalik menguat (rebound) dan terus menanjak sejak pengumuman kebijakan penetapan B 7-Day Reverse Repo Rate tersebut. Suku bunga Deposit Facility turun jadi 3% dan suku bunga Lending Facility di 4,5%.

Harga saham emiten properti melesat setelah suku bunga acuan nasional tersebut ditetapkan pada level terendahnya sepanjang sejarah. Penurunan suku bunga acuan bakal memicu intermediasi perbankan dengan biaya bunga yang lebih murah, sehingga meningkatkan penjualan properti.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi beli bersih sebanyak Rp 266 miliar di pasar reguler, dari nilai transaksi Rp 13,15 triliun. Sebanyak 284 saham melesat, 160 turun, dan sisanya 172 stagnan.

Penguatan juga terjadi pada harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN), di mana SBN dikoleksi investor, kecuali yang bertenor 1 dan 5 tahun. Imbal hasil (yield) SBN tenor 1 tahun naik 5,8 basis poin ke 4,013% dan yang 5 tahun naik 4,1 basis poin ke 5,233%

Yield SBN dengan tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar melanjutkan penurunan, yakni 0,3 basis poin ke 6,178%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang naik. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Namun di pasar spot, nilai tukar rupiah melemah cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) karena investor memfaktorkan penurunan suku bunga BI ke dalam perhitungan investasi jangka pendek mereka.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.050/US$. Tetapi tidak lama, rupiah langsung masuk ke zona merah, melemah hingga 0,89% ke Rp 14.175/US$. Posisi rupiah sedikit membaik, di penutupan perdagangan berada di level Rp 14.140/US$, melemah 0,64% di pasar spot.

Dalam jangka pendek, penurunan suku bunga acuan membuat rentang (spread) imbal hasil SBN RI menipis jika dibandingkan dengan negara maju, yang bisa menekan harga surat utang karena menjadi kurang atraktif. Uang beredar pun berpotensi naik sehingga bisa menekan nilai tukarnya.

Namun di tengah ekspektasi banjir stimulus di Amerika Serikat (AS), Wall Street diperkirakan kebanjiran likuiditas sehingga pelaku pasar Negeri Sam bakal membelanjakannya ke pasar emerging market, salah satunya untuk membeli SBN setempat termasuk di Indonesia.

Dalam jangka panjang, suku bunga rendah membantu mempercepat bergulirnya perekonomian yang pada gilirannya membuat kelas aset investasi di Indonesia kembali meningkat dan memikat.

Saham Teknologi Diburu, Wall Street Berayun ke Jalur Hijau
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading