Newsletter

Perjanjian Renville Lebih Kongkrit dari Deal Fase 1 AS-China!

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
15 January 2020 06:34
Bursa saham menguat, harga obligasi naik tipis dan rupiah stagnan kemarin. Pelaku pasar di AS juga memilih tak masuk pasar dulu.
Hari ini, selera transaksi pemodal berpeluang menurun jika mengacu pada perkembangan damai dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, AS dan China. Beberapa media memberitakan bahwa kesepakatan yang bakal diteken tak banyak signifikan menyasar inti persoalan.

Bloomberg melaporkan bahwa AS dan China akan menelaah dan kemungkinan memangkas tarif yang ada paling cepat 10 bulan setelah 15 Januari. Mengutip sumber di Gedung Putih, CNBC International juga melaporkan bahwa tidak ada kesepakatan mengenai jalur teknis pemangkasan tarif.

Artinya, perjanjian yang diteken belum akan membawa perdamaian. Bisa dibilang, perjanjian Renville yang diteken Indonesia dan Belanda yang hanya berisikan tiga butir, terhitung lebih kongkrit isinya untuk mendamaikan konflik yang terjadi saat itu. Ada detil teknis mengenai wilayah de facto republik Indonesia dan penarikan pasukan.


Merespons perkembangan ini, Peter Boockvar, Kepala Divisi Investasi Bleakley Advisory Group, menilai tidak ada yang baru dari pemberitaan seputar perjanjian dagang fase satu sehingga Wall Street bergerak berfluktuasi.

"Ini tidak mengagetkan. Tak ada cetak biru untuk membatalkan tarif. Kami mencium gelagat itu ketika pengumuman pemangkasan tipis beberapa tarif produk dari 15% menjadi 7,5% sementara tarif semua produk lainnya tak berubah," tuturnya sebagaimana dikutip CNBC International.

Di sisi lain, Trump sudah bilang bahwa tak akan ada kesepakatan fase dua hingga pemilu November nanti. Ini memberikan nafas bagi China untuk bertaruh semua mimpi buruk ini berakhir jika Trump kandas di pemilihan.

Imbasnya, tarif tinggi masih akan berlangsung nyaris sepanjang tahun ini. Diskon tarif sebesar separuhnya menjadi 7,5% hanya dagelan semata karena pada 2017 sebelum genderang perang dagang ditabuh tarif setinggi 7,5% itu tak pernah ada.

Dengan kesepakatan yang kurang kongkrit, dan bahkan lebih kongkrit perjanjian Renville 73 tahun yang lalu, proyeksi Bank Dunia serta Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai perlambatan global pada tahun 2020 pun tidak terelakkan.

Kemarin China memang melaporkan ekspor Desember (dalam dolar AS) tumbuh 7,6% secara tahunan, jauh di atas konsensus Trading Economics yang memperkirakan angka 3,2% saja. Impor juga melejit, hingga 16,3%, juga jauh di atas konsensus yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 9,6% saja.

Namun, kenaikan angka tersebut terjadi dalam kondisi tidak biasa yakni pengenaan tarif tinggi oleh AS, yang merupakan mitra dagang utamanya. Trader kemungkinan sedang melakukan aksi borong barang untuk menghindari tarif baru Trump yang--belakangan dibatalkan--sedianya dijadwalkan efektif pada 2020.

Di tengah situasi demikian, pelaku pasar nasional akan mencari alasan untuk memborong atau melego saham-saham unggulan berdasarkan sentimen dalam negeri, yakni rilis data neraca perdagangan. Jika datanya positif, maka ada harapan IHSG bisa bertahan di jalur hijau.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia sejauh ini memperkirakan bahwa ekspor masih akan mengalami kontraksi (tumbuh negatif) 1,9% secara year-on-year (YoY). Sementara impor juga terkontraksi 4,4% YoY dan neraca perdagangan defisit US$ 456,5 juta.
Simak Agenda dan Data Hari Ini
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading