Newsletter

Obat The Fed Dinilai Tak Cukup, Beranikah Melawan Arus Lagi?

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
09 October 2019 06:52
Nafsu Perang Dagang Meninggi Lagi, Wall Street Tak Tertolong Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Luthfi Rahman

Nafsu Perang Dagang Meninggi Lagi, Wall Street Tak Tertolong

Bursa saham Amerika Serikat (AS) anjlok pada perdagangan Selasa, setelah optimisme investor akan damai dagang jelang pertemuan antara AS-China kembali mengabur oleh ulah Presiden AS Donald Trump mengenakan sanksi atas perusahaan China.

Indeks Dow Jones Industrial Average (Dow Jones) ditutup anjlok 313,98 poin (-1,2%) ke 26.164,04. Indeks Nasdaq turun 1,7% ke 7.823,78 sementara indeks S&P 500 terpeleset 1,6% ke 2.893,06.

AS merundung China jelang pertemuan pada 10 Oktober dengan menambah daftar perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) Tiongkok yang masuk dalam daftar hitam perdagangan dengan dalih pelanggaran hak azasi muslim Xinjiang.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan “tetap memantau” terkait kemungkinan aksi balasan terhadap AS. Telebih, Kementerian Dalam Negeri menyatakan AS akan mengenakan pembatasan visa terhadap pejabat China yang terkait dengan kaum minoritas di XInjiang.

Pidato Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell yang menyatakan bahwa bank sentral AS tersebut akan menambah neracanya “segera” guna mengatasi persoalan pendanaan di pasar obligasi beberapa pekan terakhir, tetapi bukan dalam bentuk quantitative easing.

Artinya, penambahan neraca bank sentral itu dilakukan dengan memberikan fasilitas repo bagi perbankan atau mengambil alihnya dengan uang tunai, sehingga akan ada uang baru yang dicetak oleh bank sentral tersebut dan masuk beredar ke sistem keuangan.

Namun, pengumuman itu tak lantas menolong Wall Street. Saham perbankan sudah terlanjur boncos oleh aksi jual. Koreksi lebih dari 1% menimpa Citigroup, Bank of America dan J.P Morgan Chase. Saham Caterpillar dan Boeing juga anjlok lebih dari 1%. Saham blue chip di sektor teknologi juga memerah mulai dari Facebook, Amazon, Apple dan Alphabet.

Negara Adidaya tersebut berencana menaikkan tarif terhadap produk impor dari China senilai US$ total $250 miliar, dari 25% menjadi 30% tepat pada tanggal 15 Oktober. Presiden AS Donald Trump mengatakan kenaikan itu berlaku jika tak ada kemajuan dalam negosiasi.

Dari sisi fundamental, indeks harga produsen AS tercatat anjlok terparah dalam delapan bulan terakhir pada September, terseret pelemahan biaya barang dan jasa. Harga produsen merupakan indikator inflasi sehingga pelemahan tersebut berpotensi mendorong The Fed melonggarkan kebijakan moneternya.

BERLANJUT KE HAL 3 >>>





(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading