Newsletter

Asa Damai Dagang AS-China Ternyata Masih Ada

Market - Hidayat Setiaji & M Taufan Adharsyah & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
17 May 2019 05:23
Pasar keuangan Indonesia ditutup bervariasi pada perdagangan kemarin. Bagaimana dengan hari ini?
Beralih ke Wall Street, tiga indeks utama ditutup menguat dengan cukup meyakinkan. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,84%, S&P 500 menguat 0,89%, dan Nasdaq Composite terangkat 0,97%. 

Laporan keuangan emiten menjadi faktor pendorong penguatan bursa saham New York. Harga saham peritel Walmart melonjak 1,43% karena pada kuartal yang berakhir 30 April berhasil mencatat laba per saham (Earnings Per Share/EPS) US$ 1,13. Lebih baik ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters yaitu di US$ 1,02. 

Penjualan sepanjang kuartal tumbuh 3,4% year-on-year (YoY), juga lebih baik dibandingkan konsensus yang memperkirakan 3,1%. Sementara total pendapatan naik 1% YoY menjadi US$ 123,9 miliar. 


Brett Biggs, Chief Financial Officer Walmart, menegaskan bahwa perseroan belum melihat tanda-tanda penurunan konsumsi masyarakat. Menurut Biggs, perang dagang dengan China memang berpotensi membuat harga-harga di tingkat konsumen naik. Namun Walmart akan menyiasati dengan mencari produk dari negara lain dan bekerja sama dengan pemasok untuk memperbaiki struktur harga. 

Lalu harga saham penyedia perangkat telekomunikasi Cisco meroket 6,66%. Pendapatan bersih pada kuartal yang berakhir 27 April tercatat US$ 3,04 miliar atau naik 13,01% YoY. EPS pun naik menjadi US$ 69 sen dari US$ 56 sen. 

"Kami masih memiliki aktivitas manufaktur di China. Akan tetapi kami telah berusaha membuat eksposurnya serendah mungkin dengan bekerja sama dengan para pemasok," kata Kelly Kramer, Chief Financial Officer Cisco, mengutip Reuters. 

Oleh karena itu, Kramer menyatakan dampak perang dagang AS-China bisa diminimalkan. Ini membuat investor lega dan memburu saham Cisco. 

Tidak hanya laporan keuangan, rilis data ekonomi AS juga mempertebal keyakinan pelaku pasar. Pembangunan rumah baru (housing starts) pada April naik 5,7% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 1,23 juta unit. Lebih baik ketimbang konsensus pasar yang memperkirakan di 1,2 juta unit. 

Suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di Negeri Paman Sam pun berangsur-angsur turun menjadi 4,1% pada April dibandingkan puncaknya yang sempat mencapai 4,94% pada November 2018. Langkah The Federal Reserve/The Fed yang berhenti menaikkan suku bunga acuan sejak akhir tahun lalu menjadi penyebab penurunan bunga KPR. 

Kemudian klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 11 Mei turun 16.000 menjadi 212.000. Lebih rendah dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan di angka 220.000. 

Dua data ini memberi gambaran bahwa pendapatan rumah tangga di Negeri Adidaya masih meningkat, sehingga konsumsi tetap kuat. Konsumsi rumah tangga menyumbang hampir 70% dari PDB di AS, sehingga investor boleh berharap pertumbuhan ekonomi akan tetap tinggi. 

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)

Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini (1)
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading