Trump-Jinping Batal Bertemu, Wall Street Akan Terkoreksi

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
14 March 2019 21:59
Trump-Jinping Batal Bertemu, Wall Street Akan Terkoreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di Wall Street cenderung dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Kamis 14/3/2019. Indeks Dow Jones dan S&P 500 turun masing-masing sebesar 0,04% dan 0,02%, sementara indeks Nasdaq Composite menguat 0,02%.

Perkembangan perang dagang AS-China yang tidak menggembirakan mendorong aksi jual di bursa saham Negeri Paman Sam. Tiga orang sumber mengatakan bahwa pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping batal dilakukan akhir bulan ini, seperti dilansir dari Bloomberg.

Menurut salah seorang dari sumber tersebut, kalau jadi digelar pun, pertemuan antara Trump dan Xi baru akan terjadi pada akhir bulan April.


Mundurnya pertemuan antara Trump dan Xi tersebut mengindikasikan bahwa negosiasi dagang kedua negara berjalan dengan alot.


Memang, Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer belum lama ini mengatakan bahwa isu-isu krusial belum mampu dipecahkan. Salah satu isu krusial yang dimaksud adalah terkait dengan perlindungan hak kekayaan intelektual.

Jika kedua negara tak kunjung mencapai kesepakatan, maka perang dagang antar keduanya justru akan tereskalasi. Balas membalas bea masuk akan semakin parah dan dipastikan semakin menekan laju perekonomian masing-masing.

Lebih lanjut, pelemahan Wall Street juga dipicu oleh rilis data ekonomi yang mengecewakan. Klaim tunjangan pengangguran untuk minggu yang berakhir pada 9 Maret diumumkan sejumlah 229.000, di atas konsensus yang sejumlah 225.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

Di sisi lain, sentimen positif bagi Wall Street datang dari perkembangan terkait proses Brexit yang kondusif.

Kemarin (13/3/2019) waktu setempat, parlemen Inggris menolak opsi No-Deal Brexit. Dalam pemungutan suara, sebanyak 321 anggota parlemen menolak opsi perpisahan secara kasar tersebut, sementara sebanyak 278 memberikan dukungannya.

Sebelumnya, Bank of England yang merupakan bank sentral Inggris telah memperingatkan bahwa No-Deal Brexit bisa mengakibatkan resesi.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Pada hari ini waktu setempat, parlemen Inggris akan kembali melakukan pemungutan suara untuk opsi memundurkan tanggal resmi Brexit yang saat ini dijadwalkan pada 29 Maret.

Trump-Jinping Batal Bertemu, Wall Street Akan TerkoreksiFoto: May Kembali Bicarakan Brexit di Parlemen (CNBC Indonesia TV)

Melalui sebuah cuitan di Twitter, Presiden Dewan Eropa Donald Tusk mengatakan bahwa dirinya akan meminta kepada 27 negara anggota Uni Eropa lainnya untuk membuka pintu untuk perpanjangan waktu yang lama bagi Inggris.

"Dalam kunjungan saya menjelang EUCO (European Convention), saya akan meminta kepada 27 negara Uni Eropa untuk membuka diri terhadap perpanjangan yang lama jika Inggris merasa perlu untuk memikirkan kembali strategi Brexit-nya dan menciptakan konsensus," papar Tusk melalui akun @eucopresident.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading