Kelar Libur Imlek, Harga Batu Bara Dibuka Melemah

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
11 February 2019 18:04
Kelar Libur Imlek, Harga Batu Bara Dibuka Melemah
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara termal di bursa berjangka Zhengzhou China melemah 1,3% ke 581,2 yuan (US$86,5) per ton pada Senin (11/2/2019), menyusul awan negatif yang masih menggelayuti prospek perekonomian dunia.

Koreksi terjadi pada perdagangan perdana di bursa tersebut, setelah selama sepekan Negeri Tirai Bambu tersebut libur untuk merayakan Tahun Baru China. 

Pelaku pasar terlihat masih memandang negatif prospek permintaan batu bara dunia, terutama di tengah masih tingginya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, serta perkembangan ekonomi Jerman yang diduga berpeluang mengalami resesi.
Harga Batu Bara Terseret Arah Pusaran Ekonomi DuniaSumber: Refinitiv
Perang dagang yang berlarut diprediksi memukul manufaktur kedua negara yang otomatis mengurangi tingkat konsumsi energi mereka. Bagi pelaku usaha batu bara, ini bukanlah kabar baik mengingat China merupakan pasar terbesar batu bara dunia dengan menyumbang separuh dari konsumsi global.


Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) pada Minggu memperingatkan pemerintah negara-negara di seluruh dunia untuk bersiap menghadapi "badai ekonomi" yang mungkin terjadi karena pertumbuhan global yang meleset dari perkiraan.

"Kita melihat perekonomian yang tumbuh lebih lambat dari apa yang telah kita antisipasi," kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam acara World Government Summit di Dubai, dilansir dari AFP.

Bulan lalu, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi globalnya tahun ini menjadi 3,5% dari perkiraan Oktober tahun lalu pada 3,7%. Lagarde mengutip apa yang ia sebut dengan "empat awan" sebagai faktor utama yang menjadi risiko ekonomi global.

Mantan menteri keuangan Prancis itu juga memperingatkan bahwa badai bisa saja menyerang.
Sementara itu harga kontrak batu bara berjangka di Newcastle berada pada level US$97,2 per ton atau melemah 0,6% pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu.

Koreksi tersebut terjadi bahkan di tengah terhentinya layanan bongkar muat di Abbot Point yang dinyatakan ditunda selama 7 hari ke depan, menyusul cuaca ekstrim dan hujan lebat di pelabuhan paling Utara di Benua tersebut.

Abbot Point merupakan pelabuhan terbesar di Negeri Kanguru. Beberapa perusahaan batu bara dunia menggunakan jasa pelabuhan, seperti misalnya Glencore yang banyak memiliki pertambangan di kawsan Newlands.

Gangguan pasokan batu bara dari Australia terhadap pasar dunia dinilai tidak akan berpengaruh banyak terhadap permintaan global yang cenderung tidak sekuat sebelumnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading