Sentimen Netral, Harga Batu Bara Stabil di US$ 105,35/MT

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
09 November 2018 12:02
Sentimen Netral, Harga Batu Bara Stabil di US$ 105,35/MT Foto: REUTERS/William Hong
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan terkoreksi tipis sebesar 0,09% ke US$ 105,35/ Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Kamis (8/11/2018). Harga sang batu hitam sedikit turun pasca sebelumnya menguat kencang nyaris 2%.

BACA: Banyak Sentimen Positif, Harga Batu Bara Naik Nyaris 2%!

Menurunnya impor batu bara China, serta tingginya tingkat stok batu bara di pembangkit listrik Negeri Panda, menjadi pemberat harga batu bara kemarin.


Meski demikian, musim dingin yang datang melanda sejumlah kota besar di China, serta moncernya data perdagangan internasional negara berpenduduk terbanyak di dunia tersebut, masih memberikan dukungan bagi pergerakan harga. 


China mengimpor batu bara dalam jumlah paling sedikit dalam 5 bulan terakhir, seiring stok di pembangkit listrik China berada di tingkat yang berkecukupan dalam menyambut musim dingin tahun ini.  Sebagai informasi, batu bara termal memang masih menjadi sumber energi utama bagi pembangkit listrik di China.

Impor batu bara China di sepanjang bulan Oktober diperkirakan setara dengan 744.500 MT/hari, lebih rendah dari 837.900/MT pada bulan sebelumnya, berdasarkan kalkulasi dari data bea masuk China.

Negeri Tirai Bambu kini memang cenderung lebih siap dalam mengantisipasi peningkatan kebutuhan listrik di musim dingin tahun ini. Mereka sudah belajar dari kelangkaan pasokan listrik yang terjadi pada musim dingin tahun lalu.

Alhasil, pembangkit listrik di Negeri Panda sudah melakukan akumulasi pembelian secara kencang sejak lewat pertengahan tahun ini. Pada bulan Juli dan Agustus 2018, China mengimpor batu bara sebanyak 900.000 ton/hari. Padahal tahun lalu, impor sebesar itu baru terjadi pada bulan September.

Akibatnya, stok batu bara pun meningkat tajam, seolah sudah tertimbun. Menurut data China Coal Resource, stok batu bara pada 6 pembangkit listrik utama China terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir, ke level tertingginya sejak Januari 2015. Teranyar, stoknya meningkat 8,1% secara mingguan (week-to-week/WtW) ke level 16,96 juta ton, pada pekan lalu.

Dengan tingginya tingkat stok batu bara tersebut, lantas investor mengekspektasikan bahwa permintaan impor batu bara Beijing akan menurun. Istilahnya, kebutuhan batu bara di China masih akan tercukupi oleh melimpahnya stok saat ini.

Meski demikian, pelaku pasar juga nampaknya mengekspektasikan permintaan impor China masih bisa terangkat seiring musim dingin yang akhirnya tiba di dataran China. Melansir data dari National Meterological Center di awal pekan lalu, temperatur di China bagian utara (termasuk kota-kota besar seperti Beijing, Hebei, dan Shanxi) jatuh ke bawah 0 derajat Cesius.

Pelaku pasar masih mengamati seberapa besar stok batu bara di pembangkit listrik China akan tergerus di musim dingin ini. Jika memang kebutuhannya begitu tinggi, bukan tidak mungkin kebutuhan impor akan naik. Namun, apabila ternyata musim dingin tidak seekstrim yang diperkirakan sebelumnya, bisa jadi konsumsinya akan cenderung lambat, sehingga bisa menekan harga lebih lanjut.

Faktor lainnya yang menyokong pergerakan harga adalah rilis data perdagangan internasional China kemarin. Sepanjang Oktober 2018, ekspor China tumbuh sebesar 15,6% secara tahunan (year-on-year/YoY), mengalahkan konsensus yang dihimpun oleh Reuters sebesar 11% YoY. Sementara itu, impor tumbuh sebesar 21,4% YoY, juga mengalahkan konsensus yang sebesar 14% YoY.

Pelaku pasar lantas menilai bahwa China ternyata tidak terlalu terluka akibat perang dagang dengan AS. Meski data-data ekonomi domestik melambat, seperti Purchasing Managers Index (PMI), tetapi kinerja eksternal China masih meyakinkan.   

Sebagai informasi, China adalah konsumen utama batu bara dunia, mencapai 1.892,6 metrik ton pada 2017 atau 51% dari total permintaan dunia. Satu negara menguasai lebih dari separuh permintaan global.Ketika kinerja ekonomi China impresif, maka ada harapan permintaan batu bara Beijing pun masih akan terjaga ke depannya.   

 (TIM RISET CNBC INDONESIA)  


(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading