Newsletter

Jokowi-Ma'ruf Amin vs Prabowo-Sandi, Siapa Pilihan Pasar?

Market - Hidayat Setiaji & Raditya Hanung & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
10 August 2018 06:04
Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini (2)

Cermati Sentimen Penggerak Pasar Hari Ini (2)

Sentimen kelima adalah dari dalam negeri, yaitu dinamika politik jelang Pilpres 2019. Akhirnya sudah jelas siapa yang akan mengikuti kontestasi tahun depan yaitu pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka dijadwalkan mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) hari ini. 

Di kubu Jokowi, terpilihnya Ma'ruf Amin bisa disikapi dari dua kacamata. Pertama, Ma'ruf bukanlah sosok yang memahami persoalan ekonomi secara keseluruhan. Dia juga sudah terlalu sepuh dan kurang popular di kalangan muda yang jumlahnya lebih dari separuh total pemilih. 

Namun kedua, keputusan Jokowi bisa membawa sentimen positif karena menghadirkan win-win solution untuk partai koalisi. Dipilhnya Ma'ruf juga dapat menjadi benteng yang kuat dalam meredam gejolak politisasi agama yang berkecamuk dalam beberapa waktu terakhir, khususnya sejak Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun lalu.  


Terlebih, kemarin Ma'ruf Amin langsung menyampaikan visinya di sektor perekonomian. Satu yang perlu dicatat adalah bahwa mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini menekankan untuk tidak boleh ada lagi impor di negeri ini, khususnya untuk komoditas pangan.  

"Tidak boleh negara ini tergantung pangan dari luar negeri, makanya kita harus penuhi. Tidak boleh ada impor. Masa impor jagung, gula," kata Maruf. 

Sementara di kubu Prabowo, terpilihnya  Sandiaga tidak terlalu mengejutkan karena sudah santer dibicarakan sebelumnya. Dari sisi ekonomi, Sandiaga lebih populer karena dia adalah sosok pengusaha yang pernah menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) pada 2005-2008.  

"Kami mohon doa restu untuk menghadirkan pemerintahan yang kuat dan kemandiran bangsa untuk membangun ekonomi," kata Sandiaga.

Menarik untuk melihat reaksi pasar atas resmi dimulainya ronde pertama tahapan Pilpres 2019. Siapa yang nantinya bakal memimpin Indonesia tentunya akan menjadi sentimen besar yang sangat mempengaruhi pasar.

Sentimen keenam, masih dari dalam negeri, adalah rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2018. Sebagai catatan, NPI pada kuartal I-2018 membukukan defisit US$ 3,8 miliar.  

Komponen yang mendapat sorotan dalam NPI adalah transaksi berjalan (current account). Pos ini dipandang sebagai fundamental ketahanan ekonomi suatu negara dari gejolak eksternal.

Sebab, transaksi berjalan menggambarkan aliran devisa dari sektor perdagangan, impor barang dan jasa. Devisa dari sektor ini lebih stabil dibandingkan investasi portofolio alias hot money, sehingga lebih bisa menopang fundamental perekonomian. 

Pada kuartal I-2018, transaksi berjalanan berada di posisi defisit US$ 5,5 miliar atau 2,15% dari PDB. Untuk kuartal II-2018, Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit ini akan melebar. 

"Kuartal II memang ada akselerasi impor sehingga memang kami melihat (defisit) transaksi berjalan bisa di atas 2,5% tetapi di bawah 3% (dari PDB)," kata Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, bulan lalu. 

Apabila defisit transaksi berjalan semakin melebar, maka hal ini akan menjadi kabar buruk bagi rupiah. Mata uang Tanah Air bisa kehilangan pijakan untuk bisa melanjutkan penguatan. 


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading