Newsletter

Aura Negatif dari New York

Market - Raditya Hanung & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
09 February 2018 05:30
Untuk perdagangan hari ini, investor patut mencermati kabar buruk dari Wall Street. Foto: Reuters
  • IHSG ditutup menguat 0,15% pada perdagangan kemarin.
  • Bursa saham Asia ditutup cenderung menguat, Nikkei naik 1,13%.
  • Wall Street terkoreksi dalam, Dow Jones anjlok 4,15%. 

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan kemarin, setelah mengalami hari yang naik-turun. Untuk perdagangan hari ini, investor patut mencermati kabar buruk dari Wall Street. 

IHSG ditutup menguat tipis 0,15% ke 6.544,63 poin pada perdagangan hari kemarin. Sebanyak enam sektor saham ditutup naik, dipimpin oleh sektor agrikultur yang menguat hingga 0,67%, sementara empat sektor lainnya yaitu pertambangan, barang konsumsi, manufaktur, dan aneka industri ditutup melemah. 


Transaksi berlangsung cukup semarak dengan nilai Rp 7,63 triliun. Sebanyak 183 saham ditutup menguat, 138 saham melemah, sementara 233 lainnya stagnan. 

Tren positif juga terjadi di bursa regional. Indeks Nikkei 225 naik 1,13%, Hang Seng naik 0,42%, Strait Times naik 0,95%, Kospi naik 0,46%, indeks SETi naik 0,05%, dan KLCI naik 0,15%. 

Penguatan bursa saham domestik dan regional dipicu oleh kuatnya data perdagangan China. Ekspor Negeri Tirai Bambu tumbuh 11,1% secara year on year (YoY) pada bulan lalu, lebih tinggi dari konsensus yang sebesar 9,6% YoY. Sementara impor melonjak hingga 36,9% YoY, jauh di atas ekspektasi yang sebesar 9,8% YoY. 

Namun kabar buruk datang dari Amerika Serikat (AS). Wall Street lagi-lagi harus mengalami koreksi yang signifikan.

Dow Jones babak belur dengan pelemahan mencapai 4,15% menjadi 23.860,46. Padahal awal tahun ini Dow Jones sudah mencapai level 26.000. Sementara S&P 500 turun tajam 3,75% menjadi 2.581,08 dan Nasdaq berkurang 3,9% ke 6.777,16. 

Secara year to date (YTD), Dow Jones sudah minus 3,47%. Kemudian S&P juga negatif 3,47% dan Nasdaq pun melemah 1,41%. 

Positifnya data-data ekonomi Negeri Paman Sam ternyata menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi data-data tersebut menjadi sentimen positif karena merupakan pertanda pemulihan ekonomi di Negara Adidaya. Namun di sisi lain, menjadi konfirmasi bahwa suku bunga harus sudah dinaikkan bahkan mungkin lebih cepat dan lebih besar dari perkiraan. 

Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran mingguan tercatat hanya 221.000 orang, terendah dalam 45 tahun. Jumlah tersebut lebih rendah dari pekan sebelumnya yang sebanyak 230.000. 

Pencapaian tersebut menandakan 153 minggu secara beruntun klaim pengangguran berada di bawah angka 300.000, sehingga mengindikasikan pasar tenaga kerja AS yang kuat. Upah tenaga kerja pun lantas diprediksikan tumbuh dengan lebih cepat pada tahun ini. Minggu lalu Departemen Tenaga Kerja AS mengumumkan upah per jam rata-rata periode Januari tumbuh 2,9% YoY, yang merupakan peningkatan tertinggi sejak 2009. 

Data ketenagakerjaan yang kuat merupakan syarat utama bagi The Federal Reserve/The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan. Oleh karena itu, pelaku pasar menjadi lebih yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan depan. 

Tidak hanya The Fed yang akan menaikkan suku bunga, sinyal pengetatan moneter juga terjadi di kawasan lain. Kejutan besar datang dari pernyataan bank sentral Inggris (BoE). Kemungkinan bank sentral Negeri Ratu Elizabeth akan menaikkan suku bunga lebih awal dan lebih besar dari perkiraan.  

“Dengan perekonomian yang pulih secara umum, kebijakan moneter memang sudah seharusnya diperketat kemungkinan lebih awal dan lebih besar dari perkiraan sebelumnya,” sebut pernyataan BoE, seperti dikutip dari Reuters. 

Di tengah gelombang kenaikan suku bunga, investor kemudian menyelamatkan diri masing-masing dengan menempatkan asetnya di instrumen paling aman. Pilihan utamanya adalah obligasi negara AS. 

Surat utang pemerintah Negeri Paman Sam tengah menjadi instrumen primadona di kalangan investor. Imbal hasil (yield) obligasi AS pada Kamis waktu setempat mencapai 2,88%. 

Untuk perdagangan hari ini, suka tidak suka sentimen dari Wall Street akan sangat mewarnai bursa Asia termasuk Indonesia. Investor akan cenderung bersikap mencari selamat sendiri dan melepas aset-aset yang dinilai berisiko. Pasar saham sepertinya akan tertekan lagi karena aura negatif dari New York tersebut. 

Harga minyak juga belum bisa diharapkan untuk menopang penguatan IHSG. Meneruskan tren dalam beberapa terakhir, harga si emas hitam masih terkoreksi cukup dalam. 

Penyebabnya adalah melimpahnya pasokan minyak di AS. Saat ini, ekspor minyak AS ke berbagai negara mencapai 1,5-2 juta barel/hari dan diperkirakan meningkat ke 4 juta barel/hari pada 2022. 

Tidak hanya harga minyak, harga batu bara pun anjlok sampai 11%. Sepertinya kinerja emiten migas dan pertambangan justru akan menjadi pemberat IHSG, bukan pendorong. 

Meski begitu, masih ada perkembangan positif yang bisa saja menyelamatkan IHSG yaitu dinaikannya peringkat surat utang Indonesia oleh Japan Credit Rating Agency (JCR). Peringkat surat utang jangka panjang dalam denominasi mata uang asing dinaikkan satu tingkat menjadi BBB, dari yang sebelumnya BBB-, sementara peringkat surat utang jangka panjang denominasi rupiah juga dinaikkan satu tingkat menjadi BBB+ dari yang sebelumnya BBB.  

Reformasi struktural yang dilakukan Presiden Joko Widodo dianggap sudah memberikan hasil nyata bagi perekonomian Indonesia, seperti membaiknya iklim investasi, pesatnya pembangunan infrastruktur, serta berkurangnya utang luar negeri sektor swasta. 

Berikut adalah peristiwa-peristiwa yang akan terjadi hari ini:

- Rilis data inflasi China periode Januari (08:30).
- Rilis data produksi manufaktur Inggris periode Desember 2017 (16:30).
Rilis data neraca pembayaran Indonesia kuartal IV-2017.

Berikut perkembangan sejumlah indeks saham utama:

Aura Negatif dari New York

Berikut perkembangan nilai tukar sejumlah mata uang:

Aura Negatif dari New York

Berikut perkembangan harga sejumlah komoditas:

Aura Negatif dari New York

Berikut perkembangan yield Surat Berharga Negara:

Aura Negatif dari New York

Berikut sejumlah indikator utama perekonomian nasional:

Aura Negatif dari New York
Artikel Selanjutnya

Saatnya Memantau Kinerja Korporasi


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading