Newsletter

Data Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci

Market - Raditya Hanung & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
05 February 2018 06:36
Pasar keuangan Indonesia menjalani saat yang bergelombang pekan lalu. Bagaimana dengan perdagangan hari ini?
  • IHSG melemah 0,47% sepanjang pekan lalu.
  • Bursa regional dan Wall Street pun terkoreksi cukup signifikan.
  • Hari ini, data pertumbuhan ekonomi domestik patut dicermati 

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia menjalani saat yang bergelombang pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak naik-turun, sejalan dengan bursa Asia dan Wall Street. 

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, IHSG menguat 0,46% ke 6.628,82. Namun sepanjang pekan lalu IHSG turun 0,47%. Nilai kapitalisasi pasar turun 0,41% sepanjang pekan lalu menjadi Rp 7.372,07 triliun dari Rp 7.402,95 triliun pada pekan sebelumnya. 

Rata-rata nilai transaksi harian pun tidak seramai pekan sebelumnya, yaitu berkurang 8,73% dari Rp 11,11 triliun menjadi Rp 10,14 triliun. Volume transaksi turun 4,71% dari 13,16 miliar unit menjadi 12,54 miliar unit. Frekuensi perdagangan ikut terpangkas 5,34% dari 427.720 kali menjadi 404.840 kali. 


investor asing juga cenderung keluar dari bursa saham Indonesia, dengan nilai jual bersih Rp 4,24 triliun selama pekan kemarin. Namun sepanjang tahun ini investor asing masih membukukan beli bersih senilai Rp 81,2 triliun. 

Saham-saham yang menguat signifikan sepanjang pekan lalu adalah TOBA (+82,75%), RAJA (+53,19%), dan MLPL (+40,59%). Sementara yang melemah cukup dalam di antaranya IBFN (-50,53%), DWGL (-25,98%), dan HDFA (-13,57%). Saham-saham yang banyak ditransaksikan sepekan kemarin antara lain adalah BKSL (7,52 miliar unit), MYRX (5,65 miliar unit), dan RIMO (4,88 miliar unit).  

IHSG terimbas aksi ambil untung setelah sebelumnya menguat lebih dari 5% sepanjang Januari 2018. Secara year to date (YtD) pun IHSG masih mencatatkan penguatan yang lumayan, yaitu 4,3%. 

IHSG bergerak searah dengan bursa regional. Hang Seng yang sepanjang tahun ini sudah menguat lebih dari 10% pada perdagangan akhir pekan lalu terkoreksi 0,12% menjadi 32.601,78. Selama sepekan, Hang Seng terpangkas 1,7%. 

Sementara indeks Shanghai selama pekan lalu turun 2,7%, Nikkei terkoreksi 0,9%, dan Strait Times berkurang 1%. Bursa-bursa regional terhempas aksi ambil untung massal, seiring penguatan signifikan yang terjadi sebelumnya.  

Bahkan setelah terkoreksi pun bursa regional masih menyimpan “tabungan” penguatan. Secara YtD, Hang Seng masih plus 8,97%, Shanghai menguat 4,68%, Nikkei positif 2,24%, dan Strait Times menyimpan penguatan 3,73%. Oleh karena itu, risiko ambil untung masih menghantui bursa regional termasuk IHSG. 

Koreksi dalam juga dialami Wall Street. Akhir pekan lalu, Dow Jones anjlok 2,54% ke 25.520,96, S&P 500 turun 2,12% menjadi 2.762,13 dan Nasdaq melemah 1,96% ke 7.240,95. 

Wall Street sepertinya mengambil nafas yang cukup dalam setelah berkali-kali mencetak rekor. Investor Negeri Paman Sam mengalihkan dananya dari pasar saham ke obligasi, setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah naik dan menyentuh kisaran 2,7%. Ini merupakan level tertinggi sejak Januari 2014. 

Selain kalah saing dengan obligasi, bursa saham AS juga sudah menguat cukup signifikan sehingga menggoda pelau pelaku pasar untuk mencairkan laba. Setelah koreksi pekan lalu, Dow Jones masih menguat 3,24% secara YtD. Sedangkan S&P 500 masih positif 3,31% dan Nasdaq bahkan masih ada penguatan 5,69%. 

Untuk perdagangan hari ini, investor bisa mencermati beberapa sentimen. Di antaranya adalah rilis data pertumbuhan ekonomi domestik yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik. 

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2017 sebesar 5,12% (year on year/YoY). Sehingga pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 diperkirakan 5,06% YoY dan proyeksi pertumbuhan 2018 adalah 5,28% YoY. 

Bila pencapaian pertumbuhan ekonomi sejalan dengan estimasi pasar, maka bisa menjadi sentimen positif bagi IHSG. Namun jika di bawah itu, maka akan berbalik menjadi penyebab koreksi lebih lanjut. 

Data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) juga akan dirilis hari ini. Namun biasanya baru diketahui setelah pasar tutup, sehingga kemungkinan baru menjadi sentimen pada perdagangan esok hari. 

Sementara di luar negeri, sejumlah data penting juga akan diumumkan seperti penjualan ritel di Eropa periode Desember dan suku bunga acuan bank sentral Uni Eropa (ECB). Pengumuman-pengumuman ini akan menggambarkan sejauh mana pemulihan ekonomi di Benua Biru. Bila jalur pemulihan ekonomi sudah semakin jelas, maka ECB akan semakin mengambil kuda-kuda untuk mengetatkan kebijakan moneter. 

Dari AS, akan ada rilis data tenaga kerja non manufaktur. Situasi ketenagakerjaan AS yang membaik akan menjadi salah satu pertimbangan bank sentral (The Federal Reserve/The Fed) untuk menaikkan suku bunga. Ketika suku bunga AS dan Eropa sudah naik, maka semua harus bersiap menghadapi tren kenaikan suku bunga global. 

Berikut perkembangan sejumlah bursa utama dunia:

Data Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci

Berikut perkembangan harga sejumlah komoditas utama:

Data Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci


Berikut perkembangan sejumlah mata uang dunia:

Data Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci

Berikut perkembangan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN):

Data Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci

Berikut sejumlah indikator ekonomi Indonesia:

Data Pertumbuhan Ekonomi Jadi Kunci
Artikel Selanjutnya

Bursa RI Merah Padam! Tenang...Asing Tetap Borong Saham


(aji/aji)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading