Bu Ibu Lumayan Nih, Harga Emas Antam Naik Seceng!

Investment - adf, CNBC Indonesia
02 October 2021 11:45
Petugas menunjukkan emas batangan di sebuah gerai emas di Pegadaian, Jakarta. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga Logam Mulia milik PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau emas Antam naik tipis pada perdagangan hari ini, Sabtu (2/10/2021). Kenaikan harga logam kuning ini merespons penguatan harga emas dunia.

Melansir data dari situs resmi milik PT Antam, logammulia.com, hari ini, emas dengan berat 1 gram dijual Rp 923.000/batang, naik Rp 1.000 dibandingkan harga kemarin. Sementara dalam sepekan, emas Antam naik 0,54%.

Sebelumnya, setelah sempat ambles ke Rp 913.000/batang, emas AntamĀ berhasil melonjak Rp 9.000 ke Rp 922.000/batang pada Jumat kemarin.


Sementara itu, harga emas dunia berhasil naik tipis dalam sepekan, berkat lonjakan pada 2 hari terakhir perdagangan.

Menurut data Refinitiv, selama sepekan harga emas dunia di pasar spot menguat 0,60% ke posisi US$1.760,36 berdasarkan penutupan pasar Jumat (1/10) kemarin.

Harga sang logam mulia naik tajam dalam 2 hari belakangan lantaran merespons data ketenagakerjaan terbaru di Amerika Serikat (AS). Pada pekan yang berakhir 25 September 2021, klaim tunjangan pengangguran bertambah 11.000 dari minggu sebelumnya menjadi 362.000. Tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, di mana konsensus pasar yang dihimpun Reuters memperkirakan jumlahnya turun menjadi 335.000.

Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja sepertinya belum pulih betul dari dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Sepanjang jalan menuju penciptaan lapangan kerja maksimal (maximum unemployment) belum terlihat, maka bank sentral AS The Federal Reserve/The Fed mungkin saja tetap mempertahankan kebijakan moneter akomodatif.

"Ada ketidakpastian soal kapan The Fed akan melakukan tapering (pengurangan pembelian surat berharga). Seperti diketahui, The Fed ingin pasar tenaga kerja yang kuat sebelum mengumumkan tapering," kata Robin Bhar, seorang konsultan independen, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, lanjut Bhar, emas juga kembali menjadi aset yang diburu pelaku pasar karena investor ingin melakukan lindung nilai (hedging) atas risiko percepatan laju inflasi di Negeri Paman Sam.

Emas sebagai Spekulasi?

Sebelumnya, di tengah persiapan perubahan arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) saat ini, membeli emas dikatakan sebagai spekulasi.

"Membeli emas saat ini lebih ke arah spekulasi, karena risiko penurunannya cukup tinggi. Apalagi kalau semakin banyak bank sentral yang menaikkan suku bunga," kata Peter Fertig, Analis di Quantitative Commodity Research, seperti dikutip dari Reuters.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil (yield) ketika suku bunga dinaikkan, maka akan menjadi kurang menarik. Opportunity cost dalam berinvestasi emas akan meningkat.

Apalagi, emas punya pengalaman buruk dengan perubahan arah kebijakan moneter The Fed. Di tahun 2013, The Fed mengumumkan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) yang diikuti ekspektasi kenaikan suku bunga, yang membuat emas masuk ke tren bearish (periode penurunan panjang) hingga tahun 2015.

Sepanjang periode tersebut, emas mencatat pelemahan hingga 45%.

Saat ini, The Fed diperkirakan akan mengumumkan tapering pada bulan November dan eksekusinya dilakukan di Desember. Sementara untuk suku bunga, dalam proyeksi terbarunya The Fed melihat suku bunga bisa naik di tahun depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading