4 Langkah Jitu Mencari Saham Mutiara Terpendam

Investment - dob, CNBC Indonesia
13 September 2021 14:51
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah volatilitas pasar modal yang terjadi akhir-akhir ini, sebagian investor -terutama yang pemula- kerap bingung untuk mencari saham yang masih murah dan memiliki potensi besar.

Tak jarang investor pemula ikut-ikutan arus saham yang sedang rally dan masuk di harga puncak. Berikutnya saham tersebut langsung terjun bebas ke level auto reject bawah dan membuat investor terjebak di dalamnya.

Rumor dan pemberitaan selalu mengiringi kenaikan harga emiten tersebut. Segala pembenaran terkait potensi emiten tersebut pun disampaikan melalui grup WhatsApp, Telegram, maupun sosial media lainnya.


Namun, apakah ada saham yang masih murah saat ini? Tentu ada, namun pemberitaan mengenai emiten ini cenderung sedikit dan cenderung tidak masuk radar dari grup investor.

Langkah pertama untuk mencari saham murah adalah melakukan screening terhadap valuasi. Salah satunya adalah dengan melihat price to book value (PBV) untuk emiten di sektor keuangan. PBV merupakan rasio harga saham terhadap nilai buku. Semakin rendah PBV maka saham tersebut masih tergolong murah dan begitu pula sebaliknya.

Sebagai contoh adalah PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk yang memiliki kode TUGU. PBV saham ini masih 0,36 kali. Total kapitalisasi pasar saham ini hanya Rp 2,85 triliun, sementara nilai ekuitasnya mencapai Rp 7,89 triliun. Sederhananya, untuk membeli TUGU seharga 100 anda cukup membayar 36. Murah kan!

Selesai di PBV, bukan berarti saham tersebut otomatis menjadi mutiara yang terpendam. Karena banyak saham yang PBV-nya rendah ketika kinerjanya sedang bermasalah.

Untuk itu, langkah kedua adalah mengecek kinerja perusahaan tersebut apakah sedang bermasalah atau tidak. Selain itu, bisa dilihat pula potensi saham tersebut pada masa mendatang.

Dari saham TUGU, kita bisa melihat kinerjanya yang terakhir, yakni Semester I-2021. Emiten ini mencatatkan laba sebesar Rp 142,43 miliar di Semester I-2021, naik 44,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan laba perusahaan diantaranya dikontribusikan oleh adanya peningkatan pendapatan underwriting yang naik sebesar 5% dari Rp 944,3 miliar menjadi Rp 991,1 miliar dan peningkatan pendapatan investasi, termasuk bagian laba bersih entitas asosiasi, yang naik sebesar 29,6% dari Rp 122,1 miliar menjadi Rp 158,3 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020.

Di sisi lainnya aset perusahaan meningkat sebesar 7,3% dari Rp 19,46 triliun pada Desember 2020, menjadi Rp 20,89 triliun di Juni 2021 dan ekuitas juga meningkat sebesar 1,3% dari Rp 8,45 triliun menjadi Rp 8,56 triliun. Dari contoh ini terlihat tidak ada masalah dari kinerja TUGU, bahkan cenderung positif.

Setelah mengecek kinerja, langkah ketiga adalah  mengecek siapa saja pemegang saham di dalamnya. Para pemegang saham ini bisa menjadi acuan, untuk perkembangan bisnis ke depan.

Sebanyak 58,5% saham TUGU dimiliki oleh PT Pertamina (Persero), yang menjadikan emiten ini sebagai anak usah BUMN. Sebanyak 5,29% dimiliki Samsung Fire & MarineCo, perusahaan asuransi dari Korea Selatan. Northstar Group, perusahaan investasi dengan modal senilai US$ 2,2 miliar, juga sudah mendeklarasikan telah berinvestasi di Tugu Insurance. 

Data tersebut menunjukan bahwa induk dari emiten ini merupakan perusahaan besar yang bisa mendukung kinerjanya. Selain itu, pemegang saham minoritas juga merupakan perusahaan yang kuat.

Terakhir, investor bisa mengecek volume perdagangan dari emiten tadi. Apabila volumenya masih belum ramai, umumnya harga saham belum akan bergerak kemana-kemana. Karena kenaikan saham rumusnya adalah permintaan lebih banyak dibandingkan dengan penawaran.

Namun, seiring dengan kinerja fundamental, perusahaan berkinerja bagus akan menarik perhatian sehingga volume perdagangannya akan meningkat dan otomatis akan membuat harga sahamnya lebih atraktif. Ketika hal ini terjadi, maka cuan sudah di depan mata.

Happy Cuan!!!


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading