Schroders: Ternyata Orang-orang Getol Investasi Saat Pandemi

Investment - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
02 September 2021 17:32
Suasana seminar yang bertajuk kemudahan Investasi Pasar Modal di Era Ekonomi Digital di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/8). Seminar ini diisi oleh pembicara dari Ady F. Pangerang, Presiden Direktur Bareksa.com, Samuel Sentana, Head of Fintech Tokopedi, dan Destya Danang Pradityo, Head of Financial & Payment Services BukaLapak. Seminar ini merupakan satu rangkaian dari acara Investor Summit 2018. Dalam seminar ini selain menginformasikan bahwa pembelian reksa dana telah dapat dilakukan melalui aplikasi dari kedua perusahaan, Bareksa, Tokopedia, dan BukaLapak juga membeberkan rencana untuk lebih membuka akses dan kemudahan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir sepertiga investor secara global berinvestasi lebih banyak pada saat masa pandemi Covid-19. Pandemi menyebabkan para investor lebih memikirkan mengenai kesejahteraan finansial mereka dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut.

Mengacu studi Investor Global Schroders 2021 yang menyurvei lebih dari 23.000 orang di 32 lokasi global, menemukan bahwa hampir setengah dari investor (46%) yang berusia 18-37 tahun, sekarang akan menyimpan dananya untuk diinvestasikan lebih banyak setelah pembatasan sosial dicabut.

Kepercayaan investor telah melonjak ke level tertinggi sejak studi dimulai pada tahun 2016, dengan ekspektasi pengembalian tahunan rata-rata selama 5 tahun ke depan diperkirakan sebesar 11,3%, meningkat dari prediksi tahun lalu yang sebesar 10,9%.


"Pandemi telah mengubah perilaku investor secara global, termasuk Indonesia. Kami melihat pandemi ini akan memberikan perubahan jangka panjang pada cara masyarakat mengelola keuangan dan investasinya," kata Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia (Schroders), Michael Tjoajadi, di acara Media Gathering bertajuk Bagaimana Pandemi Mengubah Perilaku Investor Indonesia secara virtual, Kamis (2/9/2021).

Namun, terlepas dari tantangan pandemi, kata Michael, prospek investasi di Indonesia masih positif dalam jangka panjang terhadap pasar Indonesia didukung oleh reformasi yang sedang berlangsung, valuasi yang menarik, dan kebangkitan new economy.

Riset tersebut juga menjelaskan, lebih dari sepertiga (38%) investor di Eropa telah menabung lebih dari yang direncanakan, diikuti oleh investor di Asia (28%) dan Amerika (27%).

Dari investor yang tidak dapat menabung sebanyak yang direncanakan, 45% orang secara global menyebutkan pengurangan gaji/pendapatan kerja sebagai alasan utama, yang mencerminkan tantangan besar yang disebabkan oleh pandemi.

Musababnya, hal ini didorong oleh penurunan pengeluaran untuk hal-hal yang tidak penting seperti makan di luar, bepergian dan bersantai.

Sedangkan, lebih dari sepertiga investor di Eropa telah menyisihkan lebih dari yang mereka rencanakan, diikuti oleh investor di Asia (28%) dan Amerika (27%).

Dari investor yang tidak dapat menyimpan sebanyak yang mereka rencanakan, (45%) orang secara global menyebut berkurangnya gaji atau pendapatan dari pekerjaan sebagai alasan utama, yang mencerminkan tantangan besar yang disebabkan oleh pandemi.

Adapun dari sisi imbal hasil investor di AS mengharapkan pengembalian tahunan sebesar 12,5% selama lima tahun ke depan, diikuti oleh Asia 12,3% yang cenderung lebih berhati-hati dan investor di Eropa dengan ekspektasi 9,7%.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading