InvesTime

Sebelum Beli Saham Emiten Rights Issue, Cek Poin Penting Ini!

Investment - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
14 July 2021 14:35
Paparan Publik PT Pollux Properti Indonesia Tbk, BEI, 5 September 2019/Foto: Pollux

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa emiten di pasar modal menerbitkan saham baru melalui skema rights issue atau memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu bagi pemegang saham lama untuk menebus saham baru tersebut pada harga tertentu yang biasanya lebih rendah dari harga pasar.

Nah, sebelum membeli saham emiten yang menggelar rights issue ada hal penting yang perlu diperhatikan oleh investor.

Indra Then, analis Investment Banking dari PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) mengatakan investor perlu tahu terlebih dahulu sebelum membeli dengan melihat penggunaan dana dari rights issue tersebut. Akan digunakan untuk apa saja dana yang akan diraih emiten, apakah untuk utang atau ekspansi.


"Terkait harga rights issue dikembalikan ke emiten, penggunaan dana mau seperti apa," paparnya dalam program InvesTime CNBC Indonesia, Selasa malam, (13/07//2021).

Dia mencermati, beberapa pemanfaatan dana dari rights issue emiten misalnya untuk membayar kewajiban jangka pendek yakni membayar utang. Bisa juga dana rights issue digunakan untuk melakukan akuisisi perusahaan.

"Misal likuiditas lagi ketat, untuk penuhi kewajiban jangka pendek bayar utang, akuisisi perusahaan, dan ada lagi untuk ekspansi modal kerja," jelasnya.

Dengan begitu, agar tidak boncos saat membeli saham rights issue, dia menyarankan agar investor mengikuti dari proses dari rights issue. Karena akan banyak informasi mengenai rights issue suatu emiten jika mengikuti prosesnya. Proses dalam arti periode rights issue, jadwal RUPST, dan agenda-agenda lain, serta melihat kembali prospektus emiten.

"Pertama perusahaan pasti RUPS, minta persetujuan pemilik saham adakan dari rights issue kita akan dapat info, biasanya ada agenda penggunaan untuk apa dapat, dapat kisi-kisi kita bisa asumsi," paparnya.

Menurutnya, sampai rencana rights issue mendapatkan persetujuan RUPST, perusahaan akan membuat prospek bisnis yang tercantum dalam prospektus awal, berapa banyak saham yang akan diterbitkan, kapan akan diterbitkan, harga rights issue apakah lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar.

"Saham itu akan naik dan turun ikuti teoritis ini akan jadi acuan trader, bagi investor lihat prospektus dan penggunaan dana," paparnya.

Soal harga saham, imbuhnya, tidak ada aturan khusus, semua dikembalikan pada emiten yang akan melakukan rights issue, kebutuhan dananya seperti apa.

"Jumlah yang diterbitkan berapa besar nah ini yang akan pengaruhi harga right issue dan gak ada aturan yang atur right issue ini," ungkapnya.

Rights issue adalah mekanisme penambahan modal dengan memberikan hak kepada investor lama untuk menyerap saham baru.

Ini berbeda dengan skema private placement di mana investor lama tak diberi hak menyerap saham baru tetap langsung diserap pembeli siaga sebagai investor baru dan porsi saham investor lama langsung terdilusi.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading