Jadi 'Trader' Bukan Cara Baik Investasi Saham, Kenapa?

Investment - chd, CNBC Indonesia
30 November 2020 09:51
Warga mempelajari platform investasi di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada tahun ini, pasar saham Indonesia terdampak dari pandemi Covid-19 di AS. Pada Maret lalu saja, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke level terendahnya di kisaran 3.900.

Dari posisi rendah tersebut membuat minat investor kian bertambah, menyebabkan investor pemula yang tadinya tidak 'mau' tahu tentang saham atau instrumen berisiko lainnya mendadak ingin tahu.

Posisi IHSG terendah saat itu, otomatis harga-harga saham di periode tersebut sudah kelewat murah, karena harga sahamnya sendiri anjlok akibat pandemi. Hal itu dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan trading saham-saham 'mumpung' murah, termasuk investor pemula.


Sebanyak 51% investor di dunia yang berusia dibawah 34 tahun pun mulai banyak memulai trading saham sejak pandemi menyerang dunia.

Namun, karena di periode Maret hingga Mei investor menilai arah pemulihan corona masih belum jelas, maka mereka masih cenderung melakukan trading jangka pendek, utamanya trading harian hingga mingguan.

Namun yang perlu diwaspadai, terutama bagi investor pemula, dalam trading harian, tidak selalu berhasil mendapatkan return positif, apalagi di saat pandemi.

"Banyak investor pemula yang tidak tahu bahwa trading harian itu tidak selamanya menghasilkan return positif, suatu saat akan terjadi di mana mereka banyak yang melakukan cut loss, karena mereka tidak sabar dan ingin cepat-cepat melepas sahamnya, karena sahamnya sendiri turun-turun terus", ujar Erick Roberge, Founder dari Beyond Your Hammock, Boston, dikutip dari CNBC International

Namun, bagaimanakah caranya agar anda tidak seperti itu

1. Tanyakan kepada diri anda, mengapa saya melakukan hal ini

Dalam hal melakukan investasi, baik melalui penasihat keuangan, platform online trading, atau bahkan aplikasi yang memungkinkan Anda memilih investasi Anda sendiri, selalu mulai dengan bertanya pada diri sendiri mengapa Anda melakukannya. Untuk apa Anda berinvestasi? Apakah ini untuk keamanan finansial jangka panjang? Atau apakah anda trading untuk hanya mengisi waktu senggang?

Bagaimanapun cara menyikapi pertanyaan di atas, hal tersebut dapat menentukan arah strategi investasi anda. Jika anda mencari aman, buy atau sell suatu saham dengan waktu atau posisi yang pas bukanlah solusi yang tepat.

"Orang lagi banyak-banyaknya berinvestasi di saham karena saat itu memang harga saham sedang murah-murahnya, akibat harganya turun pada periode Maret hingga sekitar Juli-Agustus", seru Roberge.

"Kemudian Oktober, orang-orang yang sabar, hingga menjual sahamnya di bulan-bulan sekarang mungkin keuntungannya lebih besar ketimbang mereka-mereka yang tidak sabar, menjual sahamnya duluan di periode April hingga Agustus".

Trading jangka pendek memerlukan faktor keberuntungan, sedangkan trading jangka panjang tidak memerlukan faktor tersebut, hanya faktor kesabaran yang dapat membuahkan hasil yang lebih pasti.

Dari sekian banyaknya investor pemula, tak sedikit yang terjebak 'faktor keberuntungan', sehingga banyak dari mereka beranggapan bahwa jika trading jangka pendek tidak menghasilkan keuntungan, mereka berkomentar 'belum rejekinya'.

Jadi bisa dibilang, investasi di saham itu harus sabar, jangan 'grasak-grusuk', jangan jika harga sahamnya naik seketika atau berhasil menyentuh target price (TP) awalnya, langsung dijual, padahal bisa jadi dari TP awalnya tersebut, suatu saat bisa membentuk TP kedua, ketiga bahkan kesekian kalinya jika kita sabar.

Trading jangka pendek membutuhkan faktor 'bejo', di mana faktor tersebut disetiap orang berbeda-beda, jika anda investor pemula, sekaligus investor dengan jenis 'risk-averse' atau investor yang tidak berani mengambil risiko besar, sebaiknya anda mengambil trading jangka panjang.

2. Lakukan Diversifkasi

Anda ingin lebih aman dalam berinvestasi? Selain trading jangka panjang, hal lainnya yang patut anda perhatikan adalah bagaimanakah manajemen investasi anda?, apakah sudah anda atur sedemikian rupa portofolio investasi anda?

Pada akhirnya, Anda ingin memastikan bahwa Anda memiliki campuran investasi yang baik dalam portofolio anda. Hal mendasar adalah anda tidak ingin semua uang anda diinvestasikan di tempat yang sama.

Cara agar portofolio investasi anda tersusun rapi adalah jika anda investasi di saham, sebaiknya investasi jangan di satu perusahaan, tak perlu membeli banyak lot, 1 lot saham saja sudah cukup apabila 1 lot saham tersebut membutuhkan dana yang lebih banyak sedikit.

Misalkan harga saham tersebut Rp 1.000, maka anda harus menyiapkan dana Rp 100.000, jika anda mempunyai dana Rp 500.000, maka anda jangan investasikan semua dananya ke satu saham tersebut, melainkan dibagi dua saham yang berbeda.

Jika ingin aman lagi, usahakan kedua saham tersebut adalah saham di sektor yang berbeda, misalkan anda membagi saham A dan B, jika saham A berada di sektor properti, maka saham B jangan di sektor yang sama, carilah saham di sektor yang arahnya cenderung berbanding terbalik dengan sektor keuangan, misalkan di sektor barang konsumsi, atau lainnya.

Itulah mengapa trading jangka pendek (harian) tidak disarankan bagi investor pemula, karena jika ingin mendapatkan return dari trading secara harian, butuh skill khusus dan tentunya faktor 'bejo' yang kuat.

Jika anda investor pemula yang juga investor tipe risk averse, maka sebaiknya melakukan trading jangka panjang. Namun jika anda tipe investor yang risk taker, mungkin tidak apa-apa untuk dicoba trading hariannya, tetapi keputusan investasi, anda sendiri yang menentukan.


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading