Perhatian! Ini Dia 4 Saham Pilihan Bisa Beri Cuan di Atas 20%

Investment - Tri Putra, CNBC Indonesia
26 November 2020 13:34
RUPS PT Indika Energy Tbk  (CNBC Indonesia/Anastasia Arvirianty)

Batu Bara memang saat ini menjadi komoditas kesayangan pasar, bagaimana tidak harga batu bara acuan Newcastle terus melesat ke level tertingginya selama 7 bulan terakhir pasca diserang virus corona.

Harga kontrak batu bara termal Newcastle masih tren naik sejak pertengahan Oktober lalu. Kini harga batu legam termal Newcastle berjangka itu sudah tembus ke level US$ 68,9/ton. Ini merupakan level tertinggi sejak 30 Maret, bahkanb harga saat ini sudah mendekati harga batu bara pada awal tahun.

Tentunya melesatnya harga batu bara tidak lepas dari sentimen global kesuksesan vaksin Covid-19, dengan berputarnya kembali ekonomi apabila nantinya vaksin sudah di-deploy, maka tentunya harga batu bara akan kembali pulih karena permintaanya yang kembali melesat setelah sektor manufaktur kembali berputar mengikuti roda perekonomian yang mulai kembali normal.


Selanjutnya sentimen positif untuk sektor pertambangan terutama pertambangan batu legam adalah kabar bahwa Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Mineral dan Batu Bara (Minerba) akan diundangkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) paling lambat bulan depan bahkan bisa jadi akan diundangkan akhir bulan ini.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan saat ini Rancangan Peraturan Pemerintah tersebut masih dalam proses harmonisasi antar kementerian. Ditargetkan, RPP Minerba ini bisa disahkan dan diundangkan pada November-Desember ini.

"Ini sudah selesai dalam tahap harmonisasi ya, jadi mungkin sebentar lagi (terbit)," ungkapnya dalam sebuah diskusi bertema 'Prospek Sektor Tambang di tengah Ketidakpastian Ekonomi Global' secara virtual, Selasa (10/11/2020).

Sedangkan sentimen untuk INDY secara khusus datang dari, anak usaha INDY yang menjadi anggota konsorsium proyek operator pelabuhan Patimban yang menjadi satu-satunya konsorsium yang lolos tahap pra-kualifikasi.

Perusahaan tersebut adalah Konsorsium Patimban yang terdiri dari PT CTCorp Infrastruktur Indonesia, PT Indika Logistic & Support Services, PT U Connectivity Services, dan PT Terminal Petikemas Surabaya.

Secara fundamental, sejatinya harga INDY memang masih tergolong amat murah. Bayangkan saja, perseroan memiliki kas dan setara kas per saham sebesar 0,0938 US$ atau setara dengan Rp 1.332 per saham (Kurs Rp 14.200/US$).

Hal ini tentu sangat menarik karena harga penutupan INDY kemarin hanya sebesar Rp 1465/unit yang menunjukkan bahwa harga pasar INDY saat ini hanya 'menghargai' uang kas dan setara kas perusahaan tanpa menghargai aset perusahaan lain.

Sejatinya perusahaan pada tahun 2020 masih merugi dampak dari harga batu bara yang sempat merosot sehingga metode valuasi PER tidak dapat dilakukan begitupula dengan mayoritas perusahaan pertambangan batu bara yang masih membukukan rugi.

Sedangkan valuasi harga di banding nilai buku PBV berada di angka 0,68 kali jauh berada di bawah rata-rata industri di angka 1 kali.

Selain itu PBV INDY juga masih berada di bawah rata-rata PBV-nya selama 3 tahun terakhir yang berada di angka 0,80 kali yang menunjukkan potensi kenaikan sebesar 17,64% apabila harga INDY kembali ke level rata-rata PBVnya selama 3 tahun terakhir.


Analisis Teknikal

Grafik TeknikalFoto: Tri Putra/CNBC Indonesia
Grafik Teknikal


Pergerakan INDY dengan menggunakan periode harian (daily) dari indikator Boillinger Band (BB) melalui metode area batas atas (resistance) dan batas bawah (support). Saat ini, INDY berada di area batas atas dengan BB yang kembali melebar yang menunjukkan pergerakan INDY masih akan volatil.
Untuk mengubah bias menjadi bullish atau penguatan, perlu melewati level resistance yang berada di area 1.560 apabila konsisten menembus level ini maka harga saham INDY berpotensi kembali menguat ke level 1.600.

Sementara itu untuk melanjutkan tren bearish atau penurunan perlu melewati level support yang berada di area 1.350 apabila level ini berhasil ditembus INDY berpotensi kembali anjlok ke level 1.200.

Indikator Relative Strength Index (RSI) sebagai indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu dan berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20.

Saat ini RSI berada di area 88 yang menunjukkan adanya indikator jenuh beli serta yang biasanya menandakan pergerakan INDY selanjutnya akan cenderung terdepresiasi akan tetapi apabila momentum sedang kuat, RSI biasanya dapat bertahan di area jenuh beli dalam waktu yang lama.

Kuatnya momentum sendiri ditunjukkan oleh indikator Moving Average Convergen Divergen (MACD) yang menggunakan pergerakan rata-rata untuk menentukan momentum, dengan indikator MACD di wilayah positif, yang menunjukkan momentum INDY sedang kuat.

Meskipun demikian muncul candlestick shooting star pada tren kenaikan INDY sehingga biasanya menujukkan akan adanya pembalikan arah alias reversal yang menandakan INDY akan terkoreksi.

INDY perlu melewati (break) salah satu level resistance atau support, untuk melihat arah pergerakan selanjutnya.

Sektor Agrikultur - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4 5
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading